Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Cost Effectiveness Program Promosi Kesehatan Dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular Warda M Warda M; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1421

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan kasus PTM menyebabkan beban pembiayaan kesehatan yang semakin besar. Program promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku hidup sehat, serta menurunkan faktor risiko PTM. Selain efektivitas program, aspek efisiensi biaya juga perlu dievaluasi melalui analisis Cost Effectiveness Analysis (CEA) untuk memastikan bahwa sumber daya kesehatan digunakan secara optimal. Tujuan: Menganalisis cost effectiveness program promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit tidak menular. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan metode Cost Effectiveness Analysis. Data diperoleh dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Aek Parombunan selama Januari–Maret 2026. Efektivitas program diukur berdasarkan perubahan proporsi masyarakat yang menerapkan perilaku hidup sehat setelah intervensi, sedangkan biaya dihitung dari perspektif penyelenggara program. Analisis dilakukan dengan menghitung Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Total biaya program promosi kesehatan sebesar Rp45.000.000, dengan peningkatan perilaku hidup sehat sebesar 30% setelah intervensi. Nilai ACER diperoleh sebesar Rp1.500.000 per peningkatan 1% perilaku hidup sehat. Perbandingan dengan program konvensional menghasilkan nilai ICER sebesar Rp500.000 per tambahan peningkatan 1% efektivitas, yang menunjukkan bahwa program promosi kesehatan memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Kesimpulan: Program promosi kesehatan merupakan intervensi yang cost-effective dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan layak dipertimbangkan sebagai strategi prioritas dalam pelayanan kesehatan primer.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Sakit Kepala Melalui Edukasi Manajemen Stres Dan Gaya Hidup Sehat Warda M Warda M; Andi Agustang
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1449

Abstract

Latar Belakang: Sakit kepala merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat dan dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas kerja, serta aktivitas sehari-hari. Sebagian besar kasus sakit kepala primer, seperti tension-type headache dan migrain, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikasi, antara lain stres, kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, dehidrasi, kurang aktivitas fisik, serta postur tubuh yang buruk. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko dan strategi pencegahan menyebabkan kejadian sakit kepala berulang masih cukup tinggi. Edukasi kesehatan yang dikombinasikan dengan pelatihan manajemen stres dan penerapan gaya hidup sehat merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mencegah kekambuhan sakit kepala. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor pencetus sakit kepala, manajemen stres, pola hidup sehat, teknik relaksasi, serta kemampuan menerapkan upaya pencegahan secara mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–60 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, latihan peregangan leher dan bahu, simulasi penyusunan gaya hidup sehat, pembagian booklet, post-test, serta evaluasi kepuasan peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum edukasi menjadi 92,5 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor pencetus sakit kepala, 94,0% memahami teknik manajemen stres, 92,0% mampu mempraktikkan teknik relaksasi, 90,0% berkomitmen menerapkan gaya hidup sehat, dan 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi mengenai manajemen stres dan gaya hidup sehat efektif meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mencegah sakit kepala. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mendukung peningkatan kualitas hidup dan produktivitas.