Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Case Report pada Akseptor Baru Kontrasepsi Suntik Progestin dengan Efek Samping Spotting di PMB M Klampis Bangkalan Animmunifah; Esyuananik; Rodiyatun; Siti Anisak
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.264

Abstract

Kontrasepsi suntik progestin merupakan salah satu metode kontrasepsi hormonal yang banyak digunakan karena memiliki efektivitas tinggi, praktis, dan mudah diterapkan. Namun, penggunaan kontrasepsi ini dapat menimbulkan efek samping, salah satunya adalah spotting atau perdarahan bercak di luar siklus menstruasi, terutama pada akseptor baru. Kondisi tersebut sering menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran sehingga dapat memengaruhi keberlanjutan penggunaan kontrasepsi. Laporan tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan pada akseptor baru kontrasepsi suntik progestin yang mengalami spotting melalui pendekatan manajemen asuhan kebidanan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan kebidanan yang meliputi pengkajian, diagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Subjek dalam laporan ini adalah seorang akseptor baru kontrasepsi suntik progestin berusia 28 tahun yang mengalami spotting. Asuhan diberikan sebanyak tiga kali kunjungan pada bulan Juni 2026 di PMB Musdalifah Klampis Bangkalan. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dokumentasi, dan evaluasi perkembangan kondisi klien. Hasil asuhan menunjukkan bahwa klien mengalami spotting setelah penggunaan kontrasepsi suntik progestin disertai kecemasan, dengan kondisi umum, tanda-tanda vital, dan kadar hemoglobin dalam batas normal. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi mengenai efek samping kontrasepsi, dukungan emosional, edukasi personal hygiene, konseling pemenuhan gizi seimbang, kolaborasi pemberian pil kombinasi selama tujuh hari, serta pemantauan kondisi klien. Setelah tiga kali kunjungan, spotting berhasil teratasi, kecemasan berkurang, dan klien memutuskan untuk tetap melanjutkan penggunaan kontrasepsi suntik progestin. Kesimpulannya, asuhan kebidanan komprehensif melalui edukasi, konseling, dukungan emosional, kolaborasi terapi, dan pemantauan berkala efektif dalam mengatasi spotting pada akseptor baru kontrasepsi suntik progestin serta meningkatkan pemahaman dan kepatuhan klien terhadap penggunaan kontrasepsi.