Pitradi
UIN Imam Bonjol Padang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hujan Dalam Perspektif Al-Qur’an Pitradi
Journal of Cross Knowledge Cross Inovation
Publisher : edujavare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jck.v2i1.216

Abstract

Hasil penelitian yang penulis temukan adalah, pertama, hujan memberikan kebaikan terhadap manusia dan makhluk yang terdapat tujuh term: wadq, thall, shayyib, wabil, mathara, anzaa māa, gayst. Allah telah menurunkan air hujan dari langit ke bumi sehingga manusia gembira dengan turun hujan tersebut, tanah yang tandus menjadi subur, tumbuh-tumbuhan- tanam-tanaman, buah-buahan yang bermacam-macam dan rasa yang segar, sehat dan indah. Kedua hujan memberikan kemudaratan terhadap manusia yang terdapat dua term: amthara, wabil. Allah turunkan air hujan kepada manusia sebagai cobaan terhadap siapa saja Allah kehendaki, agar manusia mengikuti undang-undang Allah SWT. Allah turunkan hujan batu kepada kaum Nabi Luth karena mengingkari ajarannya dan Allah buktikan seketika itu kekuasaannya. Allah juga menurunkan hujan yang sangat deras sebagai cobaan kepada munusia, turunnya hujan deras membuat tanah longsor, banjir dan menghabat aktifitas masarakat dari akibat hujan tersebut.
Pengaplikasian Pemahaman Ayat Tentang Batasan Aurat (Kaki) Perempuan Menurut Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang (Studi Living Qur’an) Wela Maryani; Pitradi
Journal of Cross Knowledge Cross Inovation
Publisher : edujavare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jck.v2i1.230

Abstract

Latar belakang penelitian ini tentang pengaplikasian pemahaman mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama terhadap batasan aurat (kaki) perempuan menurut dalil yang dipahami. Khususnya yang terjadi pada mahasiswi Ushuluddin dan Studi Agama memahami bahwa batasan aurat perempuan hanya terbatas pada pengecualian wajah dan telapak tangan. Namun tidak dalam pengaplikasiannya secara totalitas, pada umumnya dalam aurat bagian kaki yang belum terimplementasikan. Yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Pengaplikasian Pemahaman Ayat Tentang Batasan Aurat (Kaki) Perempuan Menurut Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang? Adapun tujuan penulisan penelitian ini adalah pertama, untuk mengemukakan pengetahuan Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama tentang batasan aurat perempuan. Kedua, Mengemukakan pemahaman Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama tentang dalil yang berkaitan batasan aurat perempuan. Ketiga, untuk mengetahui dan mengungkap faktor yang melatarbelakangi pengaplikasian pemahaman Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama terhadap batasan aurat perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif, yang menggunakan metode analisis deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik snowball sampling, data primernya adalah Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama dan data sekundernya adalah sumber bacaan yang terkait. Hasil penelitian yang penulis temukan di lapangan adalah pertama, Mayoritas pengetahuan pemahaman Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama bahwa aurat itu adalah seluruh anggota tubuh yang tidak boleh diperlihatkan kepada non mahram, kecuali muka dan telapak tangan. Kedua, dalam penerapan pada umumnya, mengakui bahwa secara praktek belum totalitas. Secara teori bahwa batasan aurat perempuan kecuali muka dan telapak tangan, namun kenyataan di lapangan tidak dipraktekkan. Ketiga, faktor yang melatarbelakangi pemahaman mahasiswi adalah: faktor lingkungan, pernah belajar waktu aliyah, dan pernah mendengar ceramah-ceramah atau mejelis ilmu
Kebebasan Manusia Menurut Sayyid Quthb Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Maryati; Pitradi
Journal of Cross Knowledge Cross Inovation
Publisher : edujavare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jck.v2i1.284

Abstract

Hasil penelitian ini adalah adapun bentuk-bentuk kebebasan manusia dalam al-Qur’an pertama kebebasan manusia dalam berakidah, dalam berakidah itu tidak boleh adanya unsur paksaan dan tekanan melainkan keikhlasan. Kedua, kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam hal ini manusia diberi kebebasan dalam berfikir serta mengemukakan pendapat, berfikir sebebas-bebasnya segala yang dapat dipecahkan secara ilmiah dan pada akhirnya mampu meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan. Ketiga, kebebasan berkehendak, kehendak makhluk berbeda dengan kehendak Allah, kehendak makhluk bersifat rencana yang didahului dengan keinginan dan pemikiran. Sedangkan kehendak Allah tidaklah demikian. Batas-batas kebebasan manusia adalah sesuatu yang terjadi pada hukum alam merupakan takdir yang telah dikehendaki oleh Allah. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah hanya bisa berusaha sesuai dengan kemampuan dan perencanaannya. Jadi disetiap manusia memang di beri kebebasan oleh Allah namun sebagai makhluk diciptakannya kebebasan manusia itu tidak mutlak. Penelitian ini bersifat kajian kepustakaan (library research), sedangkan yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab tafsir Sayyid Quthb yakni Fi Zhilalil Qur’an. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Content analysis (analisis kontan) yang bersifat kualitatif.
Tafsir Dan Kekuasaan: Identitas Khalifah Dalam Framing Demokrasi Religius (Studi Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka) Ariq Hidayat; Faizin; Pitradi
Journal of Cross Knowledge Cross Inovation
Publisher : edujavare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jck.v2i1.309

Abstract

Khalifah dengan framing demokrasi religius menjadi kajian yang cukup menarik untuk ditelusuri. Pasalnya banyak menimbulkan delik yang cukup kompleks tatkala demokrasi secara terminologi dan normatif menimbulkan kontroversi dikalangan agamawan, ada yang menganggap demokrasi bagian dari kesyirikan, demokrasi sama dengan syura ataupun syura merupakan antitesa dari demokrasi. Disamping itu, term khalifah telah menjadi simbol identitas yang terpaut padanya nilai-nilai agamis. Maka muncullah konsep pemikiran baru atas reinterpretasi makna “khalifah” secara fundamental ditengah-tengah ideologi demokrasi dari pemahaman yang singular ke partikular, Buya Hamka dalam kitab tafsirnya Al-Azhar berupaya menawarkan paradigma nilai-nilai keislaman sebagai jalan tengah proses menuju sistem demokrasi yang religius. Sehingga penulis tertarik untuk mengeksplorasi dan menelaah penafsiran Buya Hamka yang mengakomodasikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai landasan ideologis pemaknaan term khalifah dan kaitannya dalam bingkai demokrasi religius. Penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan pendekatan metode konten analisis dan menggunakan teori demokrasi religius dan teori konstruksi sosial. Sumber primernya adalah kitab tafsir Al-Azhar terbitan Pustaka Nasional PTE LTD Singapura tahun 1982 dan sumber sekundernya adalah buku karya Buya Hamka seperti Urat Tunggang Pantjasila disamping itu, penulis juga menggunakan jurnal, artikel yang berkaitan dengan objek formal penelitian baik secara rinci maupun hanya secara umum. Hasil penelitian ini adalah:(1) khalifah bukanlah individu yang dikultuskan hal ini berdasarkan penafsiran Buya Hamka pada surah Al-Baqarah ayat 30-33 dan Shad ayat 26 terkait fungsi dan tugas khalifah (2) penafsiran kata منكم pada surah An-Nisa’ ayat 59 dan kata شورى pada surah Asy-Syura ayat 38 dan Ali-Imran ayat 159 sebagai penegasan bahwa manusia memiliki peran untuk menentukan nasibnya sendiri dengan memilih pemimpin atau khalifah yang menurut “ijtihad” mereka mampu mengemban kepemimpinan. (3) selagi mencegah yang mungkar dan menjalankan yang ma’ruf maka kebebasan dan kekuasaan khalifah dapat terus dibenarkan