Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sumber Air Bersih, Jamban, Sampah dan Sarana Pembuangan Air Limbah di Permukiman Kumuh Kota Padang Putri, Novia Wirna; Ardiningrum, Areta
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.1.59-69.2025

Abstract

Sanitasi adalah elemen yang penting untuk menunjang kesehatan masyarakat. Kondisi sanitasi seperti sumber air bersih, kondisi dan kepemilikan jamban, pengelolaan sampah dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) sangat perlu mendapat perhatian terutama di lingkungan permukiman kumuh agar tidak menjadi faktor risiko kejadian penyakit berbasis lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran distribusi frekuensi sumber air bersih, kondisi dan kepemilikan jamban, pengelolaan sampah dan SPAL di wilayah permukiman kumuh Kota Padang. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah permukiman kumuh Kota Padang pada bulan April-Oktober tahun 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada pada wilayah pemukimah kumuh Kota Padang yaitu 3.354 KK dari 22 kelurahan. Sampel pada penelitian ini sebanyak 373 responden dari 11 kelurahan terpilih dengan teknik pengambilan sampel proportional random sampling. Teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Sebanyak 39,4 % sumber air bersih responden berasal dari sumur gali, sebanyak 16,1 % memiliki jamban, namun bukan leher angsa, tidak ada tutup, dan disalurkan ke sungai/kolam, sebanyak 20,4 % responden tidak memiliki sarana pembuangan sampah dan 77,7 % memiliki SPAL yang terbuka. Pemerintah Kota Padang perlu mempertimbangkan upaya untuk memperbaiki dan memperluas akses terhadap sumber air bersih yang lebih aman dan berkelanjutan, serta perlu upaya edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat dengan pendekatan yang lebih komprehensif terutama di lingkungan permukiman kumuh.
Sanitation factors and environmentally-based diseases in slum areas of Padang Putri, Novia Wirna; Ardiningrum, Areta
BKM Public Health and Community Medicine Vol 41 No 05 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v41i05.20412

Abstract

Purpose: This study aimed to analyze the relationship between sanitation factors and the incidence of environmentally based diseases in the slum areas of Padang. Methods: An analytical cross-sectional study was conducted involving 373 households selected through proportional random sampling from 11 sub-districts categorized as slum areas. Data were collected using structured interviews and environmental assessments. Statistical analysis was performed to examine the association between sanitation factors and disease incidence using chi-square tests. Results: Among the total respondents, 74.8% reported experiencing environmentally related diseases. A significant association was found between the source of clean water and disease incidence (p=0.035), with individuals using unprotected water sources being more likely to experience illness. Toilet conditions were also significantly associated (p=0.042), with households having poor toilet facilities exhibiting a higher incidence of disease. Waste management practices and wastewater drainage were associated with disease incidence (p=0.042), suggesting that inadequate disposal methods may contribute to health risks. The presence of mosquito larvae around households was significantly correlated with higher disease rates (p=0.010), indicating the role of vector-borne transmission. Furthermore, healthy home conditions were significantly related to disease incidence (p=0.046), highlighting the importance of proper housing infrastructure in disease prevention. Conclusion: Sanitation factors, including access to clean water, proper toilet facilities, effective waste management, control of mosquito breeding sites, and healthy housing conditions, play a crucial role in reducing environmentally based diseases in slum communities. Public health interventions focusing on improving sanitation infrastructure and promoting hygiene practices are urgently needed.
Pengembangan Usaha Susu Kambing Etawa: Upaya Preventif terhadap Stunting dan Peningkatan Imunitas pada Anak Fitriyani, Fitriyani; Rahmah, Septia Pristi; Putri, Novia Wirna; Aisyah Nur Utami Putri; Dzakira Indria Syafitri; Mutia Hasna Khairani; Nabila Tiara Rahma Dewi; Khairani Saadah
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i4.1505

Abstract

Usaha susu kambing Etawa memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak, terutama untuk pencegahan stunting dan peningkatan imunitas. Pengembangan usaha susu kambing Etawa di Mannaf Farm, Kabupaten Agam, bertujuan meningkatkan kualitas dan keamanan susu guna mendukung pencegahan stunting dan peningkatan imunitas anak. Masalah utama meliputi kebersihan kandang yang kurang optimal dan pengelolaan produksi susu yang belum memenuhi standar. Perbaikan dilakukan melalui desain kandang yang mempermudah pembersihan dan sistem pemisahan otomatis antara kotoran dan urin. Peternak juga dilatih praktik pemerahan higienis, pasteurisasi, dan penyimpanan susu sesuai standar Thai Agriculture Standard (TAS) No. 6006-2008. Hasilnya menunjukkan peningkatan kualitas kebersihan dan keamanan susu, penurunan angka kesakitan kambing, serta peningkatan skor pengetahuan peternak dari 47,64 menjadi 85,08. Selain itu, pemanfaatan limbah kandang sebagai pupuk kompos memberikan nilai tambah ekonomi. Pendekatan ini berhasil meningkatkan daya saing susu kambing sebagai alternatif nutrisi aman dan berkualitas, terutama bagi anak-anak sebagai upaya pencegahan stunting.