Sirojul Fuadi
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al Maksum Langkat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Komparatif Karakteristik Politik-Militer dan Pola Keruntuhan Tiga Kerajaan Besar Islam Sirojul Fuadi; Nurul Happy; Lidya Stefani Br Sitepu; Devi Ramadhani Br Purba; Gita Siti Soleha; Alfany Dwi Lestar; Nurnabila Azmi
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.10355

Abstract

Tiga Kerajaan Besar Islam, yang terdiri dari Kesultanan Turki Usmani, Dinasti Safawi Persia, dan Dinasti Mughal India, merupakan pilar utama penyangga peradaban Islam pada periode pertengahan hingga awal modernitas. Meskipun lahir dalam kurun waktu yang berdekatan, ketiganya mengadopsi struktur institusi, strategi militer, dan orientasi teologis yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif mengenai karakteristik politik-militer serta membedah benang merah dari pola keruntuhan yang dialami oleh ketiga imperium tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah (historis-komparatif) yang meliputi empat tahapan sistematis, yaitu heuristik, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan politik-militer ketiga kerajaan ditopang oleh korps militer elite yang adaptif terhadap teknologi senjata api, seperti pasukan Janissary di Usmani, Ghulam di Safawi, dan sistem Mansabdari di Mughal. Namun, pola keruntuhan ketiganya memperlihatkan kemiripan struktural yang laten. Faktor internal berupa pembusukan birokrasi, konflik suksesi yang berkepanjangan, dan pembalikan kebijakan toleransi memicu runtuhnya kohesi sosial-politik dari dalam. Kerentanan internal ini diperparah oleh faktor eksternal berupa penetrasi kolonialisme Barat dan ketidakmampuan militer tradisional mereka dalam mengimbangi laju modernisasi industri global. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa kejatuhan sebuah peradaban besar tidak bersifat tunggal, melainkan akibat dari kegagalan adaptasi struktural terhadap dinamisnya konstelasi geopolitik zaman
Peradaban Islam Indonesia Pra-Kemerdekaan Sirojul Fuadi; Muhammad Yahya; Agsha Dwi Agustin Ginting; Khairul Azmi; Syawaluddin Syawaluddin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9368

Abstract

Peradaban Islam di Indonesia pra-kemerdekaan memiliki peranan penting dalam membentuk identitas sosial, budaya, politik, dan keagamaan masyarakat Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses masuk dan perkembangan Islam di Indonesia serta hubungan antara Islam dan kekuatan politik pada masa kolonialisme. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis berbagai buku, jurnal ilmiah, dan sumber sejarah yang relevan. Teknik analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk memahami proses islamisasi dan dinamika peradaban Islam di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia, yaitu teori Gujarat, Persia, Arab, dan Cina. Dari berbagai teori tersebut, teori Arab dinilai memiliki argumentasi yang lebih kuat karena didukung oleh catatan perdagangan internasional dan keberadaan komunitas Muslim sejak abad ke-7 Masehi. Penyebaran Islam berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan dakwah budaya. Perkembangan Islam kemudian ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, dan Banten yang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran agama. Selain itu, peran ulama dan Wali Songo sangat penting dalam membentuk corak Islam Nusantara yang moderat dan akomodatif terhadap budaya lokal. Pada masa kolonialisme, Islam berkembang menjadi kekuatan sosial-politik yang mendorong perlawanan terhadap penjajahan Belanda melalui berbagai gerakan dan perang, seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, dan Perang Aceh. Kondisi tersebut juga melahirkan organisasi Islam modern seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang berkontribusi dalam membangun kesadaran nasionalisme Indonesia. Dengan demikian, Islam tidak hanya berfungsi sebagai agama, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas bangsa dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.