Pratiwi Puji Lestari
Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH PUSKESMAS KOTA BANJARMASIN Wahdatun Nisa; Mahfuzhah Deswita Puteri; Rohni Taufika Sari; Pratiwi Puji Lestari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58229

Abstract

Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Status gizi ibu hamil yang tercermin melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kejadian preeklampsia. IMT berlebih dan obesitas dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan vaskular selama kehamilan, meskipun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan ketidakkonsistenan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di wilayah Puskesmas Kota Banjarmasin. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,418 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian preeklampsia. Namun, secara proporsi terlihat adanya kecenderungan peningkatan kejadian preeklampsia pada ibu hamil dengan IMT lebih tinggi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Meskipun demikian, IMT tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari pemantauan status gizi selama kehamilan karena adanya kecenderungan peningkatan risiko pada IMT berlebih. Penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar dan pengendalian faktor perancu diperlukan.