Suroso
Universitas Darul 'Ulum Lamongan, IAI Ar-Risalah INHIL Riau, STAIN Sultan Abdurrahman Kepri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Innovation-Driven University Management: Strategi Perguruan Tinggi Menghadapi Turbulensi Global Suroso; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1201

Abstract

Artikel ini mengkaji innovation-driven university management sebagai strategi strategis bagi perguruan tinggi dalam menghadapi turbulensi global yang semakin kompleks dan tidak terduga. Turbulensi global yang ditandai oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan pasca-pandemi COVID-19 telah menempatkan perguruan tinggi pada situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang menuntut reorientasi fundamental dalam manajemen pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana kebijakan-manajerial. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat pasca-kapitalis dan jaringan (Drucker, Castells, Schwab, Floridi) sebagai grand theory, teori entrepreneurial university dan open innovation (Clark, Chesbrough, Christensen & Eyring) sebagai middle theory, serta kepemimpinan transformasional dan tata kelola adaptif (Henkel & Ade, Murgatroyd, Gomez et al., Ukeje et al.) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa perguruan tinggi memerlukan reorientasi manajemen melalui lima pilar innovation-driven: (1) kepemimpinan transformasional dan strategic agility; (2) arsitektur entrepreneurial university yang mengintegrasikan misi akademik dan kewirausahaan; (3) ekosistem open innovation dan kemitraan strategis multi-aktor; (4) infrastruktur transformasi digital yang berkelanjutan; dan (5) adaptive governance berbasis stakeholder co-governance. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan perguruan tinggi dalam turbulensi global tidak terletak pada pertahanan status quo tetapi pada kapasitas untuk terus berinovasi secara sistemik, dengan menempatkan inovasi sebagai inti manajemen institusional. Implikasi praktis penelitian ini adalah perlunya pemimpin perguruan tinggi mengembangkan kapasitas strategic foresight, kemitraan ekosistem, dan budaya inovasi yang terdistribusi di seluruh lini institusi
Epistemologi Integratif dan Masa Depan Pendidikan Tinggi Islam dalam Menghadapi Revolusi Industri 5.0 Suroso; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1202

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi integratif sebagai kerangka konseptual untuk meretas masa depan pendidikan tinggi Islam dalam menghadapi revolusi industri 5.0. Revolusi industri 5.0 yang menekankan integrasi antara kecerdasan buatan, teknologi cyber-physical, dan nilai-nilai kemanusiaan membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan tinggi Islam. Di satu sisi, pendidikan tinggi Islam menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan ekosistem digital yang sangat berbeda dari model pendidikan tradisional; di sisi lain, revolusi industri 5.0 justru membuka ruang bagi pengembangan model pendidikan yang mengintegrasikan teknologi canggih dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, sejalan dengan visi pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana filosofis-pedagogis. Kerangka teoretis dibangun dengan menempatkan epistemologi integratif Islam (integrasi bayani, burhani, irfani) sebagai paradigma, revolusi industri 5.0 sebagai konteks, dan pendidikan tinggi Islam sebagai fokus analisis. Temuan utama menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam perlu melakukan reorientasi epistemologis melalui integrasi tiga dimensi: (1) integrasi sumber pengetahuan melalui sintesis wahyu, akal, indra, dan intuisi dalam kerangka tauhid; (2) integrasi metode keilmuan melalui kombinasi bayani (tekstual-linguistik), burhani (rasional-empirik), dan irfani (intuitif-spiritual); dan (3) integrasi teknologi dan nilai melalui pemanfaatan kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data dengan orientasi maqasid al-syariah. Model epistemologi integratif yang diusulkan terdiri atas lima komponen sinergis: kurikulum integratif berbasis maqasid, pedagogi profetik-digital, kompetensi dosen integratif, tata kelola data beretika Islam, dan ekosistem kemitraan multi-aktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan pendidikan tinggi Islam di era revolusi industri 5.0 tidak terletak pada penolakan teknologi tetapi pada kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kerangka epistemologis Islam yang komprehensif, sehingga menghasilkan pendidikan yang tidak hanya secara teknologis maju tetapi juga secara spiritual dan etis bermakna.