Proses produksi heat exchanger terdiri atas serangkaian tahapan yang saling berkaitan dalam menentukan kualitas produk akhir. Salah satu tahapan yang memiliki peran paling penting adalah proses brazing. Apabila terjadi kegagalan pada proses ini, maka dapat menyebabkan penurunan kualitas produk, meningkatnya jumlah scrap, serta berkurangnya efisiensi proses produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis defect yang muncul pada proses brazing, menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya defect, menentukan prioritas risiko kegagalan, serta menyusun usulan perbaikan pada proses produksi di PT DIID. Metode yang diterapkan adalah Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk menentukan tingkat prioritas risiko melalui perhitungan Risk Priority Number (RPN) berdasarkan nilai Severity, Occurrence, dan Detection. Analisis tersebut didukung oleh penggunaan Fishbone Diagram dengan pendekatan 6M yang meliputi (Man, Machine, Method, Material, Measurement, dan Environment) guna mengidentifikasi akar penyebab terjadinya defect. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan pihak terkait, serta dokumentasi perusahaan selama periode Januari-Maret 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pin hole merupakan jenis defect yang paling dominan dengan persentase sebesar (64,20% dari total defect) yang ditemukan. Selain itu, hasil analisis FMEA menunjukkan bahwa failure mode berupa “ketidakstabilan temperatur torch” memiliki nilai RPN tertinggi, yaitu sebesar (432) sehingga menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan. Usulan perbaikan difokuskan pada pengendalian kebersihan material, pengaturan kestabilan temperatur proses, standarisasi pelaksanaan SOP, serta peningkatan kompetensi operator melalui pelatihan. Penerapan rekomendasi tersebut diharapkan mampu menekan jumlah defect, meningkatkan kualitas produk, serta mendukung peningkatan efisiensi proses produksi pada Line Assembly Heat Exchanger di PT DIID