Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Dakwah Antar Budaya di Era Cyber Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 7 No 2 (2019): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam adalah agama?Rahmatan lil amamin? yang memberikan kedamaian dan ketenangan bagi seluruh alam. Sehingga kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para pekalu dakwah tidak menggunakan kekerasa akan tetapi kegiatan dakwah tersebut selalu dilakukan dengan damai, bijak dan menggunakan pendekatan pendekatan budaya yang dianut oleh calon mad?unya. Perkembangan Islam dari masa ke masa sampai di era modern seperti sekarang ini tidak lepas dari semnagt dakwah para da?i da?i nya.Sejarah telah mencatat bahwa Agama Islam yang tadinya hanya di jazirah Arab saja sekarang sudah bisa masuk dan diterima oleh masyarakat dunia.Kalau kita perhatiakan secara seksama kesusksesan dakwah Islam tersebut tidak lepas dari pendekatan pendekatan budaya sesuai dengan kearifan lokal dimana mad?u berada.Dunia dakwah Islam khususnya dakwah antar budaya menemukan babak barunya ketika masyarakat dunia berbondong bondong masuk ke dunia baru yang bernama cyberspacy. Pada tulisan ini penulis akan membahas tentangdakwah antar budaya di era cyber. Dimana kegiatan dakwah antar budaya diera cyber ini merupakan sebuah keniscayaan.Karena mau tidak mau dunia dakwah akan dipaksa masuk kedalam dunia baru yang bernama cyberspacy. Yaitu sebuah dunia maya yang terbebas dari ruang dan waktu sehinggamampumenghubungkan seluruh masyarakat dunia dengan segala keanekaragaman budayanya. Dari kajian yang disajikan penulis menyimpulkan bahwadi era modern seperti sekarang ini dakwah antar budaya harus masuk dan ikut mewarnai kehidupan di cyberspacy.Untuk masuk dan ikut mewarnai kehidupan di dunia maya tersebut diperlukan tenaga tenaga da?i dengan keahlian khusus.Sehingga dengan kreatifitas dan inovasinya, konten dakwah khususnya materi dakwah antarbudaya.Dimana konten dakwah antarbudaya ini juga harusdisesuaikan dengan ?permintaan pasar? dan media yang dijadikan sebagai tujuan.Tentunya dengan memperhatikan budaya budaya yang dianut oleh masyarakat cyberspacy.Adapun media media yang dimaksud adalah media media yang berdomisili di ?alam maya? baik berupa WEB, facebook, instagram, WA, youtube, twitter dan media media sejenisnya.
PELUANG DAN TANTANGAN MEDIA MASSA DI ERA CYBER (Perspektif Hypodermic Needle Theory dan Uses And Gratification Theory) Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 10 No 2 (2022): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi modern sungguh sangat luar biasa cepatnya. Salah satu bidang yang merasakan dampaknya yaitu aspek teknologi komunikasi dan informasi. Bahkan era baru yang sering disebut sebagai cyber era menjadikan hampir seluruh kegiatan masyarakat berpindah dari dunia nyata ke dunia maya yang bernama cyberspacy. Kehadiran era cyber menjadikan hubungan antar manusia sudah tidak lagi terhalang oleh jarak dan waktu. Semua info dan berita bisa diakses oleh semua orang tanpa ada sekat dan penghalang. Dunia tak ubahnya seperti sebuah desa kecil dimana semua orang bisa dengan mudah melihat peristiwa yang terjadi didalamnya. Selain itu, masyarakat modern juga sudah sangat cerdas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Khususnya kebutuhan terkait dengan pemenuhan informasi yang diperlukannya. Sehingga mereka juga sangat kritis dan selektif dalam mengkonsumsi info yang disajikan oleh media. Dalam pembahasan ini penulis memaparkan tentang kondisi media massa di era cyber. Dalam pembahasanya penulis menggunakan dua pendekatan yaitu Hypodermic needle theory dan Uses and gratification theory. Dua perspektif tersebut menjadi penting dan sangat relevan karena kedua teori tersebut seolah-olah bertentangan satu dengan lainnya. Dimana Hypodermic needle theory mengatakan bahwa media sangat power full layaknya peluru yang ditembakkan dan tepat mengenai targetnya yaitu masyarakat. Sementara Uses and gratification theory berasumsi bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media sesuai dengan keinginannya sendiri. Dengan kata lain bahwa, pengguna media (audience) adalah pihak yang aktif dalam menggunakan media untuk memenuhi kepuasan pribadinya. Hal ini dikarenakan bahwa masyarakat modern sudah sangat cerdas, mereka mampu memilih media mana yang akan mereka jadikan sebagai sumber informasi dan media mana yang akan ditinggalkannya. Adapun kesimpulan dari pembahasan ini yaitu di cyber era seperti sekarang ini media massa menghadapi sebuah tantangan yang nyata. Dimana tantangan tersebut menuntut media massa untuk lebih kreatif dan inovatif serta memaksa media massa untuk ikut mewarnai kehidupan di cyberspacy. Media dituntut untuk bisa menghadirkan sajian yang menarik sesuai dengan segmennya masing-masing. Selain itu tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini power media juga masih sangat dirasakan oleh masyarakat modern. Walaupun masyarakat sudah cerdas dan punya kebebasan dalam memenuhi kebutuhan informasinya sebagaimana pandangan dari Uses and gratification theory namun efek media sebagaimana pandangan Hypodermic needle theory juga tetap luar biasa.
Peran Media Baru Dalam Membentuk Cyber Society Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 11 No 1 (2022): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kita sekarang hidup di tengah tengah kemajuan dan kecanggihan teknologi yang begitu luar biasa. Satu aspek yang sangat terasa percepatan perkembangannya yaitu dibidang teknologi informasi dan komunikasi khususnya diaspek media. Bahkan kadang kita tidak bisa memprediksikan dan seakan gagap akan dahsyatnya kecanggihan teknologi yang ada. Kemajuan teknologi tersebut telah mengantarkan dan merubah “wajah” baru dunia media. Apalagi dengan kehadiran media baru yang berupa internet dan serba serbi di dalamnya seperti youtube, facebook, instagram, twiter, line dan lain sebaginya. Hal itu memunculkan sebuah tatanan dunia baru yang bernama cyber society atau masyarakat maya. Dimana interaksi dan hubungan antar manusia modern tidak hanya berada di dunia nyata saja tetapi keberadaan ruang maya menjadi sebuah keniscayaan. Eksistesi cyber sosiety tentunya merupakan bagian tak terpisahkan dari peran media baru yang menjadi ruang hidupnya. Dimana tentunya kehadiran entitas baru ini punya perbedaan dengan kelompok kelompok masyarakat sebelumnya. Bahkan perbedaan tersebut sangatlah jelas dan terasa. Karena dizaman ini, dunia nyata hampir hampir sudah tergantikan dengan dunia maya atau cyber spacy. Kehidupan Cyber society sudah tidak lagi terhalang oleh jarak dan waktu. Dari sinilah babak baru kehidupan dimulai, dimana semua info dan berita bahkan kebutuhan hidup bisa diakses dengan mudah oleh semua orang tanpa ada sekat dan pengahalang. Dalam tulisan ini penulis memaparkan tentang peran media baru dalam membentuk cyber sosiety atau masyarakat maya. Dimana kehadiran media baru telah merubah tatanan kehidupan seluruh masyarakat dunia.Yaitu sebuah wajah baru yang dengan kecanggihannya mampu menerobos dan merobohkan tembok tatanan kehidupan sebelumnya. Semua manusia diajak untuk hidup dalam ruang maya yang penuh dengan kemudahan dan kecanggihan. Dari pembahasan yang disajikan, penulis menyimpulkan bahwa hadirnya media baru sangat berperan penting dalam lahirnya cyber society. Karena tanpa media baru dengan serba serbi didalamnya khsuusnya media sosial akan sangat mustahil kiranya cyber soaiety bisa terbentuk. Kehadiran cyber society menjadi sebuah wajah baru bagi tatanan kehidupan umat manusia. Tentunya tanpa menghilangkan tatanan kehidupan masyarakat sebelumnya. Dari sinilah babak baru sebuah tatanan kehidupan masyarakt dimulai.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MEDIA DAKWAH DI ERA GLOBALISASI Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 12 No 1 (2023): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v12i1.649

Abstract

Kemajuan zaman menuntut agar aktivitas dakwah mampu mengikuti perkembangan kemajuan dan kecanggihan teknologi. Maksudnya adalah bahwa aktivitas dakwah harus ikut hadir dan mewarnai dalam kehidupan dunia media modern seeperti media televisi, radio, media cetak maupun kecanggihan internet dan serba serbi di dalamnya. Sudah menjadi keniscayaan bahwa di era yang serba canggih seperti sekarang ini, untuk mencapai dakwah yang efektif maka diperlukan media. Dimana hal ini merupakan salah satu wujud dari starategi dan metode dakwah di era keterbukaan informasi. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana perkembangan khususnya kelebihan dan kelemahan media dakwah di era globalisasi. Tujuan penelitian adalah untuk meneropong perkembangan, kelebihan dan kelemahan media dakwah di era global. Dalam penelitian ini juga dipaparkan dengan jelas kondisi media dakwah sebelum era global yang serba canggih. Dimana relaita media dakwah saat itu bisa dibilang sangat sederhana bila dibandingkan dengan kondisi sekarang ini. Hasil simpulan dari penelitian ini adalah dakwah sebagai salah satu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan pada kemajuan yang semakin canggih dan tidak terlepas dari adaptasi terhadap kemajuan. Artinya dakwah dituntut agar tidak monoton pada ceramah-ceramah di masjid atau tabligh akbar. Saat ini, dakwah harus dikemas lebih menarik sebagai bagaian dari mengikuti perkembangan kemajuan dan kecanggihan zaman. Begitu pula realita media dakwah baik itu berupa media cetak maupun elektronik masing masing dijabarkan dengan jelas baik itu kelebihan maupun kelemahannya.
TANTANGAN MEDIA DAKWAH DI ERA GLOBAL Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 12 No 2 (2024): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v12i2.707

Abstract

Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi, penyebaran dakwah islamiyah bisa dilakukan melalui media modern yang canggih. Media tersebut meliputi media televisi, radio, media cetak maupun internet. Sehingga untuk lebih mengefektifkan kegiatan dakwah maka diperlukan sebuah media yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kondisi tersebut adalah sebuah wujud keseriusan para penggiat dakwah dalam menyiarkan Islam di era global. Terkait hal tersebut maka peneliti mengangkat sebuah tema bagaimana perkembangan dan tantangan media dakwah di era globalisasi seperti sekarang ini Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan dan tantangan media dakwah di era globalisasi. Adapun metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dengan kajian yang mendalam dan dengan literatur yang relevan serta sesuai dengan tema bahasan harapannya akan tersaji sebuah gambaran secara detail bagaimana perkembangan dan tantangan dakwah di era global. Sehingga bisa dijadikan sebagai tambahan referensi baru terkait dengan pembahasan tantangan dakwah di era global. Adapun simpulan dari penelitian ini adalah kegiatan dakwah sebagai kunci utama tersebarnya agama Islam harus dikemas dan disajikan dengan strategi penyampaian yang bisa mengikuti perkembangan di era global. Sehingga aktivitas dakwah tidak hanya monoton pada ceramah-ceramah di masjid atau tabligh akbar yang sifatnya konvensional. Saat ini, dakwah harus menggunaan media dakwah modern. Begitu juga dalam hal konten dakwah harus menarik dan mampu masuk ke semua kalangan mulai anak anak sampai usia senja. Dalam simpulannya penelitian ini menyajikan tantangan media dakwah baik media cetak, elektronik dan madia online.
MEDIA DAKWAH CYBER SOCIETY Alim Puspianto
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 13 No 1 (2024): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v13i1.782

Abstract

Kemajuan teknologi telah menghantarkan perubahan dalam segala aspek kehidupan manusia. Bahkan sampai melahirkan sebuah masyarakat baru yang bernama cyber society atau masyarakat maya. mereka sangat terbuka dengan perubahan dan kemajuan yang ada. Mereka punya karakteristik dan life style yang berbeda dengan masyarakat biasa. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya lebih mengandalkan media media modern yang serba canggih dan instan sebagai solusinya. Termasuk di dalamnya adalah pemenuhan informasi tentang pengtahuan keagaamaan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa keanekaragaman dan karateristik masyarakat yang berbeda membuat media dakwah yang dipakai oleh seorang dai menjadi berbeda pula. hal ini dilakukan agar nilai nilai Islam bisa tersampaikan secara efektif kepada mad’u. Terkhusus dakwah di kalangan cyber society atau masyarakat maya akan sangat berbeda dengan dakwah di masyarakat pada umumnya. Dalam tulisan ini penulis membahas tentang media dakwah cyber society atau masyarakat maya. Dimana pada umumnya cyber society adalah masyarakat berpendidikan, mapan dan memiliki gaya hidup yang serba modern. Hal itu menjadikan mereka cenderung individualis. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi menjadikan wawasan mereka luas dan rasional. Sehingga seorang dai yang berdakwah dikalangan mereka harus memiliki kemampuan yang cukup. Baik itu kemampuan terkait keilmuan secara umum maupun kemampuan dan penguasaan media dakwah sesuai dengan “tempat tinggal” cyber society. Adapun simpulan dari tulisan ini diantaranya adalah media dakwah untuk cyber society perlu menggunakan media yang mereka sudah terbiasa dan familar dengannya. Diantaranya yaitu dengan menggunakan media modern yang berupa dakwah lewat media massa, media social dan serba serbi yang ada di dalam alam maya dengan kecanggihan yang menyertainya. Misalnya seperti televisi, dakwah lewat media radio, situs web, youtube, instagram, tiktok, facebook, X dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan karena hampir seluruh aktifitas masyarakat maya atau cyber society sangat erat kaitannya dengan media tersebut. Lebih khusus lagi yaitu dakwah lewat media media sosial dan serba serbi di dalamnya. Selain itu juga kegiatan dakwah untuk masyarakat maya harus dibuat semenarik mungkin. Baik itu terkait masalah performance, pemilihan tempat dan tidak kalah penting adalah media yang digunakan dalam berdakwah. Semuanya kegiatan dakwah harus dikemas atau diseting agar layak dan menarik untuk dinikmati di media maya. Dengan begitu diharapkan kegiatan dakwah akan tetap efektif dan bisa diterima oleh cyber society atau mayarakat maya.