Yuyun Supadmi
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MODAL KULTURAL DAN KELESTARIAN KELAS: DIALEKTIKA PENDIDIKAN DASAR DALAM PERSPEKTIF BOURDIEU DI BANYUMAS Yuyun Supadmi; Fatkhurohman; Rohman; Eni Nur Khikmah; Agus Tri W; Sigit Haryanto
INSTRUKTUR INSTRUKTUR: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 5 No 2 (2026): INSTRUKTUR
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/instruktur.v5i2.2615

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi narasi netralitas pendidikan dasar melalui analisis reproduksi sosial Pierre Bourdieu di SD Muhammadiyah Banyumas. Meskipun institusi pendidikan sering diposisikan sebagai katalisator mobilitas vertikal, realitas empiris menunjukkan adanya determinasi dalam mempreservasi hierarki kekuasaan melalui akumulasi modal kultural. Menggunakan paradigma kualitatif dengan desain fenomenologis-interpretatif, penelitian ini membedah dialektika antara habitus, modal, dan ranah (field). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, eksaminasi dokumen institusional seperti kurikulum dan jurnal pembiasaan karakter, serta sintesis literatur sistematis. Hasil penelitian mengungkap bahwa SD Muhammadiyah Banyumas beroperasi sebagai arena kontestasi simbolik di mana program prestisius seperti English Class Program (ECP) dan metode Tajdied berfungsi sebagai standar modal budaya dominan. Temuan menunjukkan bahwa institusi memfasilitasi akumulasi modal budaya secara terstruktur melalui internalisasi habitus religius, objektifikasi modal digital, dan legitimasi simbolik terinstitusionalisasi. Namun, proses ini secara simultan melanggengkan kekerasan simbolik dan efek hysteresis bagi siswa dengan modal budaya marginal. Penelitian ini mengisi research gap mengenai dinamika reproduksi sosial pada institusi swasta berbasis agama di tingkat kabupaten. Kesimpulannya, administrasi pendidikan memerlukan reorientasi kebijakan yang sadar akan disparitas modal budaya awal guna memitigasi marginalisasi sistemik. Transformasi menuju pendidikan emansipatoris diperlukan agar sekolah kembali pada fungsinya sebagai agen transformasi sosial yang inklusif, bukan sekadar instrumen kelestarian kelas bagi kelompok elit tertentu.