Jani Arni
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Analisis Dialog Persuasif Mu'min Dengan Fir'aun Dalam Tafsir Sayyid Quthb yovia_violanda Fransiska; Jani Arni; Wilaela Wilaela; Dasman Yahya Ma’ali
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v9i1.1747

Abstract

The persuasive communication used by Mu'min in his dialogue with Pharaoh, as interpreted by Sayyid Quthb, illustrates Mu'min's ability to influence Pharaoh, who initially wanted to kill Prophet Moses, until Pharaoh finally abandoned his plan. This was achieved through the presentation of rational, ethical arguments that touched on psychological aspects. The focus of this study is Sayyid Quthb's interpretation of the dialogue, as well as examining the principles of communication contained therein. This research also identifies Quthb's line of thinking by looking at his ideological and socio-political background. Using qualitative methods and a literature study of Tafsir Fii Zhilalil Qur'an, the results of this study show that Quthb describes Mu'min as a communicator who is courageous, rational, and cares about the spirituality of his communication. This dialogue reflects three principles of effective communication: the moral courage to convey the truth, wisdom in choosing words and timing, and the ability to manage emotions so that the message touches the heart. The combination of historical, logical, and emotional arguments illustrates the harmony of ethos, pathos, and logos that is humanistic and persuasive. Quthb's thinking seems to have been greatly influenced by his life experiences under Egypt's authoritarian regime. Through the styles of al-Adabi wa al-Ijtima'i and da'wah harakah, he viewed this dialogue as a symbol of the resistance of truth against injustice, so that his interpretation was ideological, revolutionary, and anti-authoritarian.
Transformasi Teologis Ratu Balqis: Tafsir QS. Al-Naml: 20-44 dengan Pendekatan Maqāṣid Al-Qur’ān Ibnu ‘Āshūr Syefika Septia Rahmah Ika; Hidayatullah Ismail; Jani Arni; Nixson Husin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1196

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi teologis Ratu Balqis dalam surah al-Naml 20–44 dengan menggunakan pendekatan maqāṣid al-Qur’ān menurut Ibnu ‘Āshūr. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami proses perubahanmka keimanamika keimanan spiritual tokoh-tokoh Qur’ani, tidak hanya dari sisi naratif, tetapi juga dari tujuan-tujuan ilahi yang melandasi penyampaian kisah tersebut. Ratu Balqis merupakan figur pemimpin kerajaan Saba’ yang awalnya menganut praktik penyembahan matahari, namun melalui rangkaian dialog, pengamatan rasional, dan penyaksian mukjizat Nabi Sulaiman, ia mengalami perubahan keyakinan yang mendasar menuju pengakuan tauhid. Penelitian ini menelaah tahapan perubahan tersebut, mulai dari laporan burung hud-hud, respons diplomatis Balqis, sikap kritisnya terhadap informasi yang diterima, hingga puncak perubahan keyakinannya ketika ia menyaksikan singgasananya yang dipindahkan dengan kekuasaan Allah. Melalui analisis tafsir at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibnu ‘Āshūr menegaskan bahwa kisah Balqis bukan hanya narasi historis, melainkan cerminan maqāṣid al-Qur’ān, khususnya dalam aspek pelurusan akidah, penyucian jiwa, penguatan nilai ibrah, serta fungsi peringatan dan kabar gembira. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan keyakinan Balqis merupakan proses bertahap yang menggabungkan daya nalar, pertimbangan etis, serta pengalaman spiritual yang mendalam. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai maqāṣid berperan penting dalam memahami tujuan al-Qur’an menampilkan kisah tersebut, sekaligus memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi tafsir maqāṣidī dalam mengkaji dinamika perubahan keyakinan individu dalam al-Qur’an.
Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Tradisi Salawaik Dulang di Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat Riska Imelia Putri; Jani Arni; Saifullah
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 2 No 1 (2024): ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol21.2024.1-12

Abstract

Artikel ini membahas tentang nilai-nilai Qurani dalam Tradisi Salawaik Dulang di Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dalam Islam selawat merupakan pujian dan doa kepada Nabi Muhammad Saw. Selawat ini dianjurkan untuk dibaca karena terdapat perintah berselawat dalam Alquran. Pada praktiknya, masyarakat melantunkan selawat ini dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan cara bersama-sama ataupun sendiri, bahkan selawat telah terintegrasi dengan budaya masyarakat, seperti salawaik dulang. Salawaik dulang ini berbentuk seni, yaitu penyampaian syair-syair yang didendangkan dan dulang sebagai alat musik yang mengiringinya. Salawaik dulang ini telah menjadi tradisi di berbagai daerah di Sumatera Barat, yang bertujuan untuk membaca selawat sambil berdakwah. Sesuai dengan perkembangan zaman, tema serta materi yang disampaikan pada salawaik dulang ini juga mengalami perkembangan, sehingga menarik untuk ditelusuri nilai-nilai Qurani yang ada dalam tradisi tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data di lapangan dari beberapa informan serta juga merujuk kepada tulisan-tulisan yang menjelaskan tentang tradisi salawaik dulang ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa salawaik dulang mengandung nilai-nilai Alquran, meliputi: pertama: nilai akidah berupa perintah mentauhidkan Allah dan perintah untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Kedua: syariah, seperti adanya perintah untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam di antaranya perintah shalat dan zakat. Ketiga: akhlak atau pesan-pesan terkait dengan pembinaan tingkah laku, seperti anjuran selalu bersikap rendah hati dan larangan bersifat sombong. Nilai-nilai ini terlihat pada teks yang disampaikan pada salawaik dulang tersebut.
Prinsip Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an dan Fenomena Cancel Culture di Media Sosial: Analisis QS. Al-Maidah:8 Perspektif Mufasir Kontemporer Yuni Khairani; Afrizal Nur; Jani Arni
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1363

Abstract

Penelitian ini mengkaji prinsip keadilan sosial dalam QS. al-Maidah: 8 perspektif mufasir kontemporer dan relevansinya terhadap fenomena cancel culture di media sosial. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara nilai keadilan Qur'ani yang bersifat objektif dan imparsial dengan praktik penghakiman publik di ruang digital yang kerap didominasi oleh emosi kolektif, kebencian, dan sanksi sosial yang tidak proporsional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan (library research), dengan sumber primer berupa empat kitab tafsir kontemporer, yaitu Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustofa al-Maraghi, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Qutb, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibnu ‘Ashur, dan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat mufasir sepakat bahwa keadilan dalam QS. al-Maidah: 8 bersifat mutlak, teosentris, dan tidak dapat dikompromikan oleh tekanan sosial maupun sentimen emosional. Adapun relevansi prinsip keadilan tersebut terhadap fenomena cancel culture mencakup enam dimensi, yaitu sebagai kerangka evaluatif normatif, batasan etis terhadap kemarahan kolektif, koreksi atas penghakiman tanpa verifikasi, tolok ukur tanggung jawab moral yang berjenjang, penyangga etik terhadap persekusi digital, serta landasan perlindungan martabat manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa QS. al-Maidah: 8 merupakan panduan etis yang relevan dan aktual dalam merespons dinamika penghakiman publik di era digital, sekaligus menyediakan landasan yang komprehensif untuk mengevaluasi dan membatasi praktik cancel culture agar tetap berada dalam koridor keadilan, objektivitas, dan ketakwaan kepada Allah Swt.