Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penataan Kampung Kayu Pulo sebagai Waterfront Amfibi Ekokultural Hasrul Hasrul; Sugito Utomo; Flierhaar K. N. L. Nefreiser
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2016

Abstract

Kampung Kayu Pulo di Kota Jayapura merupakan permukiman adat pesisir yang terbentuk melalui keterhubungan rumah panggung di atas air, jaringan titian kayu, daratan timbunan karang, ruang sosial-budaya, dan daratan karang bervegetasi. Potensi wisata bahari dan budayanya belum didukung kerangka penataan yang sekaligus melindungi hunian, nilai adat, dan ekologi pesisir. Penelitian ini bertujuan merumuskan model penataan Kayu Pulo sebagai kampung adat hidup yang didukung wisata berbasis masyarakat. Pendekatan research by design dilakukan melalui inventarisasi tapak, analisis kontekstual, sintesis strategis berbasis SWOT, pemetaan fungsional pemangku kepentingan, perumusan konsep, perancangan iteratif, dan evaluasi keputusan desain. Hasil penelitian berupa konsep Eco-Cultural Amphibious Waterfront Village yang membagi kawasan menjadi lima zona: publik, semi-publik, privat, konservasi, dan servis. Penataan mempertahankan kompleks Rumah Adat dan para-para adat, Kantor Kampung, Gereja, serta Makam Ondoafi sebagai jangkar budaya tetap; memperkuat titian dan dermaga; membatasi homestay dalam klaster kecil yang dikelola masyarakat; serta mengintegrasikan interpretasi lingkungan, IPAL komunal, pengelolaan sampah, proteksi kebakaran, dan jaringan utilitas. Kebaruan penelitian terletak pada pemaknaan amfibi sebagai sistem bermukim laut-darat dan operasionalisasi prinsip Minimum Intervention, Maximum Identity. Pariwisata ditempatkan sebagai lapisan pendukung keberlanjutan kampung, bukan fungsi dominan yang menggantikan struktur sosial, budaya, dan ekologinya. Kata kunci: Kampung Kayu Pulo, waterfront amfibi, penataan ekokultural, wisata berbasis masyarakat, permukiman pesisir