Sulistyani
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tanjung Sambuk: Visualisasi Ritual Hindu Dalam Estetika Tari Kontemporer Ida Bagus Yodhie Harischandra; I Ketut Sutapa; Sulistyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6070

Abstract

AbstrakKarya tari kontemporer di Bali kerap menjadi ruang negosiasi antara tradisi ritual dan inovasi artistik. TanjungSambuk lahir dari inspirasi prosesi pengantin Hindu setelah upacara mekala- kalaan dan sebelum natab mewidi-widana, tepat pada momen intim di bilik pengantin ketika pasangan berbagi rasa bahagia, haru, dan keraguan.Latar belakang ini menegaskan urgensi penelitian, yakni bagaimana ritual sakral dapat direinterpretasi dalambentuk tari kontemporer yang tetap berpijak pada nilai estetika Hindu. Permasalahan utama yang diangkat adalahbagaimana simbolisasi emosi dan ritus pengantin divisualkan melalui medium tari sehingga relevan dengankonteks seni pertunjukan masa kini. Penelitian ini menggunakan metode Angripta Sesolahan (menciptakan tari-tarian), dengan pendekatan kualitatif berbasis praktik artistik. Teori yang digunakan meliputi etnoestetika(Kaeppler), performativitas (Schechner), dan simbolisme ritual (Turner), sehingga analisis mencakup aspek prosespenciptaan, bentuk, serta makna simbolik pertunjukan. Eksperimen artistik diwujudkan melalui koreografiberkelompok (4 penari laki-laki, 4 perempuan) dengan iringan teknologi musik digital (Musical Instrument DigitalInterface [MIDI]) berdurasi 12 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanjung Sambuk berhasil menghadirkanruang estetis yang memadukan ekspresi emosional pengantin dengan inovasi kontemporer tanpa kehilangan akarritus Hindu. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi praktik ritual ke dalam koreografi kontemporer berbasisMIDI, yang sekaligus membuka perspektif baru tentang estetika tari Bali modern sebagai medium transformasinilai religius dan emosional.Kata kunci: Tanjung Sambuk; Ritual Hindu; Estetika Tari; Kontemporer; Etnoestetika.
Tari Cakra Wimba: Transformasi Cakra Tubuh Manusia Dalam Karya Tari Ni Putu Putri Laksmi Laksmi; Sulistyani; I Wayan Adi Gunarta
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 1 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v6i1.6957

Abstract

Karya tari Cakra Wimba merupakan sebuah karya tari kreasi baru yang mengangkat tentang cakra dalam tubuh manusia yang terdiri dari tujuh cakra utama, yaitu Cakra Muladhara, Cakra Swadhistana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Visudha, Cakra Ajna, dan Cakra Sahasrara. Pada karya ini mentransformasikan tujuh bagian cakra ke dalam gerak tari mulai dari proses penyeimbangan, pembangkitan, hingga mendapatkan keseimbangan cakra dalam diri. Cakra Wimba berasal dari Bahasa Jawa Kuna yang terdiri dari dua kata, “Cakra” berarti roda, sedangkan “Wimba” yang berarti sinar atau cahaya. Tarian ini bertemakan religi yang dibawakan secara berkelompok dengan menggunakan tujuh orang penari putri. Metode penciptaan yang digunakan yaitu Angripta Sesolahan (menciptakan tari-tarian) yang tahapannya terdiri dari ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Tari Cakra Wimba menggunakan media aplikasi Musical Instrumen Digital Interface (MIDI) sebagai musik pengiringnya dengan menggunakan sampel gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu yang berdurasi 11 menit. Sisi kebaruan dalam karya ini terdapat pada pergantian kostum dari segi desain angkin warna putih yang dibuka secara cepat dengan durasi waktu 1 detik sehingga berfungsi menjadi angkin dan kamen sesuai dengan warna cakra yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Selain itu, terdapat juga gerak-gerak baru yang dijadikan identitas dari karya ini, yaitu agem, nyelendo, manggilingan, ngipek cakra, ngembat, dan ngitir.