Limbah kulit nanas merupakan limbah organik yang masih belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan, terutama di daerah sentra produksi nanas seperti Dusun Sukoyuwono, Desa Palaan, Kabupaten Malang. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan limbah kulit nanas melalui pengembangan lilin aromaterapi yang memiliki nilai tambah ekonomis sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan limbah berbasis prinsip ekonomi sirkular. Metode yang diterapkan meliputi uji coba formulasi produk, sosialisasi, demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi, serta distribusi produk kepada masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa formulasi yang dikembangkan mampu menghasilkan lilin aromaterapi dengan aroma khas nanas, tekstur yang baik, dan tampilan yang menarik melalui pemanfaatan sari serta ampas kulit nanas secara menyeluruh sesuai dengan konsep zero waste. Kegiatan sosialisasi juga memperoleh tanggapan positif dari masyarakat yang tercermin dari meningkatnya pemahaman mengenai pengelolaan limbah organik dan munculnya minat untuk mengembangkan produk sebagai peluang usaha rumahan. Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama, inovasi ini memiliki potensi ekonomi yang baik karena biaya produksinya relatif rendah. Secara keseluruhan, kegiatan ini mendukung penerapan ekonomi sirkular serta memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8, SDGs 12, dan SDGs 13.