This study aims to describe and compare aesthetic and emotional representations in poetry written by humans and poetry generated by artificial intelligence (AI). This research utilizes a qualitative methodology incorporating hermeneutic techniques. The research data include poetry texts derived from two categories: compositions by human poets and those generated by AI systems. Data were gathered by documentation technique from several sources, including digital platforms, poetry anthologies, and online archives. The data analysis was performed in phases by categorizing poems according to topics, identifying aesthetic components such as diction, metaphor, rhythm, and symbolism, and interpreting emotional dimensions through a hermeneutic lens. The research findings suggest that human-authored poetry generally exhibits superior symbolic complexity, reflective depth, and emotional sensitivity, in contrast to AI-generated poetry. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan representasi estetika dan emosi dalam puisi yang ditulis manusia dan puisi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik. Data penelitian berupa teks puisi yang berasal dari dua sumber, yaitu puisi karya penyair manusia dan puisi yang dihasilkan oleh sistem AI. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari berbagai sumber, seperti platform digital, buku antologi, dan arsip daring. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui pengelompokan puisi berdasarkan kategori dan tema, identifikasi unsur estetika seperti diksi, metafora, ritme, dan simbol, serta penafsiran aspek emosional menggunakan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi karya manusia cenderung memiliki kompleksitas simbolik, kedalaman reflektif, dan nuansa emosional yang lebih kuat, sedangkan puisi AI lebih menonjol dalam deskripsi yang komunikatif, langsung, dan mudah dipahami. Meskipun puisi AI masih terbatas dalam menghadirkan konteks sosial, historis, dan pengalaman subjektif yang mendalam, teknologi ini memiliki potensi untuk memperluas akses dan audiens seni sastra di era digital.