Stunting merupakan masalah gizi kronis yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Prevalensi stunting di Indonesia tahun 2024 adalah 21,5% dan ini belum mencapai target nasional 14% (SKI, 2023). Prevalensi stunting di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu sebesar 0,44% pada tahun 2024 dan angka ini jauh berbeda dibandingkan prevalensi stunting nasional. Pengukuran antropometri digunakan untuk mendeteksi stunting. Ketidakterampilan kader Posyandu dalam melakukan pengukuran antropometri dapat menyebabkan kesalahan klasifikasi status gizi anak. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penyuluhan media video terhadap keterampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Desain penelitian adalah kuantitatif menggunakan metode pre-experiment dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel berjumlah 31 kader yang dipilih secara random sampling. Intervensi berupa penyuluhan menggunakan media video berdurasi 25 menit. Data dikumpulkan menggunakan daftar tilik dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian didapatkan peningkatann keterampilan kader dalam pengukuran antropometri dengan mean keterampilan sebelum yaitu (60,13) dan sesudah (81,97) dengan beda mean (21,84) dan p-value = 0,0001, yang berati ada pengaruh penyuluhan media video terhadap keteampilan kader dalam pengukuran antropometri di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Penyuluhan dengan menggunakan media video terbukti efektif meningkatkan keterampilan kader Posyandu dalam melakukan pengukuran antropometri. Media ini dapat digunakan sebagai sarana edukatif yang efisien dan mudah diakses oleh kader Posyandu. Kata Kunci: antropometri,kader, keterampilan, media video, posyandu