Muhammad Fikri
Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Kota Padangpanjang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TRANSMISI TARI PODANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAK BENDA DI NAGARI KOTO NAN GADANG KOTA PAYAKUMBUH PROVINSI SUMATERA BARAT Ayu Maharani; Muhammad Fikri; Auliana Mukhti Maghfirah; Suaida
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 4 No. 2 (2026): July - December 2026
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transmisi Tari Podang sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, serta mengidentifikasi hambatan dalam keberlanjutannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara bersama pihak Dinas Pariwisata, masyarakat, penari, serta dua maestro Tari Podang, yaitu Bapak Dt. Lelo Sati dan Bapak Dt. Bijo Nan Hitam. Data sekunder dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumen kebudayaan terkait.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses transmisi Tari Podang di Sanggar Puti Elok berlangsung melalui empat jalur utama. Pertama, transmisi vertikal secara antargenerasi dari maestro ke murid. Kedua, transmisi material dan simbolik berupa pemenuhan syarat adat seperti bareh sagantang, sakabuang kain putiah, pitih sapiek, dan ritual darah ayam sebagai pengikat komitmen moral. Ketiga, transmisi praktik tubuh melalui metode demonstrasi dan peniruan gerak silat baku. Keempat, transmisi institusional melalui pengelolaan sanggar seni.Meskipun telah resmi ditetapkan sebagai WBTB Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 315/M/2023, proses regenerasi tarian ini menghadapi hambatan serius. Faktor internal berupa ketatnya aturan pakem, keharusan menguasai kuda-kuda rendah (stralak), penggunaan properti pedang, serta keterbatasan jumlah pewaris utama membuat tarian ini terkesan monoton bagi generasi muda. Faktor eksternal seperti pergeseran selera seni remaja ke arah modern, gempuran tren digital, serta belum meratanya pengetahuan masyarakat Payakumbuh turut memperlambat perluasan ilmu. Untuk mengatasinya, sanggar melakukan strategi adaptasi dengan membuka akses bagi penari perempuan demi menjaga keberlanjutan tradisi agar tidak punah.