Muhammad Syamsul Munir
Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jejak Pengaruh Kebijakan Politik Pan-Islamisme Sultan Abdul Hamid II (1876-1909 M) di Wilayah Terjajah Umat Muslim Dunia Bahrudin Lazuardi; Iswan Karim; Muhammad Syamsul Munir
Riset : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu Volume 1, Nomor 5 Agustus 2026
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study provides an in-depth analysis of the impact of Sultan Abdul Hamid II’s (1876–1909 CE) Pan-Islamist policies on the colonized Muslim world and their evolution into the contemporary era. There are four main points in this study, namely: 1) The background to the emergence of Pan-Islamist policies was the urgent domestic and foreign policy conditions facing the Ottoman Empire; 2) Conceptual differences regarding Pan-Islamism between Jamaluddin al-Afghani and Sultan Abdul Hamid II; 3) The process and tactical strategies for spreading the Pan-Islamism movement to the colonized territories; and 4) The traces of influence and the transformation of organizations born from this movement up to the present day. This study employs a comprehensive historical research method, encompassing the stages of data collection (heuristics), source criticism (verification), interpretation, and historiography. The theories applied include the theory of asymmetric political influence to uncover the impact of Ottoman foreign policy, as well as the theory of historical continuity to analyze the bridge connecting past movements to the modern era. The research findings indicate that the Pan-Islamist policy, skillfully championed by Sultan Abdul Hamid II, succeeded in serving as an asymmetric weapon that secured the empire’s sovereignty while simultaneously igniting a massive transnational anti-colonial political consciousness in South Asia, the Dutch East Indies, North Africa, and Central Asia. Furthermore, this study demonstrates that the impact of these movements did not disappear after the collapse of the Ottoman Empire in 1924, but rather underwent a historical transformation that led to the establishment of various major organizations (such as the Khilafat Movement, Sarekat Islam, NU, Muhammadiyah, AUMA, and Jadidism), whose institutional and ideological legacies, as well as the spirit of their global humanitarian diplomacy, still endure and can be felt even in the modern era today.
Dialektika Rukhsah dan Iffah Dalam Qs. An-Nur Ayat 60: Studi Terhadap Tren Busana Perempuan Lansia di Era Modern Hamzah Ihsan Rabbani; Muhammad Fatih Al Haq; Muhammad Syamsul Munir
Riset : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu Volume 1, Nomor 5 Agustus 2026
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan media digital dan transformasi sosial telah mengubah posisi serta peran perempuan lanjut usia dalam masyarakat modern. Perempuan lansia tidak lagi terbatas pada ruang domestik, tetapi aktif dalam berbagai aktivitas sosial, ekonomi, keagamaan, dan media digital. Perubahan tersebut turut memengaruhi pola berpakaian dan cara mereka menampilkan identitas diri di ruang publik. Dalam konteks ini, muncul kebutuhan untuk mengkaji kembali relevansi ajaran Islam mengenai etika berpakaian perempuan lanjut usia sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nur ayat 60. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep rukhsah dan iffah dalam QS. An-Nur ayat 60, menelaah penafsiran para mufasir klasik dan kontemporer, serta mengontekstualisasikannya dengan fenomena busana perempuan lansia di era modern. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) dan analisis kontekstual. Sumber data primer berupa QS. An-Nur ayat 60 dan berbagai kitab tafsir klasik maupun kontemporer, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nur ayat 60 memberikan rukhsah kepada perempuan lanjut usia untuk menanggalkan sebagian pakaian luarnya dengan tetap memperhatikan larangan tabarruj dan prinsip penjagaan kehormatan diri. Para mufasir klasik dan kontemporer sepakat bahwa rukhsah tersebut tidak menghapus kewajiban menjaga kesopanan dan martabat perempuan. Penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara rukhsah dan iffah bersifat komplementer dalam menghadapi perubahan sosial modern. Sebagai kontribusi konseptual, penelitian ini menawarkan konsep Iffah Progresif, yaitu suatu model etika berpakaian yang mengintegrasikan penjagaan kehormatan diri dengan partisipasi sosial dan ekspresi diri yang proporsional bagi perempuan lansia di era modern. Konsep ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur'an tetap relevan dalam merespons dinamika kehidupan kontemporer tanpa kehilangan orientasi moral yang menjadi tujuan utama syariat. Kata Kunci: QS. An-Nur ayat 60; perempuan lansia; rukhsah; iffah; Iffah Progresif.