Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya pemahaman generasi yang lebih muda mengenai makna simbolik dalam budaya Batak Toba, terutama terkait dengan barang-barang tradisional yang memiliki nilai-nilai filosofis dan kultural. Salah satu simbol yang mulai diabaikan adalah ampang, yang selama ini dianggap sekadar sebagai tempat biasa, padahal ia menyimpan makna yang mendalam dalam konteks sosial dan adat. Di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, sangat penting untuk kembali menggali nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi pembentukan identitas budaya dan karakter. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna simbolik ampang dalam tradisi Batak Toba dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, agar dapat ditemukan nilai-nilai etika dan karakter yang tersembunyi di dalamnya. Metode yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan kajian literatur. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ampang tidak sekadar berfungsi sebagai wadah tradisional, melainkan juga sebagai simbol kebersamaan, penghormatan, dan spiritualitas dalam beragam upacara adat seperti paranak mamboan parboru, mangongkal holi, dan saur matua. Analisis semiotik mengungkapkan makna denotatif ampang sebagai barang anyaman dari bambu, sementara secara konotatif, ia merepresentasikan nilai-nilai etika seperti tanggung jawab, kewajiban untuk saling membantu, kejujuran, penghormatan kepada orang tua, serta upaya pelestarian budaya setempat. Simbol ampang berperan sebagai media pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran moral, spiritualitas, dan identitas budaya bagi generasi muda. Dengan demikian, ampang berfungsi tidak hanya sebagai artefak budaya, namun juga sebagai alat untuk mendidik etika dan karakter yang berlandaskan pada kearifan lokal Batak Toba.