Penelitian ini mengkaji bagaimana perjumpaan, konflik, dan koeksistensi budaya dibangun secara diskursif dalam film-film diaspora Asia Selatan - East Is East (1999), The Namesake (2006), dan Lion (2016). Dengan menggunakan desain analisis wacana kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan Linguistik Fungsional (SFL) Sistemik dengan dimensi budaya Hofstede dan teori manajemen konflik. Temuan menunjukkan perkembangan yang bermakna: East Is East menggambarkan kolektivisme koersif yang menghasilkan kebuntuan yang tidak nyaman; The Namesake menunjukkan penghindaran yang berkembang menjadi integrasi melalui kesedihan; dan Lion mencapai kepemilikan ganda melalui akomodasi tanpa syarat. Analisis transitivitas (SFL) mengungkapkan pergeseran yang bersesuaian dari proses material yang bersifat kewajiban ke proses mental yang bersifat pengakuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa koeksistensi muncul sebagai spektrum dari kebuntuan yang dipaksakan, melalui hibriditas yang dinegosiasikan, hingga kepemilikan ganda yang dipilih secara bebas. Narasi film membangun wacana-wacana yang berbeda tentang negosiasi perbedaan budaya. Penelitian mendatang diharapkan memperluas korpus ke konteks diaspora lainnya dan mengkaji narasi digital, atau menggunakan software seperti NVIVO atau ATLASTI. This study investigates how cultural encounter, conflict, and coexistence are discursively constructed in South Asian diaspora films - East Is East (1999), The Namesake (2006), and Lion (2016). Employing a qualitative discourse-analytic design, the research integrates Systemic Functional Linguistics with Hofstede's cultural dimensions and conflict management theory. The findings reveal a meaningful progression: East Is East depicts coercive collectivism producing uneasy stalemate; The Namesake shows avoidance evolving into integration through grief; and Lion achieves dual belonging through unconditional accommodation. Transitivity analysis reveals corresponding shifts from material processes of obligation to mental processes of recognition. The study concludes that coexistence emerges as a spectrum from coerced stalemate through negotiated hybridity to freely chosen dual belonging. Film narratives construct distinct discourses about negotiating cultural differences. Future research should extend the corpus to other diaspora contexts and examine digital narratives, or adopting softwares such as NVIVO and ATLASTI.