ABSTRAK Pembersihan lahan sebelum kegiatan budidaya umumnya menghasilkan rumput dan gulma yang jarang dimanfaatkan lebih lanjut, meskipun berpotensi diolah menjadi pupuk kompos. Artikel ini melaporkan pelaksanaan dua program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 3 Politeknik Seruyan yang saling terhubung, yaitu pengolahan rumput dan gulma menjadi pupuk kompos serta budidaya cabai dan daun bawang menggunakan media polybag, yang dilaksanakan di Laboratorium Pengelolaan Agribisnis Perkebunan pada 1 Mei hingga 24 Juli 2026. Kegiatan melibatkan dosen dan mahasiswa melalui pendekatan partisipatif, mulai dari pembersihan lahan, fermentasi kompos menggunakan EM4, penyemaian, pemeliharaan, hingga pemindahan bibit ke lahan tanam. Rumput dan gulma yang diperoleh diolah menjadi kompos, lalu diaplikasikan kembali pada lahan yang sama, membentuk siklus pemanfaatan sumber daya yang tertutup. Berbeda dari rencana awal yang mengarahkan kompos untuk dijual, seluruh hasil kompos dialihkan sebagai media tanam. Hasil kegiatan menunjukkan kedua program tercapai 100% secara implementasi; kompos matang dalam waktu kurang dari satu bulan dan mendukung pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan bibit layak jual. Penjualan bibit menghasilkan pemasukan Rp 40.000, sementara total biaya program mencapai Rp 260.000, sehingga tercatat selisih rugi sementara Rp 220.000 akibat hasil panen segar yang belum terjual saat pelaporan. Artikel ini menyimpulkan bahwa keterkaitan fungsional antara pengelolaan gulma lahan dan kegiatan budidaya dapat menjadi model pengabdian yang saling menguatkan secara teknis, meskipun keberhasilan implementasi tidak selalu tercermin pada capaian finansial jangka pendek. Kata kunci: pupuk kompos; gulma lahan; budidaya cabai; daun bawang; kuliah kerja nyata; siklus pemanfaatan lahan ABSTRACT Land clearing prior to cultivation typically yields grass and weeds that are rarely utilized further, despite their potential for conversion into compost. This article reports on two interconnected Community Service Program (KKN) initiatives undertaken by Group 3 of Seruyan Polytechnic: processing grass and weeds into compost and cultivating chili peppers and scallions in polybags. These activities were conducted at the Plantation Agribusiness Management Laboratory from May 1 to July 24, 2026. The project employed a participatory approach involving both lecturers and students, covering stages from land clearing and compost fermentation (using EM4) to seedling propagation, maintenance, and transplanting. The harvested grass and weeds were processed into compost and subsequently applied to the same land, creating a closed-loop resource utilization cycle. Although the initial plan intended for the compost to be sold, the entire output was instead utilized as a growing medium. Results indicate 100% implementation success for both programs; the compost matured in under a month and supported plant growth, yielding marketable seedlings. Seedling sales generated IDR 40,000 in revenue against total program costs of IDR 260,000, resulting in a temporary net loss of IDR 220,000 due to unsold fresh produce at the time of reporting. The article concludes that the functional link between weed management and cultivation activities offers a mutually reinforcing model for community service, even though successful implementation is not always reflected in short-term financial outcomes. Keywords: compost; land weeds; chili cultivation; scallions; community service program; land utilization cycle