Artikel ini mengkaji ulang proyek Islamisasi Ilmu (Islamization of Knowledge) yang dipelopori oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi sejak akhir abad ke-20, dengan tujuan melakukan kritik dan rekonstruksi epistemologis dalam perspektif kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori epistemologi Islam dan Islamisasi Ilmu (al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Bakar) sebagai grand theory, teori kritik dan rekonstruksi epistemologi kontemporer (Amin Abdullah, Kuntowijoyo, Kartanegara, Sardar, Rahman, Acikgenc, Barbour, Kuhn, Hallaq) sebagai middle theory, serta teori implementasi integrasi epistemologi dalam pendidikan Islam era digital (Sihab dan Imaduddin, Afandi et al., Nasution et al., Syafei dan Riadi, Fitria et al., Awang et al., Muzainah et al., Farsimadan et al., Cinar, Bosnak, Syarip et al., Zulpianto et al., Nasution et al., Hibatullah dan Riyadi, Wulandari et al., Rahmani et al., artikel-artikel Amin Abdullah di Studia Islamika, artikel-artikel Osman Bakar di Al-Shajarah, artikel-artikel Al-Jamiah) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa proyek Islamisasi Ilmu menghadapi lima kritik fundamental: (1) kecenderungan essentialis yang mengabaikan pluralisme epistemologis internal Islam; (2) dikotomisasi yang berlebihan antara ilmu Barat dan ilmu Islam; (3) kegagalan mengakomodasi paradigma sains kontemporer post-positivis; (4) ketidakjelasan metodologis dalam operasionalisasi integrasi; (5) kurangnya respons terhadap tantangan era digital dan kecerdasan buatan. Artikel ini merekonstruksi Islamisasi Ilmu dengan menawarkan paradigma integratif-interkonektif Amin Abdullah, integrasi tri-epistemologi bayani-burhani-irfani, dekolonisasi epistemologi perspektif Global South, dan respons epistemologis terhadap era kecerdasan buatan. Penelitian menyimpulkan bahwa rekonstruksi Islamisasi Ilmu memerlukan pergeseran dari paradigma substitusi ke paradigma integrasi-transformasi, dari pendekatan monolitik ke pendekatan pluralistik-kontekstual, dari epistemologi tertutup ke epistemologi terbuka-dialogis. Implikasi praktis adalah perlunya pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi, serta pembentukan komunitas epistemologis lintas disiplin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas.