Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Keterbatasan Indikator LPI dalam Menilai Kinerja Logistik Negara Kepulauan: (Studi Kasus: Indonesia dan Filipina) Syafina Putri Teyansyah; Enda Permana; Wiku Larutama
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1857

Abstract

Negara kepulauan seperti Indonesia dan Filipina menghadapi tantangan logistik yang kompleks akibat keterbatasan konektivitas antarpulau, ketimpangan infrastruktur, serta tingginya biaya distribusi domestik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja logistik Indonesia dan Filipina serta mengkaji keterbatasan indikator World Bank Logistics Performance Index (LPI) dalam merepresentasikan tantangan logistik negara kepulauan. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis 40 artikel ilmiah yang dipublikasikan pada periode 2018-2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur dan kepelabuhanan, biaya logistik, tata kelola pemerintahan dan regulasi, serta tantangan geografis kepulauan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja logistik kedua negara. Infrastruktur yang belum merata, lemahnya integrasi transportasi multimoda, serta rendahnya konektivitas antarpulau menjadi penyebab utama tingginya biaya logistik dan rendahnya efisiensi distribusi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa indikator LPI belum mampu sepenuhnya mencerminkan kondisi logistik domestik negara kepulauan karena lebih berfokus pada perdagangan internasional dan logistik lintas batas berbasis persepsi pelaku logistik global. Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan pengembangan indikator logistik yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap karakteristik geografis negara kepulauan agar mampu merepresentasikan tantangan logistik domestik secara lebih komprehensif.
Design Of an Appsheet-Based Inventory Management System Using the RAD Method Muhammad Naufal Hafidh Shidqi; Agus Setiawan; Wiku Larutama
JTI: Jurnal Teknik Industri Vol 11 No 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jti.v11i2.38972

Abstract

Competition in the manufacturing industry requires companies to improve operational effectiveness, particularly in inventory management. PT XYZ, which initially operated in the metal fabrication services sector, has expanded into manufacturing; however, during this transition, inventory was still recorded manually, leading to data discrepancies and operational issues. Observations from a stocktaking process conducted in June 2025 indicated that inventory accuracy was only 76%, resulting in delivery delays, inventory accumulation, and potential financial losses. This study aims to design and implement an AppSheet-based inventory management system to address these problems. The system was developed using the SDLC method with RAD approach, emphasizing rapid development and user involvement. The developed system includes features for recording incoming goods, outgoing goods, production output, and real-time stock monitoring. System functionality was verified through black-box testing, while system acceptance was evaluated using User Acceptance Testing and a user satisfaction survey. The results indicate that all system functions operated as expected and met user requirements, achieving an average user satisfaction score of 4,25. Although the evaluation of long-term improvements in inventory accuracy remains limited, the system is considered reliable and suitable for daily operational use. It is expected to improve the consistency of inventory data. Keywords: Inventory Management System, AppSheet, RAD
Perancangan Tata Letak Gudang ATK BBSPJIT Menggunakan Metode Class Based Storage dan Analisis FSN untuk Efisiensi Aksesibilitas Fachrein Syauqi Rachman; Yusep Sukrawan; Wiku Larutama
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2114

Abstract

Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Tekstil (BBSPJIT) menyediakan satu ruangan khusus sebagai Gudang Alat Tulis Kantor (ATK) terpusat yang baru, dengan sistem rak yang fleksibel dan dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan. Namun, ketersediaan fasilitas fisik yang memadai saja tidak cukup untuk menjamin efisiensi operasional gudang tanpa didukung perancangan tata letak yang sistematis dan berbasis data. Data inventaris periode Februari–Mei 2025 mencatat 200 item aktif yang tersebar dalam 24 kategori produk, dengan distribusi pergerakan barang yang sangat timpang: hanya 5 item (2,50%) tergolong Fast Moving, 39 item (19,50%) tergolong Slow Moving, sedangkan 156 item (78,00%) tergolong Non-Moving. Ketimpangan ini berpotensi menimbulkan inefisiensi waktu pencarian dan jarak tempuh material handling apabila gudang dirancang tanpa mempertimbangkan frekuensi pergerakan barang. Penelitian ini bertujuan untuk merancang tata letak awal Gudang ATK BBSPJIT dengan mengintegrasikan analisis FSN (Fast, Slow, Non-Moving) berbasis Turn Over Ratio (TOR) sebagai instrumen klasifikasi objektif dengan metode Class based storage sebagai kebijakan penempatan barang. Barang dengan klasifikasi Fast Moving dialokasikan pada zona terdekat pintu, Slow Moving pada zona tengah, dan Non-Moving pada zona terjauh, guna meminimalkan waktu pencarian dan jarak tempuh petugas secara keseluruhan. Penelitian ini mengisi kesenjangan pada studi-studi terdahulu yang umumnya belum membahas secara spesifik penanganan dominasi ekstrem barang Non-Moving dalam konteks perancangan zonasi gudang perlengkapan kantor pada institusi pemerintah.
Evaluasi Kelayakan Pelabuhan Patimban Sebagai Alternatif Pelabuhan Ekspor Di Kawasan Rebana Metropolitan Fadia Harmelia Putri; Yayat; Wiku Larutama
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2126

Abstract

Pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai pelabuhan alternatif bertujuan meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, evaluasi alternatif pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh efisiensi distribusi hinterland, tetapi juga perlu mempertimbangkan karakteristik operasional pelabuhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi Pelabuhan Patimban sebagai alternatif pelabuhan ekspor bagi kawasan industri di Kawasan Rebana Metropolitan melalui analisis efisiensi distribusi hinterland dan karakteristik operasional pelabuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif komparatif berdasarkan data sekunder. Efisiensi distribusi dianalisis menggunakan indikator jarak tempuh, waktu tempuh, dan biaya operasional langsung pada 14 perusahaan dan kawasan industri di Kawasan Rebana Metropolitan. Karakteristik operasional pelabuhan dianalisis berdasarkan kapasitas terminal peti kemas, frekuensi layanan kapal (ship calls), dan cakupan rute pelayaran internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelabuhan Patimban memiliki efisiensi distribusi hinterland yang lebih baik dengan rata-rata jarak tempuh 71,79 km, waktu tempuh 1 jam 34 menit, dan biaya operasional langsung Rp1.755.534, lebih rendah dibandingkan Pelabuhan Tanjung Priok. Sebaliknya, Pelabuhan Tanjung Priok masih unggul dalam hal kapasitas terminal, frekuensi kunjungan kapal, dan konektivitas pelayaran internasional. Integrasi kedua aspek menunjukkan bahwa Pelabuhan Patimban dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pelabuhan ekspor bagi Kawasan Rebana Metropolitan karena mampu meningkatkan efisiensi distribusi darat, sementara Pelabuhan Tanjung Priok tetap memiliki peran strategis sebagai pelabuhan utama dengan kemampuan operasional yang lebih matang. Penelitian ini memberikan kerangka evaluasi yang mengintegrasikan efisiensi distribusi hinterland dan karakteristik operasional pelabuhan sebagai dasar penilaian alternatif pelabuhan ekspor.