Said Maskur
Universitas Darul 'Ulum Lamongan, IAI Ar-Risalah INHIL Riau, STAIN Sultan Abdurrahman Kepri

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Knowledge Integration Model: Sinergi Sains Modern dan Nilai Keislaman dalam Pendidikan Tinggi Reno Pardiansyah; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1194

Abstract

Artikel ini mengkaji knowledge integration model sebagai model sinergi antara sains modern dan nilai keislaman dalam pendidikan tinggi Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-sintetik. Kerangka teoretis dibangun secara berlapis: paradigma Integrasi-Interkoneksi Amin Abdullah sebagai grand theory, Pengilmuan Islam Kuntowijoyo sebagai middle theory, Islamization of Knowledge al-Attas dan al-Faruqi serta Sacred Science Seyyed Hossein Nasr sebagai supporting theory, dan Maqāṣid-Based Integration Jasser Auda sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa knowledge integration model menuntut lima dimensi sinergi fundamental: (1) sinergi epistemologis antara wahyu, rasio, dan pengalaman empiris; (2) sinergi metodologis antara pendekatan bayani, burhani, dan irfani; (3) sinergi aksiologis antara nilai-nilai keislaman dan etika sains modern; (4) sinergi institusional antara fakultas ilmu agama dan ilmu umum; (5) sinergi pedagogis antara pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Artikel ini mengidentifikasi enam pilar operasional knowledge integration model: integrasi kurikulum berbasis maqāṣid, pengembangan metodologi riset lintas-disiplin, penguatan kapasitas dosen integratif, transformasi tata kelola, pengembangan ekosistem inovasi, dan internasionalisasi pendidikan tinggi Islam. Penelitian menyimpulkan bahwa knowledge integration model menuntut pergeseran dari paradigma dikotomis-fragmentaris ke paradigma sinergis-integratif, dari pendekatan monolitis-essentialist ke pendekatan pluralistik-kontekstual, serta dari epistemologi tertutup ke epistemologi terbuka-dialogis. Implikasi praktis adalah perlunya pendidikan tinggi Islam mengembangkan ekosistem akademik yang mengintegrasikan sains modern dan nilai keislaman sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi, serta membangun komunitas epistemologis lintas-disiplin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas dalam menghadapi tantangan era kecerdasan buatan.
Transformative Educational Management: Sintesis Kepemimpinan Visioner dan Budaya Akademik Modern Masrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1195

Abstract

Artikel ini mengkaji transformative educational management sebagai sintesis antara kepemimpinan visioner dan budaya akademik modern dalam menghadapi kompleksitas transformasi pendidikan tinggi abad ke-21. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis konseptual-sintetik. Kerangka teoretis dibangun secara berlapis: Transformational Leadership Theory (Bass & Riggio) sebagai grand theory, Learning Organization Theory (Senge) dan Culture of Change Theory (Fullan) sebagai middle theory, Organizational Culture Theory (Schein) sebagai supporting theory, serta Innovative University Theory (Christensen & Eyring) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa transformative educational management menuntut lima sintesis fundamental: (1) sintesis antara visi transformatif dan eksekusi strategis; (2) sintesis antara kepemimpinan inspiratif dan budaya akademik kolaboratif; (3) sintesis antara inovasi disruptif dan kontinuitas institusional; (4) sintesis antara akuntabilitas kinerja dan otonomi akademik; (5) sintesis antara globalisasi pendidikan dan kontekstualisasi lokal. Artikel ini mengidentifikasi enam dimensi operasional transformative educational management: visioning strategis, capacity building, cultural transformation, innovation ecosystem, stakeholder engagement, dan adaptive governance. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak dapat dicapai melalui kepemimpinan heroik individual atau reformasi struktural parsial, melainkan melalui integrasi sistematis antara kepemimpinan visioner yang inspiratif dan budaya akademik yang mendukung inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan mengembangkan kapasitas kepemimpinan transformasional pada multiple levels, membangun budaya akademik yang berorientasi pada keunggulan dan inovasi, serta merancang tata kelola yang adaptif terhadap turbulensi lingkungan.
Islamization of Knowledge Revisited: Kritik dan Rekonstruksi dalam Perspektif Kontemporer Masrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1196

Abstract

Artikel ini mengkaji ulang proyek Islamisasi Ilmu (Islamization of Knowledge) yang dipelopori oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi sejak akhir abad ke-20, dengan tujuan melakukan kritik dan rekonstruksi epistemologis dalam perspektif kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori epistemologi Islam dan Islamisasi Ilmu (al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Bakar) sebagai grand theory, teori kritik dan rekonstruksi epistemologi kontemporer (Amin Abdullah, Kuntowijoyo, Kartanegara, Sardar, Rahman, Acikgenc, Barbour, Kuhn, Hallaq) sebagai middle theory, serta teori implementasi integrasi epistemologi dalam pendidikan Islam era digital (Sihab dan Imaduddin, Afandi et al., Nasution et al., Syafei dan Riadi, Fitria et al., Awang et al., Muzainah et al., Farsimadan et al., Cinar, Bosnak, Syarip et al., Zulpianto et al., Nasution et al., Hibatullah dan Riyadi, Wulandari et al., Rahmani et al., artikel-artikel Amin Abdullah di Studia Islamika, artikel-artikel Osman Bakar di Al-Shajarah, artikel-artikel Al-Jamiah) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa proyek Islamisasi Ilmu menghadapi lima kritik fundamental: (1) kecenderungan essentialis yang mengabaikan pluralisme epistemologis internal Islam; (2) dikotomisasi yang berlebihan antara ilmu Barat dan ilmu Islam; (3) kegagalan mengakomodasi paradigma sains kontemporer post-positivis; (4) ketidakjelasan metodologis dalam operasionalisasi integrasi; (5) kurangnya respons terhadap tantangan era digital dan kecerdasan buatan. Artikel ini merekonstruksi Islamisasi Ilmu dengan menawarkan paradigma integratif-interkonektif Amin Abdullah, integrasi tri-epistemologi bayani-burhani-irfani, dekolonisasi epistemologi perspektif Global South, dan respons epistemologis terhadap era kecerdasan buatan. Penelitian menyimpulkan bahwa rekonstruksi Islamisasi Ilmu memerlukan pergeseran dari paradigma substitusi ke paradigma integrasi-transformasi, dari pendekatan monolitik ke pendekatan pluralistik-kontekstual, dari epistemologi tertutup ke epistemologi terbuka-dialogis. Implikasi praktis adalah perlunya pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi, serta pembentukan komunitas epistemologis lintas disiplin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas.
Beyond Conventional Schooling: Paradigma Baru Manajemen Pendidikan pada Era Society 5.0 Irwasyah; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1197

Abstract

Artikel ini mengkaji paradigma baru manajemen pendidikan yang melampaui sekolah konvensional (beyond conventional schooling) dalam menjawab tantangan era Society 5.0 yang ditandai oleh integrasi kecerdasan buatan, internet of things, big data, dan siber-fisik dalam ekosistem pendidikan. Sekolah konvensional yang berbasis pada ruang-kelas terbatas, jadwal kaku, kurikulum seragam, dan relasi guru-siswa hierarkhis telah mengalami obsolesensi struktural ketika berhadapan dengan tuntutan pembelajaran sepanjang hayat, personalisasi pembelajaran, dan integrasi teknologi cerdas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis paradigmatik-filosofis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat jaringan dan revolusi industri keempat (Castells, Schwab, Floridi, Drucker) sebagai grand theory, teori organisasi pembelajar dan inovasi pendidikan (Senge, Christensen & Eyring, Fullan & Scott, Siemens, Jarvis, Chesbrough) sebagai middle theory, serta teori transformasi digital pendidikan dan tata kelola perguruan tinggi era Society 5.0 (Shobri & Jaosantia, Rahmawati, Asad et al., Muanifah & Haq, Laura Icela et al., Telukdarie & Makoni, Marzouq, Samadhiya et al., Alfarizi et al., Yaras & Gunduzalp, Baihaqi et al., Marzuki & Sudrajat, Zuhri et al., Widiyanti & Fakhriyan, Živković et al., Fernández et al., Leal Filho et al., Nazyrova et al., Kang & Xu, Ukeje et al., Morgan, Mintzberg, Hargreaves, Altbach & de Wit, Etzkowitz) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa paradigma baru manajemen pendidikan era Society 5.0 menuntut lima pergeseran fundamental: (1) dari ruang-kelas terbatas ke ekosistem pembelajaran tanpa batas; (2) dari kurikulum seragam ke personalisasi pembelajaran berbasis AI; (3) dari relasi guru-sisi hierarkhis ke relasi kolaboratif-kolegial; (4) dari tata kelola top-down ke co-governance multipihak; (5) dari pencapaian akademik terukur ke pengembangan agensi manusia multidimensi. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan manajemen pendidikan terletak pada reorientasi paradigmatik yang mengintegrasikan kecerdasan teknologi dengan kebijaksanaan manusiawi, melahirkan ekosistem pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan mengembangkan kepemimpinan transformasional, infrastruktur digital, kompetensi dosen-guru digital, kemitraan triple helix, dan tata kelola berorientasi stakeholder.
Maqasid al-Syariah sebagai Basis Epistemologis Integrasi Ilmu dan Hukum Islam di Era Modern Irwasyah; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1198

Abstract

Artikel ini mengkaji Maqasid al-Syariah sebagai basis epistemologis integrasi ilmu dan hukum Islam di era modern, sebagai respons terhadap krisis epistemologis yang muncul akibat fragmentasi disiplin keilmuan dan kegersangan pendekatan tekstual-formalis dalam hukum Islam kontemporer. Konteks era modern yang ditandai oleh revolusi digital, kecerdasan buatan, dan kompleksitas sosial-ekonomi global menuntut rekonstruksi epistemologi hukum Islam yang mampu menjembatani dimensi normatif teks suci dengan dinamika empirik kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori maqasid al-syariah sebagai filosofi hukum Islam (Auda, al-Raysuni, al-Qaradawi, Kamali, Ramadan, Hallaq) sebagai grand theory, teori integrasi ilmu berbasis tauhid dan Islamisasi ilmu (al-Attas, al-Faruqi, Kartanegara, Kuntowijoyo, Bakar, Rahman, Amin Abdullah) sebagai middle theory, serta teori implementasi maqasid dalam hukum, ekonomi, pendidikan, dan kecerdasan buatan (Susanto & Mukri, Hassan et al., Ahmed, Wahab & Kuswanjuno, Wahab & Mahdiya, Malik, Nurdi & Cahyadi, Widyanto et al., Hilabi, Hasnan et al., Awang et al., Baimakhanova, Thoriquttyas & Rohmawati, Mustaffha, Abidin & Affandy, Alqarny, Rifai et al.) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa Maqasid al-Syariah menawarkan tiga kontribusi epistemologis fundamental: (1) reorientasi teleologis ilmu dan hukum Islam dari pendekatan tekstual-formalis ke pendekatan berbasis tujuan-tujuan luhur syariah (hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasl, hifz al-mal); (2) sistem epistemologi terbuka yang mengintegrasikan wahyu, akal, pengalaman, dan data empirik dalam kerangka maqasid; serta (3) kerangka integrasi interdisiplin-transdisiplin yang mampu menjembatani disiplin hukum Islam dengan ilmu-ilmu kontemporer seperti ekonomi, pendidikan, dan teknologi kecerdasan buatan. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan hukum Islam di era modern terletak pada rekonstruksi epistemologis berbasis maqasid, sehingga lahir hukum Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar normatifnya. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan tinggi Islam, lembaga fatwa, dan otoritas hukum Islam mengembangkan kurikulum berbasis maqasid, kapasitas ijtihad kontekstual, dan tata kelola fatwa berorientasi maqasid.
Neo-Educational Governance: Rekonstruksi Tata Kelola Lembaga Pendidikan berbasis Kecerdasan Adaptif Global Muhammad Sahwil; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1199

Abstract

Artikel ini mengkaji neo-educational governance sebagai upaya rekonstruksi tata kelola lembaga pendidikan berbasis kecerdasan adaptif global di era disrupsi teknologi dan turbulensi kompleks. Lembaga pendidikan saat ini menghadapi kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang dipicu oleh revolusi industri keempat, kecerdasan buatan generatif, pasca-pandemi COVID-19, dan ketidakpastian geopolitik-ekonomi global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana kebijakan-manajerial. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat jaringan dan revolusi industri keempat (Castells, Drucker, Schwab, Floridi) sebagai grand theory, teori adaptive governance dan AI governance di pendidikan tinggi (Enaifoghe, Wang & Xie, Eissa, Şen et al., Khairullah et al., Sianipar & Angelia, Alqurni, Yang & Peters) sebagai middle theory, serta teori kepemimpinan transformasional dan pembelajaran organisasi (Henkel & Ade, Gurr et al., Bergsteedt & du Plessis, Murgatroyd, Senge, Mintzberg, Morgan) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa neo-educational governance memerlukan lima pilar: (1) kepemimpinan adaptif berbasis strategic foresight dan sensemaking; (2) integrasi AI governance yang bertanggung jawab dengan etika humanis; (3) tata kelola co-governance berbasis pemangku kepentingan; (4) ekosistem kemitraan triple helix dan open innovation; dan (5) keberlanjutan institusional melalui transformasi digital yang berkelanjutan. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan tata kelola pendidikan terletak pada pengembangan kecerdasan adaptif global yang mampu menavigasi kompleksitas, mengintegrasikan teknologi cerdas dengan kearifan manusiawi, dan membangun resiliensi institusional yang berkelanjutan. Implikasi praktis adalah perlunya pemimpin pendidikan mengembangkan kapasitas adaptive leadership, kapabilitas digital, dan budaya inovasi yang terdistribusi.
Spiritual Science Integration: Harmonisasi Nilai Islam dengan Metodologi Ilmiah Modern Muhammad Sahwil; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1200

Abstract

Artikel ini mengkaji spiritual science integration sebagai upaya harmonisasi nilai-nilai Islam dengan metodologi ilmiah modern dalam kerangka rekonstruksi epistemologi keilmuan Islam kontemporer. Krisis sains modern yang ditandai oleh reduksionisme, sekularisme metodologis, dan disorientasi etis telah menuntut reorientasi fundamental terhadap konsep ilmu pengetahuan yang berbasis pada paradigma tauhid. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori Islamisasi ilmu pengetahuan dan kritik terhadap sains sekuler (al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Sardar) sebagai grand theory, teori integrasi ilmu berbasis tauhid dan maqasid al-shariah (Bakar, Kartanegara, Auda, Açikgenç, Rahman) sebagai middle theory, serta teori multidisiplin-interdisiplin-transdisiplin dan sintesis bayani-burhani-irfani (Amin Abdullah, Kuntowijoyo) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa spiritual science integration memerlukan empat dimensi: (1) rekonstruksi ontologis-epistemologis berbasis paradigma tauhid yang mengintegrasikan dimensi material dan spiritual realitas; (2) sintesis tiga metode keilmuan Islam (bayani, burhani, irfani) dengan metodologi ilmiah modern (empiris, rasional, eksperimental); (3) reorientasi teleologis sains berbasis maqasid al-shariah yang mengarahkan ilmu pengetahuan pada kemaslahatan manusia dan lingkungan; serta (4) institusionalisasi integrasi dalam pendidikan tinggi Islam melalui kurikulum integratif, paradigma riset prophetic, dan ekosistem keilmuan multidimensi. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan sains Islam tidak terletak pada penolakan terhadap sains modern tetapi pada rekonstruksi epistemologis yang mengakar pada tauhid, sehingga lahir sains yang bertanggung jawab etis, sosial, dan ekologis. Implikasi praktis adalah perlunya perguruan tinggi Islam mengembangkan kurikulum integratif, kapasitas dosen multidisipliner, dan tata kelola riset berbasis maqasid al-shariah.
Innovation-Driven University Management: Strategi Perguruan Tinggi Menghadapi Turbulensi Global Suroso; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1201

Abstract

Artikel ini mengkaji innovation-driven university management sebagai strategi strategis bagi perguruan tinggi dalam menghadapi turbulensi global yang semakin kompleks dan tidak terduga. Turbulensi global yang ditandai oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan pasca-pandemi COVID-19 telah menempatkan perguruan tinggi pada situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang menuntut reorientasi fundamental dalam manajemen pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana kebijakan-manajerial. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat pasca-kapitalis dan jaringan (Drucker, Castells, Schwab, Floridi) sebagai grand theory, teori entrepreneurial university dan open innovation (Clark, Chesbrough, Christensen & Eyring) sebagai middle theory, serta kepemimpinan transformasional dan tata kelola adaptif (Henkel & Ade, Murgatroyd, Gomez et al., Ukeje et al.) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa perguruan tinggi memerlukan reorientasi manajemen melalui lima pilar innovation-driven: (1) kepemimpinan transformasional dan strategic agility; (2) arsitektur entrepreneurial university yang mengintegrasikan misi akademik dan kewirausahaan; (3) ekosistem open innovation dan kemitraan strategis multi-aktor; (4) infrastruktur transformasi digital yang berkelanjutan; dan (5) adaptive governance berbasis stakeholder co-governance. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan perguruan tinggi dalam turbulensi global tidak terletak pada pertahanan status quo tetapi pada kapasitas untuk terus berinovasi secara sistemik, dengan menempatkan inovasi sebagai inti manajemen institusional. Implikasi praktis penelitian ini adalah perlunya pemimpin perguruan tinggi mengembangkan kapasitas strategic foresight, kemitraan ekosistem, dan budaya inovasi yang terdistribusi di seluruh lini institusi
Epistemologi Integratif dan Masa Depan Pendidikan Tinggi Islam dalam Menghadapi Revolusi Industri 5.0 Suroso; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1202

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi integratif sebagai kerangka konseptual untuk meretas masa depan pendidikan tinggi Islam dalam menghadapi revolusi industri 5.0. Revolusi industri 5.0 yang menekankan integrasi antara kecerdasan buatan, teknologi cyber-physical, dan nilai-nilai kemanusiaan membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan tinggi Islam. Di satu sisi, pendidikan tinggi Islam menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan ekosistem digital yang sangat berbeda dari model pendidikan tradisional; di sisi lain, revolusi industri 5.0 justru membuka ruang bagi pengembangan model pendidikan yang mengintegrasikan teknologi canggih dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, sejalan dengan visi pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana filosofis-pedagogis. Kerangka teoretis dibangun dengan menempatkan epistemologi integratif Islam (integrasi bayani, burhani, irfani) sebagai paradigma, revolusi industri 5.0 sebagai konteks, dan pendidikan tinggi Islam sebagai fokus analisis. Temuan utama menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam perlu melakukan reorientasi epistemologis melalui integrasi tiga dimensi: (1) integrasi sumber pengetahuan melalui sintesis wahyu, akal, indra, dan intuisi dalam kerangka tauhid; (2) integrasi metode keilmuan melalui kombinasi bayani (tekstual-linguistik), burhani (rasional-empirik), dan irfani (intuitif-spiritual); dan (3) integrasi teknologi dan nilai melalui pemanfaatan kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data dengan orientasi maqasid al-syariah. Model epistemologi integratif yang diusulkan terdiri atas lima komponen sinergis: kurikulum integratif berbasis maqasid, pedagogi profetik-digital, kompetensi dosen integratif, tata kelola data beretika Islam, dan ekosistem kemitraan multi-aktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan pendidikan tinggi Islam di era revolusi industri 5.0 tidak terletak pada penolakan teknologi tetapi pada kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kerangka epistemologis Islam yang komprehensif, sehingga menghasilkan pendidikan yang tidak hanya secara teknologis maju tetapi juga secara spiritual dan etis bermakna.
Digital Academic Ecosystem: Reorientasi Manajemen Pendidikan Tinggi dalam Lanskap Global Kontemporer Sukri; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1203

Abstract

Artikel ini mengkaji reorientasi manajemen pendidikan tinggi dalam membangun digital academic ecosystem (ekosistem akademik digital) yang adaptif terhadap lanskap global kontemporer. Pandemi COVID-19, percepatan revolusi industri 4.0, dan kemunculan kecerdasan buatan generatif telah memaksa perguruan tinggi di seluruh dunia melakukan transformasi digital yang sebelumnya diperkirakan memakan dekade menjadi proses yang berlangsung dalam hitungan bulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka sistematis dan analisis wacana kebijakan pendidikan tinggi global. Temuan utama menunjukkan bahwa reorientasi manajemen pendidikan tinggi harus dilakukan pada empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu reorientasi paradigmatik dari institusi pendidikan tradisional menuju ekosistem akademik digital, reorientasi struktural dari hierarki birokratis menuju jaringan kolaboratif lintas pemangku kepentingan, reorientasi pedagogis dari transmisi pengetahuan menuju koproduksi pengetahuan berbasis data, dan reorientasi kultural dari budaya akademik tertutup menuju budaya akademik terbuka yang berorientasi pada dampak sosial. Model digital academic ecosystem yang diusulkan terdiri atas lima komponen sinergis, yaitu infrastruktur digital sebagai fondasi, tata kelola data sebagai sistem saraf, kompetensi digital sivitas akademika sebagai aktor, kemitraan ekosistem sebagai jaringan, dan budaya inovasi sebagai iklim akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital di pendidikan tinggi bukanlah proyek teknologis semata melainkan transformasi kultural dan paradigmatik yang memerlukan kepemimpinan visioner, koherensi kebijakan, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan dan berkeadilan.