Teknologi komunikasi digital telah berkembang dan telah mengubah cara komunikasi Generasi dalam dunia digital. Generasi Z menggunakan komunikasi digital untuk membangun dan memelihara sebuah hubungan interpersonal. Segudang kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi digital, khususnya pada aplikasi WhatsApp, namun dibalik kemudahan yang ada, pasti ada kekurangan yang ditimbulkan, contohnya seperti tekanan psikologis, kelelahan dalam bermedia digital atau kelelahan dalam berkomunikasi dalam media digital, fenomena seen zone, serta dituntut untuk memberikan respons terhadap lawan bicara. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa bagaimana komunikasi generasi Z dalam relasi interpersonal pada aplikasi WhatsApp demi menjaga kesehatan mental melalui praktik self-detachment dengan. Metode kualitatif digunakan untuk membedah fenomena ini, mengumpulkan data menggunakan Teknik purposive sampling, setelah terkumpul beberapa informan, peneliti menggunakan Teknik wawancara mendalam terhadap enam informan yang merupakan Generasi Z dan aktif menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media komunikasi mereka sehari hari. Setelah data wawancara terkumpul dari 6 informan, analisis data dilakukan menggunakan model dari Miles and Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, lalu verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima indikator komunikasi interpersonal tetap diterapkan oleh informan, namun pelaksanaannya berlangsung secara selektif dan fleksibel sesuai dengan kondisi emosional, tingkat kedekatan hubungan, serta kebutuhan menjaga kesehatan mental. Self-detachment muncul sebagai praktik dalam upaya Generasi Z menjaga Kesehatan mental mereka. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika komunikasi digital pada Generasi Z sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara keterhubungan digital dan kesejahteraan psikologis dalam kehidupan sehari-hari.