Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan salah satu komoditas unggulan budidaya ikan air tawar di Provinsi Riau yang terus mengalami peningkatan produksi dan permintaan. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan pakan dalam kegiatan budidaya semakin meningkat, sehingga berdampak pada tingginya biaya produksi, mengingat pakan menyumbang sekitar 60–70% dari total biaya dan masih bergantung pada tepung kedelai impor yang harganya relatif mahal serta ketersediaannya terbatas. Oleh karena itu, diperlukan bahan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal yang lebih ekonomis. Biji ketapang (Terminalia catappa) memiliki kandungan protein cukup tinggi, namun mengandung serat kasar dan senyawa antinutrisi yang dapat menurunkan kecernaan. Fermentasi menggunakan EM-4 dapat meningkatkan kualitas nutrisi dan kecernaan bahan. Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 di Laboratorium Nutrisi Ikan dan waduk Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah pakan tanpa tepung biji ketapang terfermentasi (P0) dan pakan mengandung tepung biji ketapang terfermentasi yaitu sebanyak 30%, 40%, 50%, dan 60% (P1, P2, P3, P4). Benih ikan yang digunakan adalah benih ikan patin siam dengan bobot 2,41g ± 0,26g dipelihara selama 56 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung kedelai dengan tepung biji ketapang terfermentasi sebanyak 50% memberikan hasil terbaik terhadap kecernaan pakan 61,83%, kecernaan protein 83,23%, efisiensi pakan 44,45%, retensi protein 30,12%, laju pertumbuhan spesifik 4,08% per hari, dan kelulushidupan 97,3–100%. Kualitas air selama penelitian berada pada kisaran optimal untuk pertumbuhan ikan patin siam yaitu berkisar suhu 27,2 – 29oC, pH 6,6 – 7,1 dan oksigen terlarut 5,3 – 6,2 mg/L.