Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ANALISIS DATA SEISMIK GELOMBANG PERMUKAAN PADA LAPISAN ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE SASW (SPECTRAL ANALYSIS OF SURFACE WAVE) Yudi Pranoto
JURNAL INERSIA Vol. 8 No. 2 (2016): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Spectral Analysis of Surface Wave (SASW) merupakan salah satu pengujian di lapangan yang tidak merusak, cepat, akurat dan ekonomis yang sedang dikembangkan penggunaannya dalam memperkirakan dan menilai kekuatan suatu struktur. Metode ini dibangun berdasarkan sifat perambatan gelombang rayleigh pada media yang berlapis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai kecepatan gelombang geser dan modulus elastisitas perkerasan jalan menggunakan metode SASW pada jalan lama, baru dan jalan yang telah dioverlay. Metode SASW mengandung tiga bagian utama yaitu pengambilan data lapangan, analisis data spektrum untuk pembuatan kurva dispersi kecepatan gelombang Rayleigh terhadap panjang gelombang dan proses inversi untuk membentuk kurva kecepatan gelombang geser terhadap kedalamannya. Dari hasil analisis pada profil kecepatan gelombang geser dan modulus elastisitas terhadap kedalamannya pada perkerasan jalan baru, jalan lama dan jalan yang telah dioverlay diperoleh nilai kecepatan gelombang geser masing masing 685,5146 m/dt, 777,1562 m/dt dan 832,0904 m/dt. Sedangkan nilai modulus elastisitas masing masing 2678,177 Mpa, 5123,997 Mpa dan 3765,418 Mpa.
ANALISA STRUKTUR JEMBATAN PENDEKAT PULAU BALANG KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA (STUDI KASUS ANALISA KEKUATAN JEMBATAN SEGMEN III) Pradita, Rahayu; Tumingan; Pranoto, Yudi
JURNAL INERSIA Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perhitungan analisa struktur Jembatan pendekat Pulau Balang Kabupaten Penajam Paser Utara ini merupakan perhitungan dari segi kekuatan pada struktur atas (PCI girder) dan struktur bawah ( pilar dan fondasi). Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada dengan menggunakan dimensi, penulangan, mutu bahan, serta kondisi tanah di lingkungan sekitar lapangan yang sesuai dengan perencanaan asli di lapangan didapatkan bahwa struktur atas (PCI girder) dan struktur bawah (pilar K4 dan fondasi tiang bor pile) Jembatan Pendekat Pulau Balang segmen III telah memenuhi syarat keamanan dan layak untuk digunakan.
ANALISIS PERBANDINGAN STRUKTUR RANGKA BAJA BUKAKA DAN SNI DENGAN PEMODELAN TEKLA PADA JEMBATAN BETAPUS SAMARINDA Putri, Adella Elysa; Pranoto, Yudi; Tumingan
JURNAL INERSIA Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pemilihan struktur atas merupakan hal yang paling utama sebelum mendesain jembatan. Diperlukan struktur yang efektif dan efisien dalam perencanaannya. Analisis ini membahas mengenai perbandingan struktur atas rangka baja tipe warren truss kelas A dengan bentang 50 m PT. Bukaka dan standard SNI yang ditinjau dari segi kekuatan dan berat kebutuhan material. Analisa pembebanan menggunakan software SAP 2000 yang mengacu pada peraturan SNI 1725:2016 sedangakan pemodelan dan perhitungan berat material menggunakan software Tekla. Analisa komponen struktur rangka baja mengacu pada peraturan RSNI T-03-2005. Hasil yang diperoleh dari studi ini adalah jembatan rangka baja PT. Bukaka memiliki nilai lendutan yang lebih kecil pada kombinasi momen terbesar dibandingkan dengan jembatan SNI. Rasio keamanan masing-masing komponen meliputi batang tarik, tekan, aksial lentur serta sambungan rangka baja PT. Bukaka dan SNI memiliki perbandingan yang sama. Untuk berat kebutuhan material rangka baja PT. Bukaka lebih ringan disbanding dengan rangka baja SNI.
KAJIAN EKSPERIMENTAL DINDING BATATON TERHADAP BEBAN LATERAL SIKLIK Pranoto, Yudi
JURNAL INERSIA Vol. 6 No. 1 (2014): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gempa yang belakangan ini sering terjadi di wilayah Indonesia banyak mengakibatkan kegagalan struktur, dimana persentase kerusakan terbesar adalah rumah-rumah sederhana berdinding bata atau batako. Rumah-rumah di Indonesia pada umumnya menggunakan bata dan batako sebagai bahan utama pembuatan dinding. Dalam pelaksanaanya seringkali kualitas strukturnya kurang memiliki kinerja yang memadai dalam menahan beban gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik berbagai macam dinding rumah tembokan. Untuk mengetahui karakteristik model kerusakan dinding yaitu meliputi hubungan beban-simpangan, pola retak, kekakuan dan daktilitas, maka dalam penelitian ini digunakan dinding dengan ukuran 3000x3000x140 mm yang meliputi dinding tanpa bukaan (Wall Without Opening, WTO) dan dinding dengan bukaan (Wall With Opening, WWO) yang terbuat dari bahan bataton. Metode pembebanan dilakukan dengan beban bolak-balik untuk memodelkan beban gempa yang mengacu pada standar ACI 374.1-05 (American Concrete Institute). Dari hasil penelitian, didapatkan Ppeak yang terjadi pada benda uji WTO sebesar 71,08 kN lebih besar 34,93 % dari benda uji WWO yaitu 46,25 kN. Simpangan yang terjadi pada saat Ppeak benda uji WTO sebesar 3,93 mm lebih kecil 30,69 % dari benda uji WWO yang memiliki simpangan sebesar 5,67 mm.
PEMANFAATAN SERBUK KAYU LOKAL KALIMANTAN DAN PASIR MAHAKAM SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BATAKO KOMPOSIT MORTAR SEMEN Pranoto , Yudi; Octavia, Cisyulia
JURNAL INERSIA Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serbuk kayu adalah limbah organik yang merupakan bahan sisa hasil penggergajian yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai daerah penghasil kayu tentunya kalimantan memiliki limbah kayu yang cukup besar. Apabila hal ini tidak dicarikan solusi penanganannya tentunya akan menyebabkan masalah lingkungan, karena limbah gergaji membutuhkan ruang untuk pembuangan. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai bahan bangunan dengan memanfaatkan serbuk kayu yang memberikan hasil semakin besarnya penggunaan serbuk kayu pada campuran menjadikan bahan bangunan semakin lebih ringan, akan tetapi kekuatannya semakin rendah. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kekuatan batako yaitu dengan memberikan komposit pada lapisan luar keliling batako. Proses pembuatan batako terdiri dari dua tahapan, tahapan pertama dengan meletakan campuran beton ringan serbuk kayu, kemudian dilanjutkan dengan tahapan yang kedua yaitu dengan memberikan lapisan mortar semen dengan variasi ketebalan 2 cm, 3 cm dan 4 cm. Hasil penelitian didapat kenaikan kuat tekan batako komposit mortar semen pada keliling batako dengan ketebalan mortar semen masing masing 2 cm, 3 cm dan 4 cm dihasilkan berturut-turut adalah 1,25 MPa, 1,56 MPa dan 1,94 MPa untuk batako serbuk kayu ulin, 0.91 Mpa, 1,26 Mpa dan 1,1 Mpa untuk batako serbuk kayu galam sedangkan untuk batako serbuk kayu kapur masing masing 0,42 Mpa, 0,78 Mpa, dan 0,93 Mpa. Berat jenis untuk untuk kayu ulin rata-rata adalah 362,6 kg, bataton kayu galam adalah 328,3 kg sedangkan untuk kayu kapur 308,7 kg.
PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH TANAH GARDU INDUK 150 KV KECAMATAN TENGGARONG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR Wahyudi, Sopyan; Prihatin, Kukuh; Pranoto, Yudi
JURNAL INERSIA Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Inersia
Publisher : POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan dinding penahan tanah (DPT) di Kelurahan Timbau Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi memiliki lereng yang terindikasi terjadi longsor.Perhitungan ini bertujuan untuk menentukan tipe DPT yang sesuai,menentukan dimensinya,menghitung stabilitas geser, stabilitas guling, stabilitas daya dukung tanah, stabilitas kelongsoran,tiang bor serta menghitung penulangannya.Perhitungan stabilitas lereng menggunakan metode irisan Fellinius (1927), koefesien tekanan tanah menggunakan teori Coulomb, daya dukung tanah menggunakan teori Terzaghi (1943), perhitungan tiang bor menggunakan metode Meyerhof (1976;1983) dan penulangan menggunakan SNI 03-2847-2002.Ketinggian lereng mencapai 9,4 meter, maka DPT tipe kantilever dengan model trap dengan dimensi trap 1, H = 6,0 m, B = 4,2 m dan D = 0,6 m dan dimensi trap 2, H = 6,0 m, B = 4,2 m dan d = 0,6 m. Didapatkan nilai trap 1 yaitu FKgeser = 1,512 ; FKguling = 1,838; FKDDT = 2,778 dan Didapatkan nilai trap 2 yaitu FKgeser = 1,507 ; FKguling = 1,899 ; FKDDT =2,844.Digunakan pondasi tiang bor untuk memperkuat daya dukung tanahnya dengan diameter trap 1 = 0.4 m dengan panjang = 8 m dan diameter trap 2 = 0.4 m, dengan panjang = 4 m. Bahan material yang digunakan adalah beton bertulang untuk kedua trap dengan tulangan momen D22 mm dan tulangan bagi D13.
PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH BOTOL KACA SEBAGAI SUBTITUSI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN DAN LENTUR BETON Yudi Pranoto; Yunita Wulan Dari; Mohammad Hidayat
JURNAL REKAYASA Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal REKAYASA
Publisher : Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah botol kaca merupakan bahan anorganik yang tidak dapat terurai secara alami dan dapat membahayakan manusia. Oleh karena itu, diperlukan inovasi untuk mengurangi limbah botol kaca dengan memanfaatkan limbah botol kaca yang ada sebagai bahan campuran beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi limbah botol kaca dan persentase maksimum limbah botol kaca terhadap kekuatan tekan dan lentur beton. Mutu beton yang direncanakan adalah f’c 20 MPa. Variasi limbah botol kaca yang digunakan adalah 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 7 dan 28 hari. Sedangkan, pengujian kuat lentur beton dilakukan pada umur 28 hari. Dari hasil pengujian diperoleh nilai kuat tekan dan lentur maksimum untuk beton umur 28 hari dengan variasi limbah botol kaca 20% sebesar 15,015 MPa untuk kuat tekan dan 3,597 MPa untuk kuat lentur. Subtitusi limbah botol kaca dapat meningkatkan kuat tekan dan lentur sebesar 15,25% dan 41,55%.
STUDI KUAT LENTUR BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT ABAKA Yudi Pranoto; Lina Halim; Anung Sudibyo
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v11i1.364

Abstract

Abstrak Serat abaka merupakan serat yang awet dan lentur yang diambil dari pohon pisang. Serat ini masih sangat jarang dimanfaatkan, sementara di Indonesia serat abaka bisa ditemukan di mana mana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh serat abaka terhadap kuat lentur beton. Penelitian ini diawali dengan studi literature, pengujian material (Agregat halus, agregat kasar, semen dan serat abaka), mix design beton, pembuatan benda uji, perawatan dan dilanjutkan dengan pengujian kuat lentur beton serta terakhir dilakukan analisis hasil pengujian. Dari hasil pengujian didapatkan kuat lentur maksmum terjadi pada kadar serat abaka sebesar 0,6% dengan kuat lentur 3,75 MPa, sedangkan kuat lentur terkecil terjadi pada kadar serat abaka 0% dengan kuat lentur 3,34 MPa. Kata kunci: serat abaka, kuat lentur, mix deisgn  Abstract Abaca fiber is a durable and flexible fiber taken from the banana tree. This fiber is still very rarely used, while in Indonesian abaca fiber can be found everywhere. The purpose of this study was to determine the extent of the influence of abaca fiber on the flexural strength of concrete. This research begins with literature studies, material testing (fine aggregate, coarse aggregate, cement, and abaca fiber), concrete mix design, manufacture of test objects, curing, and continues with concretes flexural strength testing and finally an analysis of the test results. From the test results, it founded that the maximum flexural strength occurred at the abaca fiber content of 0.6% with a bending strength of 3.75 MPa, and the smallest flexural strength occurred at 0% abaca fiber content with a flexural strength of 3.34 MPa. Keywords: Abaka fiber, flexural strength, mix design