Program Keluarga Berencana (KB) merupakan pilar utama dalam menekan laju pertumbuhan penduduk, namun pola pemilihan kontrasepsi masih didominasi oleh metode jangka pendek. Hambatan psikososial berupa rendahnya keterlibatan pria sering kali dianggap membatasi otonomi istri dalam menentukan metode yang ideal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan penggunaan alat kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Nagrak, Kabupaten Cianjur. Jenis penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh PUS yang berdomisili di Desa Nagrak sebanyak 1.533 orang. Sampel berukuran 94 responden dipilih berdasarkan kriteria eligibilitas menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen adalah dukungan suami dan variabel dependen adalah pemilihan penggunaan alat kontrasepsi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner data demografi serta kuesioner terstruktur dukungan suami (16 butir pertanyaan). Analisis data dijalankan melalui uji statistik Chi-Square ( α = 0,05). Distribusi univariat menunjukkan mayoritas responden berada pada usia reproduksi sehat 21–35 tahun (51,1%), berstatus akseptor aktif (75,5%), dan didominasi pengguna kontrasepsi Suntik (42,6%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pemilihan kontrasepsi kategori sedang (86,2%), meskipun persentase dukungan suami berada pada kategori rendah (43,6%). Hasil uji bivariat Chi-Square menghasilkan nilai signifikansi p-value = 0,257 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan pemilihan penggunaan alat kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Nagrak. Keputusan ber-KB lebih didominasi otonomi personal istri serta efektivitas konseling dari tenaga kesehatan lokal.