Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Inflasi dan Pengangguran terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 2004-2024 Dinda Aulia; Zahra Fadilah; Dina Aulia Sari; Munadya Salsabila Lubis
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.3885

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh inflasi dan tingkat pengangguran terbuka terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2004-2024 dengan memperbaiki konsistensi data dan memperluas pembahasan terhadap perubahan struktur ekonomi. Data tahunan diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan publikasi ekonomi internasional, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji stasioneritas, regresi Ordinary Least Squares pada level, regresi perubahan tahunan, serta pengujian sensitivitas menggunakan variabel dummy pandemi COVID-19. Hasil deskriptif memperlihatkan bahwa inflasi rata-rata sebesar 5,30 persen, tingkat pengangguran terbuka 6,97 persen, dan pertumbuhan ekonomi 4,97 persen. Model pada level memiliki daya jelas terbatas karena inflasi dan pengangguran menunjukkan karakter tidak stasioner serta terdapat guncangan besar pada 2020. Model perubahan tahunan memberikan hasil yang lebih informatif: kenaikan satu poin persentase perubahan pengangguran berkaitan dengan penurunan pertumbuhan sekitar 1,97 poin persentase, sedangkan perubahan inflasi berkoefisien positif 0,15 dan signifikan pada taraf lima persen. Koefisien inflasi yang positif tidak berarti inflasi tinggi mendorong pertumbuhan, tetapi menunjukkan bahwa pada rentang inflasi rendah-menengah, pemulihan permintaan dan penyesuaian harga dapat berlangsung bersamaan dengan ekspansi output. Setelah dummy pandemi dimasukkan, besaran koefisien kedua variabel melemah, sementara dampak pandemi terbukti dominan. Temuan menegaskan bahwa penciptaan pekerjaan produktif, stabilitas harga yang fleksibel, koordinasi fiskal-moneter, dan kebijakan penanganan guncangan struktural harus dijalankan secara terpadu.