Anwaar Isnaenuddin
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baitul Hikmah

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Edukasi peran fisioterapi dalam pencegahan diabetes mellitus melalui latihan fisik Maulana Ahsan Fadhail; Akmil Angfasa Ridho; Anwaar Isnaenuddin
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i5.3866

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a non-communicable disease with a steadily rising prevalence; Indonesia ranks fifth globally, with an estimated 20.4 million people living with DM in 2024. Bandar Lampung City is recorded as having one of the highest burdens of DM cases in Lampung Province; however, public knowledge regarding DM prevention and management specifically concerning the roles of physiotherapy and physical exercise remains low. Purpose: To enhance public knowledge regarding the role of physiotherapy in DM prevention and management through education on physical exercise. Method: This community service activity was conducted at the At-Taubah Mosque (Perum BKP Block S, LK III, Bandar Lampung City) on June 12, 2026. The initiative aimed to inform the community about DM and the role of physiotherapy in its management and prevention. Thirty women from a local religious study group participated in the activity. Respondent knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Data were analyzed descriptively and tested using simple statistics (paired t-test) to determine the significance of changes in knowledge scores and to illustrate the distribution of knowledge levels before and after the activity. An observational evaluation was also conducted to assess the activity's outcomes, involving guidance provided to participants during practical simulations of physiotherapy techniques. Results: The mean age of participants was 45.8 years, with the majority (n=22; 73.3%) falling within the 40–50 age range. Most participants had a high school education (n=19; 63.3%), and the majority were housewives (n=24; 80.0%). Regarding knowledge levels prior to the educational activity, 3 participants (10.0%) were in the "sufficient" category and 27 (90.0%) were in the "poor" category; following the activity, there was a proportional improvement, with 21 participants (70.0%) reaching the "good" category and 9 (30.0%) the "sufficient" category. The mean knowledge score increased from 45.67 points at the pre-test to 81.50 points at the post-test (p<0.000). Conclusion: The community service activity educating participants on the role of physiotherapy in the prevention and management of diabetes mellitus through physical exercise was successfully conducted and had a significant impact on increasing participants' knowledge. This achievement demonstrates that a health education approach combining theoretical instruction with live physical exercise demonstrations is an effective strategy for improving public health literacy, particularly regarding the role of physiotherapy in diabetes management. Suggestion: Participants are encouraged to apply the knowledge gained in their daily lives specifically by making a habit of engaging in at least 150 minutes of physical activity per week, practicing diabetic foot exercises independently at home, and promptly consulting a physiotherapist if they experience symptoms related to nerve or circulatory disorders in their feet. Keywords: Diabetes mellitus; Health education; Healthy lifestyle; Physiotherapy; Physical exercise Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, di mana Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan estimasi 20.4 juta penyandang DM pada tahun 2024. Kota Bandar Lampung tercatat sebagai salah satu wilayah dengan beban kasus DM tertinggi di Provinsi Lampung, namun tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan DM, khususnya melalui peran fisioterapi dan latihan fisik, masih tergolong rendah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan DM melalui edukasi latihan fisik. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Masjid At-Taubah, Perum BKP Blok S, LK III, Kota Bandar Lampung, pada tanggal 12 Juni 2026. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan peran fisioterapi dalam penanganan serta pencegahan DM pada masyarakat. Kegiatan diikuti oleh 30 ibu-ibu kelompok pengajian yang merupakan warga masyarakat sekitar untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Data dianalisis secara deskriptif dan diuji menggunakan statistik sederhana (paired t-test) untuk melihat signifikansi perubahan skor pengetahuan dan menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan responden antara sebelum dan sesudah kegiatan edukasi. Evaluasi berdasarkan observasi juga dilakukan sebagai penilaian akhir dari pencapaian kegiatan dengan pendampingan kepada partisipan ketika melakukan praktik simulasi penerapan fisioterapi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 45.8 tahun dan mayoritas berada direntang usia 40-50 tahun yaitu sebanyak 22 partisipan (73.3%). Sebagian besar tingkat pendidikan partisipan adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebanyak 19 partisipan (63.3%) dan mayoritas status pekerjaan partisipan adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 24 partisipan (80.0%). Tingkat pengetahuan partisipan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 3 partisipan (10.0%) kategori cukup, dan sebanyak 27 partisipan (90.0%) kategori kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 21 partisipan (70.0%) kategori baik, dan sebanyak 9 partisipan (30.0%) kategori cukup. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan partisipan mengalami peningkatan dari 45.67 poin pada saat pretest menjadi 81.50 poin pada posttest, dan mendapatkan p-value<0.000. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan diabetes mellitus melalui latihan fisik berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang bermakna terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi kesehatan yang memadukan penyampaian materi secara teoritis dengan demonstrasi latihan fisik secara langsung merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait peran fisioterapi dalam pencegahan dan penanganan DM. Saran: Bagi masyarakat sasaran, diharapkan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dengan membiasakan diri melakukan aktivitas fisik secara rutin minimal 150 menit per minggu, mempraktikkan senam kaki diabetik secara mandiri di rumah, serta segera berkonsultasi dengan tenaga fisioterapi apabila mengalami gejala yang berhubungan dengan gangguan saraf atau sirkulasi pada kaki.