Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nasionalisme Religius dan Transformasi Etnis: Analisis Sosiologis Identitas Melayu Amalia Irfani; Patmawati Patmawati; Elmansyah Elmansyah; Julio Tomas Pinto; Al Fakhri Zakirman
Mawaizh : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 17 No. 1 (2026): Islamic Values in Global Society
Publisher : Faculty of Da’wa and Islamic Communication, State Institute for Islamic Studies of Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/vx6mr338

Abstract

Malay as a “nation” in Asia is now no longer seen as having a central role in the development of a country, as happened in the 20th century, where Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand and Brunei Darussalam became evidence of their contribution to the formation of countries in Southeast Asia. It raises a big question: What is actually happening to the Malay ethnic group today? This study attempts to look at the development of the Malay ethnic group in the Southeast Asian region from a communal historical perspective. The method used in this study is a descriptive qualitative method with a historical approach. Based on the results of a critical analysis of historical data on the distribution of the Malay ethnic group in Southeast Asia, several conclusions were found, namely: 1) The Malay ethnic group is a unique ethnic group and has a vital role in the Southeast Asian region about the formation of national and state nationalism; 2) post-colonial, the Malay ethnic group has merged into various countries in Southeast Asia (Indonesia itself as its country of origin, Malaysia, Singapore, Brunei, and Thailand, as well as in the Philippines), as part of ethnic nationalism; 3) Until now, several countries have tried to make the Malay ethnic group their national identity, such as Malaysia, Singapore and Brunei Darussalam.
Transformasi Relasi Sosial Remaja Kalimantan Barat di Era Digital Amalia Irfani; Azkiya Ramadani
WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 3 No 3 (2026): WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/wathan.v3i3.636

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara remaja membangun, memelihara, dan memaknai hubungan sosial. Perubahan tersebut berlangsung secara beragam karena dipengaruhi oleh kondisi keluarga, akses terhadap teknologi, karakteristik lingkungan, serta intensitas penggunaan media digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi relasi sosial remaja di Kalimantan Barat pada era digital melalui desain studi kasus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan membandingkan pengalaman remaja yang tinggal di wilayah perkotaan, khususnya Kota Pontianak, dengan remaja yang berasal dari wilayah pinggiran dan perdesaan. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria remaja berusia 15–19 tahun, berdomisili di Kalimantan Barat, aktif menggunakan telepon pintar dan media sosial, serta memiliki pengalaman membangun dan mempertahankan persahabatan melalui platform digital. Sebanyak 25–35 remaja dilibatkan dalam wawancara mendalam dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform permainan daring telah memperluas jaringan pertemanan serta memungkinkan hubungan sosial berlangsung melampaui batas geografis. Namun, pengalaman digital remaja berbeda berdasarkan lokasi tempat tinggal, akses internet, kondisi keluarga, dan kekuatan komunitas lokal. Remaja perkotaan cenderung memiliki jaringan digital yang lebih luas, sedangkan remaja di wilayah pinggiran dan perdesaan lebih mempertahankan keterhubungan antara persahabatan daring dan interaksi tatap muka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi menghasilkan bentuk persahabatan hibrida yang menghubungkan ruang domestik, komunitas lokal, dan jaringan virtual.