Salah satu masalah penting di Ruas Jalan Lingkar Baribis–Panglayungan, Kabupaten Majalengka, adalah kerusakan pada struktur perkerasan lentur, juga dikenal sebagai perkerasan lentur, yang mengakibatkan penurunan aspek kenyamanan, keselamatan, dan umur layanan jalan. Permasalahan ini disebabkan oleh sedimentasi dan penyumbatan di sistem drainase samping serta beban lalu lintas yang tinggi dari kendaraan berat yang mengangkut hasil tambang. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis teknis dan pemetaan komprehensif terhadap tingkat kerusakan perkerasan melalui integrasi metode Pavement Condition Index (PCI) sesuai standar ASTM D6433 dan Road Condition Survey (RCS) berbasis Surface Distress Index (SDI) . Survei deskriptif kuantitatif dengan metode inspeksi visual langsung digunakan pada ruas jalan 400 meter yang terbagi menjadi tiga segmen unit sampel pengamatan. Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa enam jenis kerusakan yang paling umum adalah retak buaya (crack alligator), lubang (potholes), kegemukan aspal (bleeding), penurunan (depression), bekas roda (rutting), dan pengelupasan (raveling). Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa nilai PCI rata-rata sebesar 31,67 termasuk dalam kategori Very Poor (Sangat Buruk). Kondisi yang paling berbahaya ditemukan di Segmen 2, yang memiliki nilai indeks terendah sebesar 20 karena kegagalan struktural tanah dasar. Meskipun demikian, evaluasi fungsional yang dilakukan menggunakan metode RCS menghasilkan nilai rata-rata indeks kondisi sebesar 9,90, yang menempatkan status jalan pada kategori Rusak Ringan hingga Rusak Sedang. Temuan teknis menegaskan hubungan yang kuat antara kerusakan struktur dan kondisi drainase yang buruk di lokasi penelitian. Studi ini menyarankan metode penanganan untuk meningkatkan daya tahan jalan di masa mendatang, seperti rekonstruksi lokal pada titik kegagalan struktur, patching mendalam, overlay tebal 8–10 sentimeter, dan normalisasi sistem drainase samping.