Gede Arda
Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi NaHCO3 dan Suhu Perendaman Terhadap Sifat Rehidrasi Kacang Gude Kering (Cajanus cajan (L.) Millsp.): The Effect of NaHCO3 Concentration and Soaking Temperature on the Rehydration Properties of Dried Pigeon Peas (Cajanus cajan (L.) Millsp.) Yunita Kusumaning Ratri; Gede Arda; I Made Anom Sutrisna Wijaya; Sri Handayani Nofiyanti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p09

Abstract

Abstrak Kacang gude kering (Cajanus cajan (L.) Millsp) memiliki tekstur yang keras dan kemampuan rehidrasi yang rendah, sehingga memerlukan proses perendaman/ rehidrasi agar kacang gude dapat diolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan memberikan hasil terbaik dari penggunaan larutan NaHCO3 dan suhu perendaman terhadap sifat rehidrasi kacang gude kering. Penelitian ini dilakukan dengan proses perendaman pada kacang gude kering utuh yang memiliki ukuran 5 mm, rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua faktor yakni konsentrasi larutan NaHCO3 0%, 0,5%, dan 1% dan suhu perendaman 25°C, 35°C, dan 45°C. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah laju rehidrasi, volume, tekstur, kadar air basis kering, dan persentase penyerapan air. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan larutan NaHCO3 dan suhu perendaman, dengan kombinasi larutan NaHCO3 1% dan suhu perendaman 45°C sebagai interaksi faktor terbaik dan menghasilkan laju rehidrasi tertinggi sebesar 77,20% bk/jam, dengan peningkatan volume sebesar 102,98%, penurunan tekstur dengan nilai akhir sebesar 26,65 N, kadar air sebesar 182,8% bk, dan penyerapan air sebesar 90,56% dari berat awalnya.   Abstract Dried pigeon pea (Cajanus cajan (L.) Millsp) has a hard texture and low rehydration ability, so it requires a soaking/rehydration process so that the pigeon pea can be processed. This study aims to analyze and provide the best results from the use of NaHCO3 solution and soaking temperature on the rehydration properties of dried pigeon pea. This study was conducted by soaking whole dried pigeon pea with a size of 5 mm, the experimental design used was a Randomized Block Design (RBD), with two factors namely the concentration of NaHCO3 solution 0%, 0.5%, and 1% and soaking temperature 25°C, 35°C, and 45°C. The parameters observed in this study were the rehydration rate, volume increase, texture, dry basis water content, and percentage of water absorption.  The results of the study showed a significant influence of the use of NaHCO3 solution and soaking temperature, with a combination of 1% NaHCO3 solution and a soaking temperature of 45°C as the best factor interaction and resulting in the highest rehydration rate of 77.20% bk/hour, with an increase in volume of 102.98%, a decrease in texture with a final value of 26.65 N, water content of 182.8% bk, and water absorption of 90.56% of its initial weight.  
Dampak Lama Proses Aerasi Terhadap Pembuatan Bio-urine Rambu Aniny Arista Imelda Eky Rambu Andiny; Yohanes Setiyo; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2026.v14.i01.p11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses aerasi terhadap produksi biourin dari urin sapi. Selama penelitian dilakukan pengamatan terhadap empat parameter yaitu TDS (Total Dissolved Solids), EC (Electrical Conductivity), Ph (Derajat Keasaman), dan Temperatur. Temperatur fermentasi urin pada perlakuan A (pengadukan 0 menit), B (pengadukan 30 menit), C (pengadukan 60 menit), D (pengadukan 90 menit), dan E (pengadukan 120 menit). Titik puncak temperatur fermentasi dan gradien perubahan temperatur. Temperatur mengalami peningkatan pada perlakuan pengadukan nol menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit berturut-turut yaitu: 0 – 9,56 hari, 0 – 9,02 hari, 0 – 7,31 hari, 0 – 6,0 hari, dan 0 – 7,65. Sedangkan temperatur mengalami penurunan mulai hari ke 9,56; 9,02; 7.31; 6.0 dan 7.65. Penurunan pH yang diamati selama fermentasi disebabkan oleh penguraian bahan organik oleh mikroorganisme menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ini termasuk asam organik, selama dekomposisi molase dan pematangan POC. Akibatnya, pelepasan kation berkurang dan produksi asam meningkat, yang mengakibatkan penurunan pH. Laju peningkatan TDS dalam urin sapi fermentasi dengan perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) Pada semua perlakuan, hubungan antara waktu fermentasi dan nilai TDS bersifat linear, dengan nilai TDS meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan nilai EC yang signifikan antar perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) selama fermentasi dan di akhir proses. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pengadukan selama 120 menit merupakan perlakuan terbaik untuk nilai EC. Perubahan nilai EC bio-urin berkaitan dengan proses fermentasi, perubahan pH, dan nilai TDS.
Penentuan Umur Simpan Loloh Piduh dengan Metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Menggunakan Pendekatan Model Arrhenius Putu Wahyu Nirmala Sari; Ida Bagus Putu Gunadnya; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2017.v05.i01.p04

Abstract

The purpose of this study was to determine the shelf-life of loloh piduh packed in two different packages that is packed in plastic bottle and glass bottle. Both packed loloh piduh was stored in four temperatures, namely 15oC, 35oC 45oC 55oC. The observed parameters were pH and four sensory parameters using preference test. The sensory parameters consisted of sour taste, sweet taste, sour aroma, alcohol aroma, and turbidity. This research was conducted in 12 hours or up to 50 percent of the panelists rejected the test sample and observation was taken every two hour. The results showed that the critical quality parameters of loloh piduh packed in plastic bottles and glass bottles was sour aroma which followed zero order of kinetics reaction. Predicted shelf-life of loloh piduh packed in plastic bottles which stored at room temperature (28oC) was 9.82 hour, while the shelf life of loloh piduh packed in glass bottles that stored at the same temperature was 12.81 hours.