Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SOSIALISASI SKRINING BUTA WARNA DI SD INPRES 2 DESA LISABATA KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Mike J. Rolobessy; Kurniati K. S. Larahibu; Aldrino Mikha Hanorsian; Saija Rumatiga; Fandi Ahmad; Saripa Derlen; Moh Hidayattullah Nadjar; Reza Gunawan Syahdin; Rugaya Loilatu; Risma Waty Sahartira; Silva Ameth; Fiondly Rahaningmas; Bernardo Junior Samu Samu
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.60927

Abstract

Gangguan penglihatan warna atau yang lebih dikenal dengan buta warna merupakan kondisi yang kerap tidak terdeteksi sejak dini, terutama di kalangan siswa sekolah dasar di daerah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Keterbatasan akses pemeriksaan dan minimnya edukasi menjadi dua faktor utama yang menyebabkan banyak anak tumbuh tanpa mengetahui kondisi penglihatan warna mereka sendiri, padahal hal ini dapat berdampak pada proses belajar hingga perencanaan karier di masa depan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SD Inpres 2 Desa Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat pada tanggal 17 April 2026, dengan melibatkan 10 orang siswa berusia 11 hingga 12 tahun sebagai peserta. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan persepsi warna pada siswa sekaligus meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya kesehatan mata sejak usia sekolah. Metode yang digunakan adalah pemeriksaan langsung secara individual menggunakan plate Ishihara, yang dilakukan oleh mahasiswa KKN dari jurusan kedokteran spesialis dengan pendampingan penuh selama proses berlangsung. Sebelum pemeriksaan dimulai, siswa terlebih dahulu diberikan sosialisasi mengenai apa itu buta warna, jenis-jenisnya, penyebab, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian siswa terindikasi mengalami gangguan penglihatan warna dalam kategori tertentu, sementara sebagian lainnya memiliki penglihatan warna yang normal. Seluruh hasil kemudian disampaikan kepada pihak sekolah sebagai bahan evaluasi, dan siswa yang terindikasi mengalami gangguan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Kegiatan ini dinilai efektif tidak hanya sebagai langkah deteksi dini, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang membantu siswa dan pihak sekolah lebih sadar terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan mata secara rutin.