Bambang Karmanto
Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Cirebon,Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMETAAN SEBARAN KASUS INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Tiara Nursiyam; Bambang Karmanto; Lina Khasanah; Maula Ismail Mohammad
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.59540

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di wilayah kerja Puskesmas Kesunean, ISPA tercatat sebagai kasus penyakit terbanyak pada tahun 2025. Namun, data yang tersedia masih berupa angka sehingga belum mampu menggambarkan pola persebaran kasus secara spasial. Penelitian ini bertujuan memetakan sebaran kasus ISPA pada balita menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengidentifikasi wilayah berisiko dan mendukung pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data yang digunakan berupa data sekunder kasus ISPA balita tahun 2025 di wilayah kerja Puskesmas Kesunean. Analisis dilakukan menggunakan Quantum GIS melalui proses pengolahan data spasial, penggabungan data atribut dan peta wilayah, visualisasi peta tematik, serta analisis autokorelasi spasial menggunakan Indeks Moran (Moran’s I). Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebaran kasus ISPA pada balita tidak merata antarwilayah. Status imunisasi, status gizi, dan perilaku hidup sehat juga menunjukkan variasi antarwilayah. Analisis Moran’s I menghasilkan nilai 0,1902 dengan pseudo p-value 0,0790 yang menunjukkan kecenderungan autokorelasi spasial positif yang lemah dan tidak signifikan secara statistik. Analisis bivariat juga menunjukkan tidak terdapat hubungan spasial yang signifikan antara kejadian ISPA dengan status imunisasi, status gizi, maupun perilaku hidup sehat. Sebaran kasus ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kesunean menunjukkan variasi antarwilayah, namun pola persebarannya cenderung acak dan belum membentuk klaster spasial yang signifikan. Pemanfaatan SIG dapat membantu mengidentifikasi wilayah prioritas dalam upaya pencegahan dan pengendalian ISPA pada balita.
PEMETAAN SEBARAN KASUS DBD MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI PUSKESMAS KALIJAGA PERMAI KOTA CIREBON TAHUN 2025 Rahma Aulia Putri; Totok Subianto; Elfi Elfi; Bambang Karmanto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.59658

Abstract

Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Melalui pemanfaatan Sistem Informasi Geografis, persebaran kasus Demam Berdarah Dengue dapat dianalisis berdasarkan lokasi sehingga wilayah dengan risiko tinggi dapat diidentifikasi Secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis distribusi spasial kasus Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Permai Kota Cirebon tahun 2025 menggunakan Sistem Informasi Geografis. Penelitian ini Menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah petugas pelaporan kasus Demam Berdarah Dengue puskesmas. Objek penelitian adalah data sekunder informasi kasus Demam Berdarah Dengue tahun 2025. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Permai Kota Cirebon menunjukkan tren peningkatan selama periode 2023-2025, dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2025 sebanyak 153 kasus. Hasil Pemetaan sebaran kasus DBD menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) menunjukkan pola sebaran kasus yang mengelompok (clustered), dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di 3 wilayah. Berdasarkan karakteristik penderita, mayoritas kasus terjadi pada perempuan (53%) dan kelompok umur balita (0-4 tahun) sebesar 35%. Kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Permai Kota Cirebon mengalami peningkatan pada periode 2023–2025. Sebaran kasus menunjukkan pola mengelompok (clustered), dengan kasus terbanyak terjadi pada perempuan dan kelompok usia balita (0–4 tahun). Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat membantu mengidentifikasi wilayah prioritas dalam upaya pengendalian DBD.