Aji Prasetyo Panigoro
UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Multikulturalisme Sebagai Realitas Sosial dan Historis Indonesia Aji Prasetyo Panigoro; Fery Diantoro; Azzura Tera Rosalinda; Sekar Fitri Maharani
Riset : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu Volume 1, Nomor 4 Juni 2026
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multiculturalism is a social and historical reality inherent in Indonesia’s national development. This article examines the emergence of multiculturalism prior to independence through maritime trade networks and colonial interactions that brought together diverse ethnicities, religions, and cultures across the archipelago. These historical processes shaped a pluralistic social structure and laid the foundation for Indonesia’s national identity. Ethnic, religious, racial, and cultural diversity has since become a demographic fact, reflected in hundreds of ethnic groups, local languages, and living traditions coexisting throughout the country. Normatively, the national motto emphasizes unity in diversity as the guiding principle for managing pluralism. However, diversity also presents challenges, including identity-based social conflicts that may threaten social cohesion. Therefore, multicultural education is essential to foster tolerance, dialogue, and mutual respect in order to strengthen national integration and promote a harmonious and democratic society.  Keywords: multiculturalism, social reality, historical reality. Abstrak Multikulturalisme merupakan realitas sosial dan historis yang melekat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Artikel ini membahas kemunculan multikulturalisme sebelum kemerdekaan melalui interaksi perdagangan maritim dan kolonialisme yang mempertemukan beragam etnis, agama, dan budaya di Nusantara. Proses historis tersebut membentuk struktur masyarakat yang majemuk dan menjadi fondasi identitas kebangsaan. Keragaman suku, agama, ras, dan budaya selanjutnya berkembang sebagai fakta demografis nasional yang tercermin dalam ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, serta tradisi lokal yang hidup berdampingan. Dalam konteks normatif, semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi dasar pengelolaan keberagaman dengan menekankan persatuan dalam perbedaan. Namun, pluralitas juga menghadirkan potensi konflik sosial berbasis identitas yang mengancam kohesi masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan multikultural dipandang penting untuk menanamkan nilai toleransi, dialog, dan penghargaan terhadap perbedaan guna memperkuat integrasi nasional serta membangun kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis.  Kata Kunci: multikulturalisme, realitas sosial, realitas sejarah.