Artikel ini mengkaji epistemologi integratif sebagai kerangka konseptual untuk meretas masa depan pendidikan tinggi Islam dalam menghadapi revolusi industri 5.0. Revolusi industri 5.0 yang menekankan integrasi antara kecerdasan buatan, teknologi cyber-physical, dan nilai-nilai kemanusiaan membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan tinggi Islam. Di satu sisi, pendidikan tinggi Islam menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan ekosistem digital yang sangat berbeda dari model pendidikan tradisional; di sisi lain, revolusi industri 5.0 justru membuka ruang bagi pengembangan model pendidikan yang mengintegrasikan teknologi canggih dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, sejalan dengan visi pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana filosofis-pedagogis. Kerangka teoretis dibangun dengan menempatkan epistemologi integratif Islam (integrasi bayani, burhani, irfani) sebagai paradigma, revolusi industri 5.0 sebagai konteks, dan pendidikan tinggi Islam sebagai fokus analisis. Temuan utama menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam perlu melakukan reorientasi epistemologis melalui integrasi tiga dimensi: (1) integrasi sumber pengetahuan melalui sintesis wahyu, akal, indra, dan intuisi dalam kerangka tauhid; (2) integrasi metode keilmuan melalui kombinasi bayani (tekstual-linguistik), burhani (rasional-empirik), dan irfani (intuitif-spiritual); dan (3) integrasi teknologi dan nilai melalui pemanfaatan kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data dengan orientasi maqasid al-syariah. Model epistemologi integratif yang diusulkan terdiri atas lima komponen sinergis: kurikulum integratif berbasis maqasid, pedagogi profetik-digital, kompetensi dosen integratif, tata kelola data beretika Islam, dan ekosistem kemitraan multi-aktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan pendidikan tinggi Islam di era revolusi industri 5.0 tidak terletak pada penolakan teknologi tetapi pada kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kerangka epistemologis Islam yang komprehensif, sehingga menghasilkan pendidikan yang tidak hanya secara teknologis maju tetapi juga secara spiritual dan etis bermakna.