This study aims to develop the Integrated Marriage Administration Service Model (IMASM) as a conceptual framework for explaining the determinants of marriage administrative service quality at the local government level. A qualitative case study approach was employed in Purwodadi Village using in-depth interviews, observations, and document analysis. The data were analyzed thematically by integrating the perspectives of New Public Service, Administrative Capacity, Digital Government, and Collaborative Governance. The findings indicate that the quality of marriage administrative services is determined not only by compliance with public service standards but also by organizational administrative capacity, digital readiness, and effective inter-agency coordination. Based on theoretical synthesis and empirical findings, this study proposes the Integrated Marriage Administration Service Model (IMASM), which explains the systemic relationships among public service standards, administrative capacity, digital readiness, inter-agency coordination, service quality, citizen satisfaction, public trust, and good local governance. The proposed model contributes to the public administration literature by integrating multiple theoretical perspectives into a comprehensive analytical framework while offering practical guidance for reforming marriage administrative services at the local government level. Future research is recommended to empirically validate the proposed relationships using quantitative research methods.Penelitian ini bertujuan mengembangkan Integrated Marriage Administration Service Model (IMASM) sebagai kerangka konseptual untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan administrasi pernikahan pada tingkat pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dilaksanakan di Kelurahan Purwodadi melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Data dianalisis secara tematik dengan mengintegrasikan perspektif New Public Service, Administrative Capacity, Digital Government, dan Collaborative Governance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan administrasi pernikahan tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan terhadap standar pelayanan publik, tetapi juga dipengaruhi oleh kapasitas administratif organisasi, kesiapan transformasi digital, dan efektivitas koordinasi antarlembaga. Berdasarkan sintesis teori dan temuan empiris, penelitian ini mengembangkan Integrated Marriage Administration Service Model (IMASM) yang menjelaskan hubungan sistemik antara standar pelayanan publik, kapasitas administratif, kesiapan digital, koordinasi antarlembaga, kualitas pelayanan, kepuasan masyarakat, kepercayaan publik, dan good local governance. Model yang diusulkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu administrasi publik melalui integrasi berbagai perspektif teoretis ke dalam kerangka analitis yang komprehensif sekaligus menawarkan panduan praktis bagi reformasi pelayanan administrasi pernikahan di tingkat pemerintah daerah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji secara empiris hubungan antarvariabel yang diusulkan melalui pendekatan penelitian kuantitatif.