Angka kematian ibu (AKI) masih tinggi di Indonesia, dengan perdarahan sebagai penyebab utama. Ruptur perineum, yang sering terjadi selama persalinan pervaginam, adalah salah satu penyebab perdarahan pascapersalinan. Karena tekanan yang meningkat pada jaringan perineum selama proses persalinan, berat badan bayi lahir dianggap berperan dalam kemungkinan ruptur perineum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara berat badan bayi lahir dan jumlah ruptur perineum yang terjadi selama persalinan normal di Puskesmas Alalak Selatan Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan melalui desain kuantitatif observasional analitik yang menggunakan metode case-control retrospektif. Penelitian ini melibatkan 144 ibu bersalin normal dari Januari hingga Desember 2025. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih 106 responden, yakni mencakup 71 kelompok kasus dan 35 kelompok kontrol. Uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis data yang didapati dari rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value sebesar 0,001 (p<0,05) yang maknanya terdapat korelasi signifikan antara berat badan bayi lahir dengan kejadian ruptur perineum. Nilai koefisien kontingensi sebesar 0,332 menunjukkan kekuatan hubungan sedang. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 6,946 (95% CI: 1,940–24,871) menunjukkan bahwa bayi dengan berat badan >3500 gram berisiko 6,946 kali lebih besar mengalami ruptur perineum dibandingkan bayi dengan berat badan <3500 gram. Dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi signifikan antara berat badan bayi lahir dengan insiden ruptur perineum pada persalinan normal, yang mana risiko ruptur perineum semakin meningkat seiring semakin besarnya berat badan bayi.