Hasbinoer Ibnu Azhari
Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus Sumedang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Case Report: Penerapan Modern Wound Dressing Dengan Adjuvant Infrared Dan Ozone Therapy Pada Pasien Ulkus Diabetikum Hasbinoer Ibnu Azhari; Rafika Rosyda; Popi Sopiah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v6i1.1706

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi serius dari diabetes melitus tipe 2 yang memerlukan perawatan luka modern yang tepat untuk mencegah risiko infeksi, amputasi, hingga kematian. Terapi adjuvan seperti infrared dan ozon berpotensi diintegrasikan untuk mengoptimalkan proses penyembuhan jaringan. Kasus ini melibatkan seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun penderita diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ulkus diabetikum grade 4 berdasarkan Skala Wagner. Instrumen evaluasi yang digunakan untuk memantau perkembangan luka meliputi WINNERS Scale dan indikator Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Pasien mendapatkan intervensi berupa penerapan modern wound dressing yang dikombinasikan dengan terapi adjuvan infrared dan ozone therapy. Perawatan luka ini dilakukan selama 8 kali kunjungan dalam kurun waktu 3 minggu di Homecare Fazza Care Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Hasil pengamatan menunjukkan adanya perkembangan positif yang dibuktikan dengan penurunan total skor WINNERS Scale dari 35 menjadi 29. Perbaikan kondisi luka teramati pada komponen tepi luka, penurunan jumlah eksudat, serta peningkatan kualitas jaringan granulasi. Namun, ukuran luka, kedalaman, dan proses epitelisasi belum menunjukkan banyak perubahan. Penerapan modern wound dressing dengan adjuvan infrared dan ozone therapy berasosiasi dengan perbaikan sebagian indikator luka. Meskipun demikian, proses penyembuhan total masih terhambat oleh faktor internal pasien, yaitu hiperglikemia persisten, faktor usia lanjut, nilai ankle brachial index (ABI) yang tinggi akibat kalsifikasi arteri, kurangnya asupan nutrisi protein, serta keterbatasan mobilisasi.