Saifullah
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Qanā’ah sebagai Solusi Etis-Spiritual dalam Menghadapi FOMO: Telaah Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān Sayyid Quthb atas Surah Ṭāhā Ayat 131 Saifullah; Nurul Hasyqin; Kasmuri; Nixson
Studia Quranika Vol. 11 No. 1 (2026): July
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/studiaquranika.v11i1.32

Abstract

This study explores Sayyid Quthb's interpretation of contentment in Surah Ṭāhā verse 131 through the interpretation of Fī Ẓilāl al-Qur’ān, while also revealing its relevance as a moral basis for dealing with the phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO) in the digital age, namely the era of socio-cultural transformation marked by the massive penetration of digital technology into all aspects of human life including how to interact, communicate, and construct self-identity through social media. The main focus needs to be directed at the role of contentment. This attitude is a spiritual remedy for social anxiety triggered by the habit of comparing oneself on social media. The study adopts a descriptive-analytical approach based on literature study. The main data comes from the text of the Qur'an Surah Ṭāhā (20): 131. To strengthen the analysis, this study not only refers to Sayyid Quthb's thoughts in Fī Ẓilāl al-Qur’ān, but also attempts to dialogue with various other tafsir books. The main contribution of this study lies in exploring the relevance of Sayyid Qutb’s thoughts in Fī Ẓilāl al-Qur’ān to address contemporary mental issues, particularly the phenomenon of FOMO. By making the concept of qanā’ah as a meeting point, this study attempts to open a space for dialogue between Sayyid Qutb’s interpretation and the spiritual needs of digital society, while acknowledging that enrichment from various other interpretive perspectives is still very necessary for a more comprehensive understanding
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Tradisi Salawaik Dulang di Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat Riska Imelia Putri; Jani Arni; Saifullah
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 2 No 1 (2024): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol21.2024.1-12

Abstract

Artikel ini membahas tentang nilai-nilai Qurani dalam Tradisi Salawaik Dulang di Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dalam Islam selawat merupakan pujian dan doa kepada Nabi Muhammad Saw. Selawat ini dianjurkan untuk dibaca karena terdapat perintah berselawat dalam Alquran. Pada praktiknya, masyarakat melantunkan selawat ini dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan cara bersama-sama ataupun sendiri, bahkan selawat telah terintegrasi dengan budaya masyarakat, seperti salawaik dulang. Salawaik dulang ini berbentuk seni, yaitu penyampaian syair-syair yang didendangkan dan dulang sebagai alat musik yang mengiringinya. Salawaik dulang ini telah menjadi tradisi di berbagai daerah di Sumatera Barat, yang bertujuan untuk membaca selawat sambil berdakwah. Sesuai dengan perkembangan zaman, tema serta materi yang disampaikan pada salawaik dulang ini juga mengalami perkembangan, sehingga menarik untuk ditelusuri nilai-nilai Qurani yang ada dalam tradisi tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data di lapangan dari beberapa informan serta juga merujuk kepada tulisan-tulisan yang menjelaskan tentang tradisi salawaik dulang ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa salawaik dulang mengandung nilai-nilai Alquran, meliputi: pertama: nilai akidah berupa perintah mentauhidkan Allah dan perintah untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Kedua: syariah, seperti adanya perintah untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam di antaranya perintah shalat dan zakat. Ketiga: akhlak atau pesan-pesan terkait dengan pembinaan tingkah laku, seperti anjuran selalu bersikap rendah hati dan larangan bersifat sombong. Nilai-nilai ini terlihat pada teks yang disampaikan pada salawaik dulang tersebut.