Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PEMBERDAYAAN REMAJA PUTRI SADAR ANEMIA UNTUK GENERASI PRIMA DI PANTI ASUHAN AISYIAH KABUPATEN SINTANG Hapsari, Dian Indahwati; Zalfa, Siti Najla
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 1.1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) SPECIAL ISSUE
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i1.1.4856

Abstract

Pada masa remaja akan terjadi peningkatan kebutuhan zat besi, dimana peningkatan kebutuhan ini digunakan untuk penambahan volume darah dan kenaikan konsentrasi hemoglobin yang berhubungan dengan terjadinya kematangan seksual. Banyak kasus anemia pada remaja putri ini akan berdampak pada remaja mudah lelah, konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi belajar rendah, menurunkan produktifitas dan kreativitas. anemia pada saat hamil, akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan akan terganggu, selain itu juga anemia pada saat hamil berpontensi menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan bahkan akan dapat menyebabkan kematian ibu dan anak. Prevalensi anemia pada remaja putri masih tergolong tinggi, berdasarkan data Riskesdes 2018 proporsi anemia pada kelompok umur 15-24 tahun yaitu sebesar 32%. Berdasarkan studi analisis di Panti Asuhan Aisyiah Kabupaten Sintang didapatkan hasil sebagian besar remaja putri ditemukan mengeluh mudah lelah, mengantuk, dan kurang konsentrasi dalam belajar. Untuk mengatasi permasalahan ini maka perlu diadakan pemeriksaan status gizi remaja putri, pemeriksaan hemoglobin sebagai indikator anemia pada remaja putri, edukasi mengenai anemia pada remaja dan peran nutrisi dalam pengentasannya, pembagian Tablet Tambah Darah (TTD) dan pemasangan Poster anemia di lokasi yang strategis di Panti Aisyiah Kabupaten Sintang. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2024 dan pemasangan poster tgl 19 Juli 2024. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi penyuluhan, pemeriksaan Hb dan pembagian TTD dan poster. Hasil kegiatan menunjukkan ada perbedaan yang bermakna dari tingkat pengetahuan remaja putri sebelum dan sesudah dilaksanakan penyuluhan yaitu meningkat sebesar 21,2 point dari 63,8 mnjadi 85,0.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Program TIMBANG dan SAMARA COURSE untuk Perkuat Ketahanan Keluarga Muda Atasi Stunting pada Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Sintang Hapsari, Dian Indahwati; Marista, Jesica
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.7426

Abstract

Stunting merupakan kondisi tinggi badan anak tidak normal karena kebutuhan nutrisi sejak berada dalam kandungan hingga berusia 2 tahun kurang terpenuhi. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi kejadian stunting di Indonesia sebanyak 8,7 juta atau 30,7% bayi berumur bawah lima tahun (balita). Berdasarkan data yang dikeluarkan SKI pada tahun 2022 angka stunting di provinsi Kalimantan Barat berada di 27,8 %, kemudian di tahun 2023 angka stunting turun menjadi 20,6%. Angka stunting di Kabupaten Sintang tahun 2024 sebesar 24,8 persen. Penyebab utama stunting melibatkan masalah gizi, terutama kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan makanan yang tidak mencukupi atau tidak seimbang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan organisasi NA Kabupaten Sintang jumlah balita sebanyak 9. Hasil dari obseravasi stunting terhadap anggota NA Kabupaten Sintang terdapat 5 balita terkena stunting. Untuk mengatasi permasalahan ini maka perlu diadakan pemberdayaan masyarakat melalui program Timbang dan Samara Course untuk perkuat ketahanan keluarga muda atasi stunting di organisasi NA Kabupaten Sintang. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi Penyuluhan, pemberian makanan sehat dan bergizi, menerbitkan buku saku tanggap stunting. Didapatkan hasil skor pengetahuan sebelum perlakuan rata-rata 48% dan setelah perlakuan meningkat menjadi 84% dimana skor tersebut terjadi peningkatan sebesar 36%, yang berarti terdapat perbedaan skor yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang) Idris, Ibnu; Samsudrajat, Agus; Hapsari, Dian Indahwati
Jumantik Vol 7 No 2 (2020): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v7i2.3053

Abstract

Gizi buruk dan gizi kurang merupakan keadaan kekurangan gizi pada tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, penurunan daya tahan tubuh serta bila tidak ditangani dengan baik akan beresiko menyebabkan kematian. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada tahun 2019 secara global sebesar 13%. Kasus gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Puskesmas Sungai Durian 3 tahun terakhir mengalami peningkatan, tahun 2017 sebesar 13,5% kasus, tahun 2018 sebesar 14,69% kasus dan tahun 2019 sebesar 17,15% kasus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi buruk dan gizi kurang pada balita. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 90 responden yang diambil dengan teknik proportional random sampling yang diambil dari 10 Kelurahan/Desa. Analisis data yang digunakan adalah Univariat dan Bivariat. Uji statistik yang di gunakan adalah uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p value=0,010) dan pola asuh (p value=0,000) dengan kejadian gizi buruk dan gizi kurang. Variabel yang tidak berhubungan yaitu pendidikan (p value=1,000), pendapatan keluarga (p value=0,371), ASI eksklusif (p value=0,755) dan riwayat penyakit infeksi (p value=0,934). Disarankan kepada orang tua balita agar lebih aktif mengikuti posyandu dan meningkatkan kualitas pengasuhan balita didukung dengan pendampingan kader posyandu dan Puskesmas
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Asi Eksklusif Pada Balita Usia 12-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Dedai Hapsari, Dian Indahwati
Jumantik Vol 8 No 2 (2021): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v8i2.3354

Abstract

ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan tanpa menambahkan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. ASI eksklusif harus diberikan selama enam bulan pertama kehidupan untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang optimal. Puskesmas Dedai merupakan Puskesmas yang termasuk urutan ke empat dengan cakupan ASI eksklusif terendah dari dua puluh Puskesmas yang ada di Kabupaten Sintang. Cakupan pemberian ASI eksklusif dalam 3 tahun terakhir mengalami penurunan, tahun 2017 sebesar 23,96%, tahun 2018 sebesar 72% dan pada tahun 2019 52,9%.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi ASI eksklusif pada balita usia 12-24 bulan.Jenis penelitian ini observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan populasi sebanyak 231 balita usia 12-24 bulan. Sampel penelitian sebanyak 68 responden yang diambil dengan teknik proportional random sampling yang diambil dari 20 Desa. Analisis data yang digunakan adalah Univariat dan Bivariat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan (p value = 0,024), perilaku (p value = 0,009) dan perawatan payudara (p value = 0,043) dengan ASI eksklusif pada balita usia 12-24 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Dedai. Variabel yang tidak berhubungan yaitu dukungan keluarga (p value = 0,121).Disarankan kepada orang tua agar dapat lebih mengutamakan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan serta lebih aktif mencari informasi tentang manfaat ASI eksklusif.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Penderita Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sepauk Tahun 2021 Hapsari, Dian Indahwati; kartiana, UUN
Jumantik Vol 9 No 2 (2022): JUMANTIK : Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v9i2.4797

Abstract

Hipertensi adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah memiliki tekanan darah tinggi (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg) yang menetap. Pada kasus hipertensi, kepatuhan minum obat juga akan menurunkan risiko kematian, risiko kerusakan organ penting tubuh dan risiko penyakit jantung. Prevalensi hipertensi secara global sebesar 22%. Data Puskesmas Sepauk kasus hipertensi pada tahun 2018 sebesar 98 kasus, tahun 2019 meningkat menjadi 1362 kasus dan tahun 2020 sebesar 1868 kasus.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan penderita hipertensi pada lansia.Jenis penelitian ini observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan populasi sebanyak 558 lansia. Sampel penelitian sebanyak 170 responden yang diambil dengan teknik proportional random sampling yang di ambil dari 15 Desa. Analisis data yang digunakan Univariat dan Bivariat. Uji statistik yang digunakan Chi- Square dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p value = 0,001) dan dukungan keluarga (p value = 0,041) dengan kepatuhan pengobatan penderita hipertensi. Variabel yang tidak berhubungan yaitu pendidikan (p value = 1,000), pendapatan (p value = 0,443), lama menderita hipertensi (p value = 0,820), akses ke pelayanan kesehatan (p value = 0,531) dan motivasi berobat (p value = 0,067).Disarankan kepada penderita hipertensi agar dapat rutin mengikuti kegiatan posyandu lansia yang di adakan setiap bulannnya dan lebih aktif dalam mencari informasi tentang pentingnya kepatuhan dalam pengobatan hipertensi melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan, konseling lansia dan melalui sumber informasi elektronik lainnya.Kata kunci: Kepatuhan pengobatan hipertensi, pengetahuan dan dukungan keluarga
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian TB Paru Pada Anak Di Indonesia (Studi Data Riskesdas 2018) Bagaskara, Dwiki; S, Agus Samsudrajat; Hariani, Eka; Hapsari, Dian Indahwati
Jumantik Vol 11 No 1 (2024): JUMANTIK : Jurnal Mahasiswa dan Penelitian Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v11i1.6739

Abstract

World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa TB Paru menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Secara Global kasus baru TB Paru sebesar 6,4 juta atau setara dengan 64%. Hasil laporan Kementerian Kesehatan RI memperlihatkan terjadinya peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2014-2023 sebesar 45-55%, dan kematian anak akibat TB Paru diperkirakan mencapai 17%. Pengobatan TB Paru tahun 2006-2022 belum memenuhi target yang diinginkan Kementerian Kesehatan (Target SR 90%). Penelitian ini merupakan analisis studi data Riskesdas tahun 2018, dilakukan pada bulan Januari-Februari dengan pendekatan kuantitatif desain studi Cross Sectional, menggunakan analisis univariat dan bivariat. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 105.163 jiwa usia 5-9 Tahun. Dengan sampel dalam penelitian ini sebanyak 399 responden yang diambil dengan random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat (p-value 0,000), perilaku merokok (p-value 0,000), kontak serumah (p-value 0,000), aktivitas fisik berat (p-value 0,000), pencahayaan rumah (P-value 0,009), dan akses fasilitas Kesehatan (p-value 0,000) dengan kejadian TB Paru anak. Serta tidak ada berhubungan yang signifikan pada pendidikan orang tua (p-value 0,875), pekerjaan orang tua (p-value 0,743), ventilasi rumah (p-value 0,133), dan kebiasaan membuka jendela (p-value 0,496) dengan kejadian TB Paru Anak. Bagi instansi kesehatan di setiap daerah agar dapat meningkatkan promosi kesehatan melalui media sosial, iklan-iklan menarik di berbagai platform media sosial, website jurnal kesehatan, dan artikel kesehatan yang mudah diakses bagi masyarakat agar dapat meningkatkan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat mengenai penyakit menular TB Paru.