yoman Ratih Widya Sari
Fakultas Kedokteran, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POTENSI CRYOTHERAPY DALAM WELLNESS TOURISM UNTUK MODULASI NYERI NON-FARMAKOLOGI : TINJAUAN LITERATUR Dewa Ayu Aryantika Anggraeni; Made Kurnia Widiastuti Giri; yoman Ratih Widya Sari; Putu Ayu Daneswari Dewi; Kadek Listia Prasetya Dewi; Ni Nyoman Ayu Trisna Anggarini
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57216

Abstract

Nyeri merupakan perasaan emosional tidak menyenangkan yang terjadi akibat respon sistem saraf terhadap rangsangan yang dialami tubuh. Sensasi nyeri akan sering ditemukan pada pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal disertai dengan keluhan penurunan ruang gerak tubuh. Keluhan tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Modalitas cryoteraphy tersebut sejalan dengan salah satu pendekatan kesehatan yakni wellness. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisata kebugaran, maka layanan untuk bisa mengintervensi nyeri semakin dibutuhkan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji potensi cryotherapy sebagai terapi komplementer pada layanan wellness tourism dalam memodulasi nyeri secara non-farmakologi. Penelitian ini berupa studi literatur riview yang menggunakan PRISMA sebagai landasan. Pencarian literatur dilakukan melalui dua sumber data digital yang ada, yakni Google Scholar dan Pubmed. Kata kunci yang digunakan yakni (cryotherapy OR “cold therapy” OR “whole body cryotherapy”) AND (pain OR “musculoskeletal pain” OR “chronic pain”) AND (rehabilitation OR recovery OR therapy OR wellness). Delapan artikel ilmiah yang dikaji membuktikan efektivitas cryotherapy dalam menurunkan sensasi nyeri secara signifikan dan mengurangi penggunaan obat analgesik pasca-intervensi. Penggunaan cryotherapy secara signifikan dapat mempercepat modulasi sensasi nyeri pada pasien dengan gangguan muskuloskeletal. Efek pemulihan tersebut membuka peluang pengintegrasian dengan wellness tourism yang baru terfokuskan pada pemulihan mental dan spiritual. Namun, sebelum diintegrasikan langsung, diperlukan penelitian lebih lanjut yang berfokus kepada individualisasi protokol suhu agar sesuai dengan profil masing-masing wisatawan.