Syawaluddin Syawaluddin
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al Maksum Langkat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peradaban Islam Indonesia Pra-Kemerdekaan Sirojul Fuadi; Muhammad Yahya; Agsha Dwi Agustin Ginting; Khairul Azmi; Syawaluddin Syawaluddin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9368

Abstract

Peradaban Islam di Indonesia pra-kemerdekaan memiliki peranan penting dalam membentuk identitas sosial, budaya, politik, dan keagamaan masyarakat Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses masuk dan perkembangan Islam di Indonesia serta hubungan antara Islam dan kekuatan politik pada masa kolonialisme. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis berbagai buku, jurnal ilmiah, dan sumber sejarah yang relevan. Teknik analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk memahami proses islamisasi dan dinamika peradaban Islam di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia, yaitu teori Gujarat, Persia, Arab, dan Cina. Dari berbagai teori tersebut, teori Arab dinilai memiliki argumentasi yang lebih kuat karena didukung oleh catatan perdagangan internasional dan keberadaan komunitas Muslim sejak abad ke-7 Masehi. Penyebaran Islam berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan dakwah budaya. Perkembangan Islam kemudian ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, dan Banten yang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran agama. Selain itu, peran ulama dan Wali Songo sangat penting dalam membentuk corak Islam Nusantara yang moderat dan akomodatif terhadap budaya lokal. Pada masa kolonialisme, Islam berkembang menjadi kekuatan sosial-politik yang mendorong perlawanan terhadap penjajahan Belanda melalui berbagai gerakan dan perang, seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, dan Perang Aceh. Kondisi tersebut juga melahirkan organisasi Islam modern seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang berkontribusi dalam membangun kesadaran nasionalisme Indonesia. Dengan demikian, Islam tidak hanya berfungsi sebagai agama, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas bangsa dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.