Pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai pelabuhan alternatif bertujuan meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, evaluasi alternatif pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh efisiensi distribusi hinterland, tetapi juga perlu mempertimbangkan karakteristik operasional pelabuhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi Pelabuhan Patimban sebagai alternatif pelabuhan ekspor bagi kawasan industri di Kawasan Rebana Metropolitan melalui analisis efisiensi distribusi hinterland dan karakteristik operasional pelabuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif komparatif berdasarkan data sekunder. Efisiensi distribusi dianalisis menggunakan indikator jarak tempuh, waktu tempuh, dan biaya operasional langsung pada 14 perusahaan dan kawasan industri di Kawasan Rebana Metropolitan. Karakteristik operasional pelabuhan dianalisis berdasarkan kapasitas terminal peti kemas, frekuensi layanan kapal (ship calls), dan cakupan rute pelayaran internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelabuhan Patimban memiliki efisiensi distribusi hinterland yang lebih baik dengan rata-rata jarak tempuh 71,79 km, waktu tempuh 1 jam 34 menit, dan biaya operasional langsung Rp1.755.534, lebih rendah dibandingkan Pelabuhan Tanjung Priok. Sebaliknya, Pelabuhan Tanjung Priok masih unggul dalam hal kapasitas terminal, frekuensi kunjungan kapal, dan konektivitas pelayaran internasional. Integrasi kedua aspek menunjukkan bahwa Pelabuhan Patimban dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pelabuhan ekspor bagi Kawasan Rebana Metropolitan karena mampu meningkatkan efisiensi distribusi darat, sementara Pelabuhan Tanjung Priok tetap memiliki peran strategis sebagai pelabuhan utama dengan kemampuan operasional yang lebih matang. Penelitian ini memberikan kerangka evaluasi yang mengintegrasikan efisiensi distribusi hinterland dan karakteristik operasional pelabuhan sebagai dasar penilaian alternatif pelabuhan ekspor.