Dismenore merupakan keluhan menstruasi yang umum dialami oleh remaja putri dan dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan reproduksi yang paling sering terjadi pada masa remaja. Dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, prestasi akademik, partisipasi dalam kegiatan olahraga, serta interaksi sosial. Tingkat keparahan nyeri bervariasi pada setiap individu, mulai dari rasa tidak nyaman ringan hingga nyeri berat yang dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Beberapa faktor, seperti usia, usia menarke, siklus menstruasi, aktivitas fisik, dan tingkat stres, diduga berhubungan dengan kejadian dismenore. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, usia menarke, siklus menstruasi, aktivitas fisik, dan tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 40 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Distribusi usia responden terdiri atas usia 11 tahun (7,5%), 12 tahun (10%), 13 tahun (22,5%), 14 tahun (25%), dan 15 tahun (35%). Berdasarkan usia menarke, sebanyak 30% responden mengalami menarke pada usia 11 tahun, 50% pada usia 12 tahun, dan 20% pada usia 13 tahun. Sebagian besar responden memiliki siklus menstruasi yang teratur (60%), melakukan aktivitas fisik ringan (57,5%), dan memiliki tingkat stres ringan (42,5%). Hasil uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara pola siklus menstruasi, aktivitas fisik, dan tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri (p < 0,001). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keteraturan siklus menstruasi, aktivitas fisik, dan tingkat stres berhubungan secara signifikan dengan kejadian dismenore. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya promotif dan preventif untuk mengurangi kejadian dismenore serta meningkatkan kesehatan reproduksi remaja putri.