Mokhtar Jamil
Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kesiapan Pulang (Discharge Readiness) pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Rawat Inap RSD Kota Tidore Kepulauan Melati M. Ade; Mokhtar Jamil
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1388

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan, termasuk setelah pasien keluar dari rumah sakit. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam keberhasilan transisi perawatan adalah tingkat pengetahuan pasien yang dapat memengaruhi kesiapan pulang (discharge readiness). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan kesiapan pulang (discharge readiness) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di ruang rawat inap RSD Kota Tidore Kepulauan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 26 pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ), sedangkan kesiapan pulang diukur menggunakan Readiness for Hospital Discharge Scale (RHDS). Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan Fisher-Freeman-Halton Exact Test dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (57,7%) dengan rata-rata usia 53,85 tahun. Tingkat pengetahuan responden didominasi kategori baik (46,2%), sedangkan kesiapan pulang didominasi kategori siap pulang (53,8%). Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh responden dengan tingkat pengetahuan kurang berada pada kategori tidak siap pulang (100%), sedangkan sebagian besar responden dengan tingkat pengetahuan baik berada pada kategori siap pulang (91,7%). Uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test menunjukkan nilai p<0,001. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan pulang (discharge readiness) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Semakin baik tingkat pengetahuan pasien, semakin tinggi kesiapan pasien untuk melanjutkan perawatan secara mandiri setelah keluar dari rumah sakit. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, tingkat pengetahuan, kesiapan pulang, discharge readiness.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Faktor Risiko Stroke dan Faktor Risiko Stroke dengan Kejadian Stroke pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Suryani Hatta; Mokhtar Jamil
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1394

Abstract

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Kejadian stroke dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik yang dapat dimodifikasi maupun yang tidak dapat dimodifikasi. Pengetahuan mengenai faktor risiko stroke berperan penting dalam upaya pencegahan penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tentang faktor risiko stroke dan faktor risiko stroke dengan kejadian stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 42 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Stroke Recognition Questionnaire (SRQ) dan lembar observasi rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan tentang faktor risiko stroke dengan kejadian stroke (p=0,002) dan hipertensi dengan kejadian stroke (p=0,004). Sementara itu, diabetes melitus (p=0,135) dan kebiasaan merokok (p=0,663) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian stroke. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tentang faktor risiko stroke dan hipertensi berhubungan dengan kejadian stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan. Peningkatan edukasi kesehatan dan pengendalian hipertensi perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan stroke.
Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kadar Elektrolit Balita Penderita Diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan Nuraen Samsi; Mokhtar Jamil
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1395

Abstract

Latar Belakang: Diare masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di negara berkembang. Kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dapat menyebabkan gangguan keseimbangan natrium, kalium, dan klorida yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kondisi klinis balita saat masuk rumah sakit adalah tingkat pendidikan ibu yang berkaitan dengan kemampuan dalam mengenali tanda bahaya dan melakukan penanganan awal diare di rumah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kadar elektrolit balita penderita diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 30 balita penderita diare yang dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan data Rekam Medis Elektronik (RME) periode Februari–April 2026. Variabel independen adalah tingkat pendidikan ibu yang dikategorikan menjadi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Variabel dependen meliputi kadar natrium, kalium, dan klorida yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium saat pasien masuk rumah sakit. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan menengah (53,3%). Rata-rata kadar natrium balita adalah 127,97±16,77 mEq/L, kadar kalium 3,12±0,37 mEq/L, dan kadar klorida 97,37±3,88 mEq/L. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan kadar natrium (p=0,121), kadar kalium (p=0,065), maupun kadar klorida (p=0,755). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kadar natrium, kalium, dan klorida pada balita penderita diare di Ruang Perawatan Anak RSD Kota Tidore Kepulauan. Tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor tunggal yang menentukan kondisi elektrolit balita saat masuk rumah sakit. Kata Kunci: diare, tingkat pendidikan ibu, natrium, kalium, klorida, balita.