Ficki Padli Pardede
Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Tebing Tinggi, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementation of Deep Learning-Based Gamification in Strengthening Islamic Cultural History Literacy at MAN Lima Puluh Listari Basuki; Ficki Padli Pardede
Continuous Education: Journal of Science and Research Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/ce.v7i2.3680

Abstract

Islamic Cultural History (SKI) learning in digital classrooms still tends to emphasize memorization, generate boredom, and use technology in ways that do not yet fully encourage historical meaning-making. This study aims to analyze the implementation of deep learning-based gamification in strengthening SKI literacy in the X-2 Digital class at MAN Lima Puluh, Batu Bara Regency. The study employed a qualitative approach with a single-case study design. Informants were purposively selected from the SKI teacher and students. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation in the form of teaching modules, gamification media, assignments, and students’ reflections; the data were then analyzed thematically through condensation, display, and conclusion drawing and verification. Data credibility was maintained through source and technique triangulation and confirmation with informants. Preliminary findings indicate that the integration of points, badges, leaderboards, levels, challenges, and feedback can organize the learning process from factual mastery toward cause-and-effect analysis, contextual meaning-making, communication of results, and reflection on historical lessons (ibrah). Gamification supports meaningful, mindful, and joyful learning when rewards are given for the quality of arguments, contributions, answer revisions, and collaboration, rather than only for speed or ranking. However, individual leaderboards, network limitations, an orientation toward pursuing points, and weak evaluation of source credibility can limit the depth of literacy. The novelty of the study lies in the operational integration of gamification elements, three deep learning principles, and four dimensions of SKI literacy. These findings emphasize the need for inclusive, reflective, and source-based gamification design.
PERAN PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL PADA PESERTA DIDIK DI MAN 1 MEDAN Nurul Ulya; Ficki Padli Pardede; Lasmaroha Sitompul
PENDALAS: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): PENDALAS
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam dan Multikultural

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/pendalas.v6i3.866

Abstract

Perkembangan emosional merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik mengelola emosi, berinteraksi sosial, menghadapi tekanan, dan membangun kematangan kepribadian. Pendidikan Islam memiliki potensi strategis dalam mendukung perkembangan tersebut melalui internalisasi nilai-nilai religius, khususnya sabar, syukur, dan pembiasaan salat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pendidikan Islam dalam perkembangan emosional peserta didik di Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan serta memahami pemaknaan informan terhadap nilai sabar, syukur, dan salat dalam kehidupan peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi Alfred Schutz. Informan dipilih secara purposif dan melibatkan wali kelas, guru Pendidikan Agama Islam, guru Bimbingan Konseling, serta peserta didik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam berperan dalam membangun ketenangan, pengendalian diri, disiplin, tanggung jawab, dan kematangan emosional. Nilai sabar membantu peserta didik mengelola frustrasi dan perilaku impulsif, syukur mendorong ketenangan serta penerimaan diri, sedangkan salat dimaknai sebagai praktik spiritual yang mendukung disiplin dan regulasi emosi.
STRATEGI PEMBELAJARAN NILAI AGAMA DAN MORAL MELALUI METODE BERCERITA Lasmaroha Sitompul; Ficki Padli Pardede; Nurul Ulya
PENDALAS: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): PENDALAS
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam dan Multikultural

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/pendalas.v6i3.867

Abstract

Pembentukan nilai agama dan moral pada peserta didik menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan meningkatnya persoalan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut strategi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan nilai secara kognitif, tetapi juga mampu menyentuh aspek afektif dan perilaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pembelajaran nilai agama dan moral melalui metode bercerita, meliputi perencanaan, pelaksanaan, penguatan, serta implikasinya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan. Data diperoleh dari buku ilmiah, artikel jurnal nasional dan internasional, serta literatur relevan mengenai pendidikan karakter, perkembangan moral, dan metode bercerita. Data dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi, analisis isi, sintesis tematik, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode bercerita memiliki potensi pedagogis dalam menginternalisasikan nilai agama dan moral melalui pengintegrasian aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Strategi yang efektif mencakup pemilihan cerita sesuai perkembangan peserta didik, penggunaan media yang menarik, penyampaian interaktif, diskusi reflektif, keteladanan, dan penguatan perilaku positif. Metode bercerita juga berpotensi mengembangkan empati, penalaran moral, tanggung jawab, serta kepedulian sosial peserta didik.