Masrum
Universitas Darul 'Ulum Lamongan, IAI Ar-Risalah INHIL Riau, STAIN Sultan Abdurrahman Kepri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformative Educational Management: Sintesis Kepemimpinan Visioner dan Budaya Akademik Modern Masrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1195

Abstract

Artikel ini mengkaji transformative educational management sebagai sintesis antara kepemimpinan visioner dan budaya akademik modern dalam menghadapi kompleksitas transformasi pendidikan tinggi abad ke-21. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis konseptual-sintetik. Kerangka teoretis dibangun secara berlapis: Transformational Leadership Theory (Bass & Riggio) sebagai grand theory, Learning Organization Theory (Senge) dan Culture of Change Theory (Fullan) sebagai middle theory, Organizational Culture Theory (Schein) sebagai supporting theory, serta Innovative University Theory (Christensen & Eyring) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa transformative educational management menuntut lima sintesis fundamental: (1) sintesis antara visi transformatif dan eksekusi strategis; (2) sintesis antara kepemimpinan inspiratif dan budaya akademik kolaboratif; (3) sintesis antara inovasi disruptif dan kontinuitas institusional; (4) sintesis antara akuntabilitas kinerja dan otonomi akademik; (5) sintesis antara globalisasi pendidikan dan kontekstualisasi lokal. Artikel ini mengidentifikasi enam dimensi operasional transformative educational management: visioning strategis, capacity building, cultural transformation, innovation ecosystem, stakeholder engagement, dan adaptive governance. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak dapat dicapai melalui kepemimpinan heroik individual atau reformasi struktural parsial, melainkan melalui integrasi sistematis antara kepemimpinan visioner yang inspiratif dan budaya akademik yang mendukung inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan mengembangkan kapasitas kepemimpinan transformasional pada multiple levels, membangun budaya akademik yang berorientasi pada keunggulan dan inovasi, serta merancang tata kelola yang adaptif terhadap turbulensi lingkungan.
Islamization of Knowledge Revisited: Kritik dan Rekonstruksi dalam Perspektif Kontemporer Masrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1196

Abstract

Artikel ini mengkaji ulang proyek Islamisasi Ilmu (Islamization of Knowledge) yang dipelopori oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi sejak akhir abad ke-20, dengan tujuan melakukan kritik dan rekonstruksi epistemologis dalam perspektif kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori epistemologi Islam dan Islamisasi Ilmu (al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Bakar) sebagai grand theory, teori kritik dan rekonstruksi epistemologi kontemporer (Amin Abdullah, Kuntowijoyo, Kartanegara, Sardar, Rahman, Acikgenc, Barbour, Kuhn, Hallaq) sebagai middle theory, serta teori implementasi integrasi epistemologi dalam pendidikan Islam era digital (Sihab dan Imaduddin, Afandi et al., Nasution et al., Syafei dan Riadi, Fitria et al., Awang et al., Muzainah et al., Farsimadan et al., Cinar, Bosnak, Syarip et al., Zulpianto et al., Nasution et al., Hibatullah dan Riyadi, Wulandari et al., Rahmani et al., artikel-artikel Amin Abdullah di Studia Islamika, artikel-artikel Osman Bakar di Al-Shajarah, artikel-artikel Al-Jamiah) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa proyek Islamisasi Ilmu menghadapi lima kritik fundamental: (1) kecenderungan essentialis yang mengabaikan pluralisme epistemologis internal Islam; (2) dikotomisasi yang berlebihan antara ilmu Barat dan ilmu Islam; (3) kegagalan mengakomodasi paradigma sains kontemporer post-positivis; (4) ketidakjelasan metodologis dalam operasionalisasi integrasi; (5) kurangnya respons terhadap tantangan era digital dan kecerdasan buatan. Artikel ini merekonstruksi Islamisasi Ilmu dengan menawarkan paradigma integratif-interkonektif Amin Abdullah, integrasi tri-epistemologi bayani-burhani-irfani, dekolonisasi epistemologi perspektif Global South, dan respons epistemologis terhadap era kecerdasan buatan. Penelitian menyimpulkan bahwa rekonstruksi Islamisasi Ilmu memerlukan pergeseran dari paradigma substitusi ke paradigma integrasi-transformasi, dari pendekatan monolitik ke pendekatan pluralistik-kontekstual, dari epistemologi tertutup ke epistemologi terbuka-dialogis. Implikasi praktis adalah perlunya pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi, serta pembentukan komunitas epistemologis lintas disiplin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas.