Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Harry potter and the prisoner of azkaban: The signs analysis of its cover Debiga Fikky Abdullah; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
English Teaching Journal : A Journal of English Literature, Language and Education Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447 KB) | DOI: 10.25273/etj.v6i1.4452

Abstract

This research is conducted to explain the implementation, the problems, and the solutions of problems in the Implementation of Sandwich Graphic Organizer in Teaching Writing to the Tenth Grade Students of SMAN 1 Jiwan in the schooling year of 2016/2017. This research uses descriptive qualitative research. The participants of the research are the English teacher and students of X-A class of SMAN 1 Jiwan. The research uses purposive sampling technique. The techniques which are used to collect the data are observation, interview, and documentation. While, the techniques of the data analysis are: data condensation, data display, and conclusion and verification. The results of this research are the teacher prepares syllabus, RPP, and the papers of picture Sandwich Graphic Organizer. The steps are pre-activities, whilst-activities, and post-activities. Otherwise, some students get difficulties in managing their time, some students make mistakes in using V2 that is used in writing recount text, some students get difficulties in expressing their ideas from Indonesian to the English language because of minimum of vocabulary, and some students forget to write a capital letter in the beginning of the sentence and full stop in the ending of the sentence. Then, the solutions of problems in the implementation Sandwich Graphic Organizer are: the teacher explains again about the steps of using technique Sandwich Graphic Organizer, the teacher divides the time of the students when the students should write the outline and when the students should develop their outline, the teacher gives the command for the students to open their dictionary to check the list of verb 2, the teacher asks the students to open their dictionaries when they are difficult in translating their ideas, and the teacher asks the students to pay attention to the punctuation when writing.
Rab Ne Bana Di Jodi and A Little Things Called Love in Kristeva’s Intertextuality Kudsiyah Kudsiyah; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
English Teaching Journal : A Journal of English Literature, Language and Education Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.919 KB) | DOI: 10.25273/etj.v5i1.4725

Abstract

The aim of this research is analyzing the phenotext, the genotext and finding the reason the symbol of culture which significance in modern era. Theory of intertextuality and semiotic are displayed to help this research. Phenotext and genotex are the part of intertextuality used in this research. Phenotext is a pattern which can be linked to the communication from subject to addressee. To find the data the researcher needs to choose what kinds of utterances in verbal form from the scene of both movies. The utterances can be find how the main character (subject) is faced with their pairs (addressee). In genotext, genotext is in a text points out the transfer from drive energy (body movement) includes the intonation or rhythm. The researcher can find how the main character articulates the structure which correlates with the physic structure such as body movement that belongs to symbolization of feeling expression and act. The data is taken from the scenes of Rab Ne Bana Di Jodi and A Little Things Called Love movies. The instrument of data is documentation The results of the study; in phenotext there are some dialogues used by the main character in verbal form, in genotext there are some visuals formula romance of in expressing the feeling with physic structure of both movies, and symbol of culture used by the main characters becomes the way of western for changing the mindset of Asian to follow their culture.
Warung bangga kencana: Gagasan KKN-T BKKBN kelompok 58 sebagai upaya pemenuhan gizi untuk pencegahan dan asupan penderita stunting Annisa Maulidina; Ari Nushafaturrohman; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
Abdimas Siliwangi Vol 6, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : IKIP SILIWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/as.v6i2.17074

Abstract

BKKBN merupakan salah satu lembaga yang menaungi pada bidang penyelenggaraan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Stunting secara umum dapat diartikan sebagai tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan usia pada umumnya. Faktor balita stunting juga dapat dipengaruhi saat mulai kehamilan seorang ibu yang terkategori gizi buruk. Hal tersebut perlu adanya unsur 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Program Warung Bangga Kencana memiliki manfaat bagi masyarakat khususnya desa Dawuhan pada pemanfaatan lahan pekarangan yang dapat ditanami tumbuhan dan kami juga membuatkan kolam lele sebagai penunjang kebutuhan gizi bagi masyarakat setempat. Pengabdian kepada masyarakat ini memiliki tujuan yaitu upaya memberikan wawasan kepada masyarakat dalam menanam dengan menggunakan aquaponik dan budidaya ikan lele. Metode yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diantaranya pelatihan, diskusi dan tanya jawab. Berdasarkan interview, memperoleh hasil bahwa masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan yang berkaitan dengan aquaponik dan meminimalisir penderita stunting. Kata Kunci : BKKBN, Warung Bangga Kencana, Balita Stunting
Warung bangga kencana: Gagasan KKN-T BKKBN kelompok 58 sebagai upaya pemenuhan gizi untuk pencegahan dan asupan penderita stunting Annisa Maulidina; Ari Nushafaturrohman; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
Abdimas Siliwangi Vol. 6 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : IKIP SILIWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/as.v6i2.17074

Abstract

BKKBN merupakan salah satu lembaga yang menaungi pada bidang penyelenggaraan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Stunting secara umum dapat diartikan sebagai tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan usia pada umumnya. Faktor balita stunting juga dapat dipengaruhi saat mulai kehamilan seorang ibu yang terkategori gizi buruk. Hal tersebut perlu adanya unsur 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Program Warung Bangga Kencana memiliki manfaat bagi masyarakat khususnya desa Dawuhan pada pemanfaatan lahan pekarangan yang dapat ditanami tumbuhan dan kami juga membuatkan kolam lele sebagai penunjang kebutuhan gizi bagi masyarakat setempat. Pengabdian kepada masyarakat ini memiliki tujuan yaitu upaya memberikan wawasan kepada masyarakat dalam menanam dengan menggunakan aquaponik dan budidaya ikan lele. Metode yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diantaranya pelatihan, diskusi dan tanya jawab. Berdasarkan interview, memperoleh hasil bahwa masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan yang berkaitan dengan aquaponik dan meminimalisir penderita stunting. Kata Kunci : BKKBN, Warung Bangga Kencana, Balita Stunting
An Analysis Type Of Taboo Word Among The Blood Cult In The Babysitter II Movie Wahyu Prihatini; Rosita Ambarwati; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA) Vol 1 (2022)
Publisher : SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata tabu berarti kata kotor. Film Babysitter II adalah film berkomedi horor. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mencegah jenis kata tabu yang diucapkan oleh karakter dalam film. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif karena datanya berupa kata-kata. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan proses analisis data “Flow Model”. Data tersebut berupa ujaran-ujaran yang diucapkan oleh para tokoh dalam film The Babysitter II. Hasil dari penelitian ini adalah jenis-jenis kata tabu yang muncul dalam tutur kata para tokoh dalam film The Babysitter II. Ada Cabul, Tidak Senonoh, Vulgarity, Epithet, Blasphemy, Curse, Slang, Insult and Slur, dan Scatology.Dari 118 data yang ditemukan dalam film, epithet memiliki proporsi tertinggi dan persentase paling sedikit dari kata-kata tabu adalah kutukan.
Pelatihan Public Speaking Ormawa 2023 Universitas PGRI Madiun Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi
Buletin Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/bppm.v2i1.17461

Abstract

Nama kegiatan ini adalah Training Organization (TO). TO ditujukan untuk memberi wawasan dan informasi penting terkait keorganisasian. Wawasan dan informasi tersebut meliputi menggagas sasaran program kerja (prestasi, soft skill, dan promosi), tata letak dan waktu mengajukan proposal dan Laporan Pertanggung Jawaban, dan membawakan acara
THE THE DISCOURSE OF CULTURAL ENCOUNTERS, CONFLICTS, AND COEXISTENCE: A COMPARATIVE SYSTEMIC FUNCTIONAL ANALYSIS OF SOUTH ASIAN DIASPORA FILM NARRATIVES Sigit Ricahyono; Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi; Pinandhita Sih Gita Magna Manggala
Refleksi: Jurnal Riset dan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/refleksi.v4i2.25382

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana perjumpaan, konflik, dan koeksistensi budaya dibangun secara diskursif dalam film-film diaspora Asia Selatan - East Is East (1999), The Namesake (2006), dan Lion (2016). Dengan menggunakan desain analisis wacana kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan Linguistik Fungsional (SFL) Sistemik dengan dimensi budaya Hofstede dan teori manajemen konflik. Temuan menunjukkan perkembangan yang bermakna: East Is East menggambarkan kolektivisme koersif yang menghasilkan kebuntuan yang tidak nyaman; The Namesake menunjukkan penghindaran yang berkembang menjadi integrasi melalui kesedihan; dan Lion mencapai kepemilikan ganda melalui akomodasi tanpa syarat. Analisis transitivitas (SFL) mengungkapkan pergeseran yang bersesuaian dari proses material yang bersifat kewajiban ke proses mental yang bersifat pengakuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa koeksistensi muncul sebagai spektrum dari kebuntuan yang dipaksakan, melalui hibriditas yang dinegosiasikan, hingga kepemilikan ganda yang dipilih secara bebas. Narasi film membangun wacana-wacana yang berbeda tentang negosiasi perbedaan budaya. Penelitian mendatang diharapkan memperluas korpus ke konteks diaspora lainnya dan mengkaji narasi digital, atau menggunakan software seperti NVIVO atau ATLASTI.   This study investigates how cultural encounter, conflict, and coexistence are discursively constructed in South Asian diaspora films - East Is East (1999), The Namesake (2006), and Lion (2016). Employing a qualitative discourse-analytic design, the research integrates Systemic Functional Linguistics with Hofstede's cultural dimensions and conflict management theory. The findings reveal a meaningful progression: East Is East depicts coercive collectivism producing uneasy stalemate; The Namesake shows avoidance evolving into integration through grief; and Lion achieves dual belonging through unconditional accommodation. Transitivity analysis reveals corresponding shifts from material processes of obligation to mental processes of recognition. The study concludes that coexistence emerges as a spectrum from coerced stalemate through negotiated hybridity to freely chosen dual belonging. Film narratives construct distinct discourses about negotiating cultural differences. Future research should extend the corpus to other diaspora contexts and examine digital narratives, or adopting softwares such as NVIVO and ATLASTI.