Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Pendidikan Techno Preneurship dalam Meningkatkan Kesiapan SDM Menghadapi Pasar Digital Riska Pratiwi Br Hutasuhut; Aldella Makhfiza; Abdurrozzaq Hasibuan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.3681

Abstract

Transformasi digital telah mengubah struktur pasar kerja dan meningkatkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pendidikan technopreneurship dalam meningkatkan kesiapan sumber daya manusia menghadapi pasar digital, terutama melalui penguatan literasi digital, keterampilan kewirausahaan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi terhadap organisasi yang telah menjalankan transformasi digital. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi kompetensi utama, strategi pembelajaran, serta faktor pendukung pengembangan sumber daya manusia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan technopreneurship mampu mengintegrasikan pengetahuan teknologi dan kewirausahaan melalui pembelajaran berbasis proyek, pengembangan prototipe, validasi pasar, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta kerja sama antara perguruan tinggi dan industri. Pendekatan tersebut membantu peserta didik memahami masalah nyata, menyusun solusi digital, membangun model bisnis, dan meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja. Keberhasilan implementasinya dipengaruhi oleh kurikulum yang relevan, kompetensi dosen, ketersediaan infrastruktur, kepemimpinan transformasional, program inkubasi, serta dukungan ekosistem inovasi. Dengan demikian, pendidikan technopreneurship merupakan strategi penting untuk membentuk sumber daya manusia yang kompetitif, mandiri, dan responsif terhadap perubahan teknologi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Analisis Pengendalian Kualitas Produk Kerajinan Tenun Uwis Karo Menggunakan Metode Statistical Quality Control (SQC) pada UMKM Binaan Disperindag Kota Binjai Riska Pratiwi Br Hutasuhut; Siti Rahma Sibuea; Suliawati Suliawati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10726

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam industri, termasuk Tenun Uwis Karo yang memproduksi berbagai jenis hasil tenun. Namun, dalam proses produksinya masih ditemukan produk cacat seperti motif tidak simetris, lubang/ celah kecil, dan ukuran tidak sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecacatan produk dengan menerapkan metode Statistical Quality Control (SQC). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan check sheet, diagram histogram, diagram pareto, peta kendali (p-chart), dan diagram fishbone. Hasil menunjukkan bahwa jenis cacat bentuk lubang/ celah kecil sebanyak 27 pcs (41,54%), dan cacat bentuk motif tidak simetris sebanyak 23 pcs (35,38%), cacat ukuran tidak sesuai sebanyak 15 pcs (23,08%). Faktor penyebab utama berasal dari manusia, material, lingkungan, metode, dan mesin. Adapun rekomendasi atau usulan yang diberikan pada penelitian ini dalam upaya mengurangi produk cacat yaitu memberikan pelatihan kepada karyawan produksi, melakukan pengawasan produksi, dan penyesuaian SOP Kerajinan tenun merupakan salah satu bentuk kerajinan tradisional yang dihasilkan melalui proses menyilangkan benang lungsi (warp) dan benang pakan (weft) secara teratur menggunakan alat tenun. Kerajinan tenun tidak hanya berfungsi sebagai bahan sandang, tetapi juga sebagai produk budaya yang mengandung nilai simbolik, sosial, dan ekonomi. Setiap daerah memiliki ciri khas motif, warna, dan teknik tenun yang mencerminkan identitas budaya lokal