Lisbet Octovia Manalu
Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Institut Kesehatan Rajawali

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN DAN KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS PARU Rasti Esa Tania; Eny Kusmiran; Rizky Gumilang Pahlawan; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56813

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur dan tuntas, serta kualitas komunikasi terapeutik perawat yang berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas DTP Gununghalu Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 46 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Therapeutic Communication Questionnaire (TCQ), Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), dan RAND 36-Item Health Survey, dengan analisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori kurang  (39,1%), cukup (32,6%), dan baik (28,3%). Kepatuhan pengobatan sebagian besar berada pada kategori tidak patuh (52,2%), dan kualitas hidup didominasi kategori buruk (56,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan (p < 0,001) dan dengan kualitas hidup pasien (p = 0,001). Komunikasi terapeutik perawat yang lebih baik berkorelasi dengan tingkat kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup yang lebih baik pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas DTP Gununghalu. Disarankan agar perawat menerapkan komunikasi terapeutik secara konsisten dan terstruktur dalam setiap interaksi dengan pasien tuberkulosis paru.
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU Siti Novita Puspitaningrum; Eny Kusmiran; Arieni Ramadhan; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56814

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberhasilan terapi pada pasien TB sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur hingga selesai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi interpersonal perawat dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Ciwaruga Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 42 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner komunikasi interpersonal perawat, Family Support Scale (FSS), serta Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal perawat sebagian besar berada pada kategori kurang (40,5%), diikuti kategori cukup (31,0%) dan baik (28,6%). Dukungan keluarga mayoritas berada pada kategori kurang (42,9%), kemudian kategori cukup (26,2%) dan baik (31,0%). Sementara itu, tingkat kepatuhan minum obat pasien sebagian besar berada pada kategori tidak patuh (52,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepatuhan minum obat (p = 0,005) serta antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p = 0,002) pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Ciwaruga. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik komunikasi interpersonal perawat dan semakin tinggi dukungan keluarga, maka tingkat kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru juga cenderung meningkat.
HUBUNGAN SIKAP IBU DALAM PEMENUHAN 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA USIA 2-5 TAHUN DI DESA CIWARUGA Neyza Taliya Suciany; Budi Rustandi; Metilda Metilda; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56819

Abstract

Stunting didefinisikan sebagai kegagalan pertumbuhan linear pada balita yang dipicu oleh defisiensi nutrisi kronis, sehingga mengakibatkan tinggi badan yang tidak sesuai dengan standar usianya. Fenomena ini berakar pada kurangnya asupan gizi sejak fase gestasi hingga masa awal pertumbuhan, serta dipengaruhi oleh pola pengasuhan yang tidak optimal. Dalam konteks ini, respons dan sikap ibu terhadap pemenuhan selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi pilar utama dalam strategi preventif stunting. Penelitian ini mengevaluasi korelasi antara sikap ibu dalam periode 1000 HPK dengan prevalensi stunting pada balita usia 2–5 tahun di Desa Ciwaruga. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif melalui pendekatan analitik observasional cross-sectional, penelitian ini berupaya membedah keterkaitan variabel tersebut secara empiris. Penelitian ini melibatkan populasi sebanyak 527 subjek, dengan pengambilan sampel sebanyak 84 responden melalui metode purposive sampling. Dalam proses pengumpulan data, sikap ibu dievaluasi menggunakan kuesioner, sementara kondisi stunting divalidasi melalui pengukuran tinggi badan secara langsung. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji statistik chi-square untuk memetakan hubungan antarvariabel. Temuan menunjukkan p-value sebesar 0,000 (di bawah ambang batas 0,05), yang mengonfirmasi adanya korelasi signifikan antara sikap ibu dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan dengan angka kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di Desa Ciwaruga. Hal ini menegaskan bahwa perilaku ibu merupakan determinan penting dalam kesehatan pertumbuhan anak, ibu dengan sikap yang positif memiliki peluang lebih besar untuk menjaga status gizi anak tetap normal dibandingkan ibu dengan sikap dalam kategori cukup atau kurang.
HUBUNGAN TINGKAT EMPATI DENGAN KECEMASAN MAHASISWA NERS DALAM PRAKTIK KLINIK DI RUMAH SAKIT Shiva Adelia Al Rizkya; Eny Kusmira; Arieni Ramadhan; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56840

Abstract

Praktik klinik merupakan proses penting dalam pendidikan profesi ners karena mahasiswa mulai terlibat secara langsung dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pada tahap ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tuntutan tanggung jawab profesional. Hal ini bisa memicu kecemasan pada mahasiswa. Kecemasan yang tidak terkelola dengan baik berpengaruh pada kualitas hubungan terapeutik dengan pasien. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam membantu mahasiswa menghadapi tekanan tersebut adalah empati. Empati memungkinkan mahasiswa memahami kondisi emosional pasien, membangun komunikasi efektif, serta memaknai pengalaman praktik klinik secara lebih adaptif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat empati dengan kecemasan mahasiswa ners dalam praktik klinik di rumah sakit dengan pendekatan kuantitatif, desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 71 mahasiswa profesi ners yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Physician Empathy Nursing Student Version Revised (JSPE-R) dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data dianalisi dengan uji Chi-Square, tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan 53,5% responden memiliki empati tinggi dan 46,5% empati rendah. Tingkat kecemasan mahasiswa berada pada kategori tinggi (40,8%), sedang (31,0%), dan rendah (28,2%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat empati dan kecemasan mahasiswa dalam praktik klinik (p = 0,001; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa empati berperan dalam membantu mahasiswa mengelola kecemasan selama praktik klinik.